    {"id":936,"date":"2018-03-18T09:40:40","date_gmt":"2018-03-18T02:40:40","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=936"},"modified":"2019-01-22T09:03:10","modified_gmt":"2019-01-22T02:03:10","slug":"mari-mengenal-upacara-teh-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2018\/03\/mari-mengenal-upacara-teh-jepang\/","title":{"rendered":"Mari Mengenal Upacara Teh Jepang!"},"content":{"rendered":"<p><em>Penulis : Aditya Ekadima Hermawan<br \/>\nNIM : 2001591842<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-937\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu1.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"246\" \/><br \/>\n<\/a>Halo kawan &#8211; kawan! Ngomong-ngomong kalian suka meminum teh? Jika suka, mungkin kalian bisa mempraktikkan kegiatan yang bakal dijelaskan nih. Jadi seperti di Inggris, Jepang juga punya budaya meminum teh yang sudah mengakar sejak zaman dahulu. Bahkan saking kentalnya kebudayaan ini, ada upacara yang khusus berfokus pada meminum teh loh, namanya adalah <em>chanoyu<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kata <em>chanoyu<\/em> sendiri itu berarti air panas untuk teh. Tapi kok bisa kata tersebut diasosiasikan dengan upacara minum teh? Jadi budaya meminum teh Jepang ini muncul seraya dengan masuknya agama Buddha di Jepang. Ajaran agama Buddha saat itu mengajarkan meditasi sebagai bentuk keseimbangan jiwa dan ketenangan hati yang tercermin dalam <em>chanoyu<\/em>. Karena peserta upacara dalam <em>chanoyu<\/em> diharapkan untuk tenang serta bersikap anggun. Hmm&#8230; menarik ya, kawan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-939\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu3.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"165\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jadi seperti apa sih <em>chanoyu<\/em> itu? Dahulu, <em>chanoyu<\/em> diadakan untuk menyambut tamu spesial atau memang sekedar mengadakan pertemuan biasa. Namun zaman sekarang, sudah banyak jasa menyediakan Upacara <em>chanoyu<\/em> di Jepang bagi orang-orang yang ingin merasakan sensasi upacara tersebut. D<span>alam upacara ini, teh disiapkan oleh seorang ahli khusus dan disajikan untuk sekelompok kecil orang dengan tata cara tertentu. D<\/span><span>ibutuhkan pengetahuan mendalam tentang tipe teh, kimono, kaligrafi Jepang <em>(shodo)<\/em>, <em>ikebana<\/em> dan berbagai pengetahuan tradisional lain untuk mendekorasi\u00a0<em>chasitsu<\/em><i>\u00a0<\/i>(ruangan <em>chanoyu<\/em>)\u00a0serta menjadi seorang ahli <em>chanoyu<\/em>. Kemudian\u00a0<\/span><span>bagi orang-orang yang ingin menjadi peserta dalam <em>chanoyu<\/em> pun juga dianjurkan memiliki pengetahuan etika yang berlaku dalam upacara ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-938\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/03\/chanoyu2.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"201\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">Prosesinya sendiri seperti apa? Nah, mungkin bagian ini yang paling kalian tunggu-tunggu. Pada <\/span><em style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">chanoyu<\/em><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\"> ini pelaksaan upacara diadakan dengan duduk bersimpuh, loh. Pertama-tama para tamu masuk kedalam<\/span><i style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">\u00a0<\/i><em style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">chasitsu<\/em><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">\u00a0untuk makan makanan manis yang dibungkus kertas khusus. Sehabis makan, Ahli <\/span><em style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">chanoyu<\/em><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\"> menyiapkan teh untuk diminum bersama. Ketika teh sudah siap, teh dituang kedalam mangkuk teh dan disajikan ke tamu pertama. Tamu pertama pun meminum sedikit teh tersebut dan dilanjutkan ke tamu kedua. Prosesi tersebut terus berlangsung sampai tiba giliran tamu terakhir untuk meminum tehnya. Nah jangan salah kawan, teh dalam <\/span><em style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">chanoyu<\/em><span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\"> ini pahit sekali. Sehingga dalam berlangsungnya upacara juga disediakan makanan kecil manis untuk menetralkan rasa pahit tersebut. Jangan lupa, disela-sela prosesi minum para tamu dianjurkan untuk mengagumi mangkuk teh yang digunakan karena biasanya mangkuk-mangkuk tersebut dibuat langsung oleh seorang Ahli Chanoyu-nya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px\">Sekian deh artikel kali ini. Apa kalian tertarik mengadakan <\/span><em style=\"font-size: 14px\">chanoyu<\/em><span style=\"font-size: 14px\">? Semoga menambah pengetahuan kalian dan sampai jumpa!<\/span><\/p>\n<div><\/div>\n<div>Sumber:<\/div>\n<div>https:\/\/www.nippon.com\/en\/features\/jg00079\/<br \/>\nhttps:\/\/matcha-tea.com\/matcha\/the-secret-meaning-of-traditional-japanese-tea-ceremony#<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis : Aditya Ekadima Hermawan NIM : 2001591842 Halo kawan &#8211; kawan! Ngomong-ngomong kalian suka meminum teh? Jika suka, mungkin kalian bisa mempraktikkan kegiatan yang bakal dijelaskan nih. Jadi seperti di Inggris, Jepang juga punya budaya meminum teh yang sudah mengakar sejak zaman dahulu. Bahkan saking kentalnya kebudayaan ini, ada upacara yang khusus berfokus pada [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":937,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-936","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/936","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=936"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/936\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":941,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/936\/revisions\/941"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=936"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=936"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=936"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}