    {"id":850,"date":"2018-02-25T10:01:46","date_gmt":"2018-02-25T03:01:46","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=850"},"modified":"2019-01-22T09:03:25","modified_gmt":"2019-01-22T02:03:25","slug":"wagashi-si-manis-dari-jepang-yang-mempesona-lidah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2018\/02\/wagashi-si-manis-dari-jepang-yang-mempesona-lidah\/","title":{"rendered":"Wagashi: Si Manis dari Jepang yang Mempesona Lidah"},"content":{"rendered":"<p><em>Penulis: Julia<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Mina-san<\/em>, tahukah kalian bahwa biasanya, salah satu yang menjadi daya tarik turis untuk mengunjungi sebuah negara adalah makanan tradisional yang mereka miliki? Jika kita melihat negara kita sendiri, Indonesia, banyak turis yang datang kemari tidak akan melewatkan kuliner-kuliner tradisional yang ada, misalnya seperti rendang, sate, dan lain-lain. Tidak terbatas pada makanan berat, banyak pula turis yang mencoba berbagai makanan manis tradisional yang kita miliki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sama seperti Indonesia, Jepang juga memiliki makanan manis tradisional. Salah satunya ialah mochi, si kue kenyal dari tepung beras yang biasanya diisi oleh berbagai macam isi. Tapi kue tradisional Jepang tidaklah tertutup pada mochi saja.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Mochi merupakan salah satu <em>wagashi<\/em>! Apa itu <em>wagashi<\/em>?<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-853\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-2-640x360.jpg\" alt=\"\" width=\"294\" height=\"165\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-2-640x360.jpg 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-2.jpg 747w\" sizes=\"auto, (max-width: 294px) 100vw, 294px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Wagashi <\/em>adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan-makanan manis tradisional Jepang. Biasanya, <em>wagashi<\/em> ini dinikmati bersama teh hijau. Seperti yang kita ketahui, teh hijau asli Jepang itu pahit. Makanan manis inilah yang membantu kita dapat mencerna rasa pahit yang diberikan oleh teh tersebut. Walau begitu, <em>wagashi<\/em> saat ini tidak tertutup untuk upacara teh saja, biasanya bisa dinikmati secara umum atau sesuai musim.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika kita mendengar tentang <em>wagashi<\/em>, biasanya kata <em>anko<\/em> akan langsung terlewat di dalam benak kita. Apa sih <em>anko <\/em>itu? <em>Anko<\/em> merupakan kacang <em>azuki<\/em> yang sudah direbus, ditambahkan gula, dan ditumbuk halus (disebut <em>koshian<\/em>) atau kasar (disebut <em>tsubuan<\/em>). <em>Anko<\/em> bisa dimakan begitu saja, tapi biasanya divariasikan dengan bahan makanan lain\u2014seperti dijadikan isi <em>wagashi<\/em> atau dijadikan <em>anmitsu<\/em>. <em>Anmitsu<\/em> juga salah satu <em>wagashi<\/em>, lho!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-852\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/wagashi-3.jpg\" alt=\"\" width=\"295\" height=\"196\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Wagashi<\/em> terbagi menjadi empat kelompok, yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li style=\"text-align: justify\"><em>Namagashi<\/em> adalah <em>wagashi<\/em> yang memiliki tekstur lembut dan basah. Contohnya <em>mochi<\/em>, <em>daifuku<\/em>, dan <em>dango<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><em>Higashi<\/em> adalah kebalikan dari <em>namagashi<\/em>, yaitu <em>wagashi<\/em> bertekstur keras. Contohnya <em>senbei<\/em>.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><em>Nambangashi <\/em>adalah <em>wagashi<\/em> yang dibawa dari luar Jepang pada abad ke-16.<\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><em>Zatsugashi<\/em> adalah <em>wagashi<\/em> yang berharga lebih murah dan banyak ditemukan di jalanan.<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Wagashi<\/em> di setiap daerah berbeda dengan daerah lainnya, sehingga menciptakan berbagai macam variasi <em>wagashi <\/em>yang dapat kita rasakan jika kita berkunjung ke daerah tersebut. Karena itu, jika <em>minna-san<\/em> berkunjung ke Jepang, jangan lupa untuk mencicipi <em>wagashi<\/em> yang ada di daerah tersebut, ya! Sekian dari artikel ini, dan <em>doumo arigatou gozaimasu<\/em>!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Julia Mina-san, tahukah kalian bahwa biasanya, salah satu yang menjadi daya tarik turis untuk mengunjungi sebuah negara adalah makanan tradisional yang mereka miliki? Jika kita melihat negara kita sendiri, Indonesia, banyak turis yang datang kemari tidak akan melewatkan kuliner-kuliner tradisional yang ada, misalnya seperti rendang, sate, dan lain-lain. Tidak terbatas pada makanan berat, banyak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":851,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-850","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/850","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=850"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/850\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":854,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/850\/revisions\/854"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/851"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=850"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=850"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=850"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}