    {"id":842,"date":"2018-02-17T13:39:25","date_gmt":"2018-02-17T06:39:25","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=842"},"modified":"2019-01-22T09:03:29","modified_gmt":"2019-01-22T02:03:29","slug":"gyaru-style","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2018\/02\/gyaru-style\/","title":{"rendered":"Gyaru Style"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><em>Penulis: Dhea<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Setiap negara memiliki fashionnya masing-masing. Negara Jepang dikenal dengan negara yang memiliki <em>style fashion<\/em> yang sangat kreatif dan unik. Seiring perkembangan zaman, <em>fashion<\/em> Jepang ini menjadi sangat populer karena keunikannya tersebut. Tidak heran apabila negara lain mengikuti <em>trend fashion<\/em> nya. Bahkan, <em>style<\/em> di Jepang banyak menginspirasi desainer-desainer Internasional.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Fashion<\/em> yang sangat terkenal dari Jepang yaitu Harajuku. Harajuku sebenarnya berasal dari nama sebuah daerah di sekitar stasiun JR Harajuku, distrik Shibuya, Tokyo. Harajuku sangat dikenal sebagai tempat berkumpulnya para anak muda. <em>Fashion<\/em> Harajuku ini tidak dibatasi oleh hal atau ide apapun, jadi mereka bebas untuk bergaya seperti apa. <em>Fashion<\/em> di Jepang ini tidak hanya melihat dari gaya yang unik, melainkan dari masing-masing fashion tersebut memiliki makna tersendiri.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu fashion yang populer di Jepang adalah Gyaru. Pengertian gyaru sendiri tergantung kepada bagaimana cara mereka berdandan. Beberapa orang berpendapat bahwa gyaru adalah remaja perempuan yang berpakaian layaknya seperti orang yang menggoda. Namun sebagian lainnya mengatakan mereka adalah orang-orang yang <em>cute<\/em> dan manis.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-843\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-640x360.jpg\" alt=\"\" width=\"422\" height=\"237\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-640x360.jpg 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-768x432.jpg 768w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style.jpg 1920w\" sizes=\"auto, (max-width: 422px) 100vw, 422px\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Gyaru merupakan salah satu <em>fashion<\/em> Jepang yang muncul sejak tahun 1970. Gyaru <em>style<\/em> biasanya untuk gadis-gadis muda Jepang berusia 10 sampai 20 tahun. Gadis-gadis muda Jepang umumnya memakai hiasan aksesoris warna-warni dan <em>make-up<\/em> yang dapat memberikan kesan <em>kawai<\/em>. Mereka menggunakan <em>make-up<\/em> dengan bulu mata palsu, <em>eye-liner<\/em> hitam, dan <em>softlense<\/em> agar mata mereka terlihat lebih lebar. Gaya rambut mereka juga dicat coklat atau pirang, dan menggunakan aksesoris gelang dan kalung-kalung yang unik. Biasanya gyaru sering disebut sebagai tanda pemberontakan para kaum remaja di Jepang.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-putih.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-845 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-putih.jpg\" alt=\"\" width=\"156\" height=\"235\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada tahun 2000-an, gyaru berubah menjadi dua bagian, yaitu <em>shir<\/em><em>o gyaru<\/em> (gyaru putih) dan <em>kuro gyaru <\/em>(gyaru hitam). Gadis dengan <em>style shiro gyaru<\/em> ini masih menghargai dirinya sebagai wanita Jepang asli (berkulit putih). Mereka masih mengagumi kulit putih mereka dan tidak terpengaruh pada keinginan akan kulit hitam. Namun, dalam gaya berpakaian dan <em>make-up<\/em> nya tidak ada yang berubah. <em>Shiro gyaru<\/em> tetap tidak mengubah warna kulitnya.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-hitam.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-844\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2018\/02\/gyaru-style-hitam.jpg\" alt=\"\" width=\"260\" height=\"195\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Yang kedua, yaitu <em>kuro gyaru<\/em>. Style ini memiliki ciri kulit hitam dan sebagian besar dari mereka lebih mengenakan kaus kaki panjang, rok mini, dan <em>make-up<\/em>yang berwarna gelap. Namun belakangan ini komunitas <em>kuro gyaru<\/em> ini mulai berkurang dikarenakan mereka merubahnya dengan <em>kuro gyaru<\/em> baru yang disebut <em>yamamba.<\/em> <em>Yamamba<\/em> adalah gadis gunung yang berambut putih dan berkulit gelap. Dari gaya <em>yamamba<\/em> ini mulai muncul <em>style<\/em> baru gyaru hitam yang disebut dengan <em>afurikanba, serenba<\/em> (selebriti hitam), <em>karanba,<\/em> dan <em>marinba<\/em>.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"font-style: normal;font-weight: 400;font-family: 'Open Sans', Helvetica, Arial, sans-serif;font-size: 14px\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis: Dhea Setiap negara memiliki fashionnya masing-masing. Negara Jepang dikenal dengan negara yang memiliki style fashion yang sangat kreatif dan unik. Seiring perkembangan zaman, fashion Jepang ini menjadi sangat populer karena keunikannya tersebut. Tidak heran apabila negara lain mengikuti trend fashion nya. Bahkan, style di Jepang banyak menginspirasi desainer-desainer Internasional. Fashion yang sangat terkenal dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":843,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-842","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/842","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=842"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/842\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":848,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/842\/revisions\/848"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/843"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=842"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=842"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=842"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}