    {"id":806,"date":"2017-12-24T13:36:11","date_gmt":"2017-12-24T06:36:11","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=806"},"modified":"2019-01-22T09:04:01","modified_gmt":"2019-01-22T02:04:01","slug":"__trashed-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2017\/12\/__trashed-2\/","title":{"rendered":"Tsukimi, Indahnya Menatap Bulan"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-791 alignright\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-1-640x853.jpg\" alt=\"\" width=\"159\" height=\"212\" \/><\/a>Siapa yang suka memandang bulan? Di Jepang, ada tradisinya loh.. nama tradisi ini adalah <em>Tsukimi <\/em>(melihat bulan) atau yang biasa disebut dengan <em>Jugoya<\/em> (minggu ke lima belas). Mengapa dinamakan minggu ke lima belas? Karena menurut kalender lunar, tradisi ini jatuh tepat tanggal 15 Agustus. Namun, menurut perhitungan\u00a0<span style=\"font-size: 1em\">kalender solar, tradisi ini berubah-ubah tanggalnya diantara bulan September dan Oktober.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-792 alignleft\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-2.jpg\" alt=\"\" width=\"197\" height=\"140\" \/><\/a>Tradisi ini dikenalkan oleh Cina pada periode Heian (794-1185) dimana para bangsawan melihat bulan dari pencerminan bulan terhadap air. Tradisi ini juga dikaitkan dengan <em>susuki<\/em> (rumput gajah : <em>Miscanthus sinensis<\/em>) yang ditaruh di dalam vas, <em>dango<\/em> (kue tradisional jepang yang terbuat dari tepung beras, <em>taro, edamame, kastanye<\/em>, dan lain-lain.), serta <em>sake <\/em>(minuman fermentasi beras) yang dipersembahkan kepada bulan.<\/p>\n<p>Mengapa dalam gambar-gambar mengaitkan kelinci dengan <em>tsukimi<\/em>? Karena orang jepang percaya bahwa mereka bisa melihat kelinci didalam bulan itu. Ini sangat berkaitan dengan dongeng \u201cKelinci Bulan\u201d. Konon, ada seekor kelinci baik hati yang mengorbankan tubuhya untuk menjadi santapan pengemis yang sedang kelaparan.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-793 alignleft\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2017\/12\/Tsukimi-3.jpg\" alt=\"\" width=\"119\" height=\"125\" \/><\/a>Perayaan ini digunakan untuk menghormati musim gugur. Akan tetapi, beberapa distrik di Jepang memanfaatkan tradisi ini sebagai ucapan syukur hasil panen, dan penghormatan saudara<\/p>\n<p>yang sudah meninggal. Di beberapa kedai di Jepang, memanfaatkan tradisi ini untuk menawarkan menu-menu uniknya. Beberapa makanan diberi telur mentah di tengahnya. Bukan hanya makanan berkuah, ada juga makanan modern yang diberi telur (matang) sebagai perlambangan keindahan bulan.<\/p>\n<p>Demikian artikel mengenai <em>Tsukimi<\/em>, sekarang memandang bulan bukan hanya dari indahnya saja, melainkan kita juga mengerti makna dan tradisinya. Menurutmu, apakah ada tradisi di Indonesia yang mirip seperti ini?<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Siapa yang suka memandang bulan? Di Jepang, ada tradisinya loh.. nama tradisi ini adalah Tsukimi (melihat bulan) atau yang biasa disebut dengan Jugoya (minggu ke lima belas). Mengapa dinamakan minggu ke lima belas? Karena menurut kalender lunar, tradisi ini jatuh tepat tanggal 15 Agustus. Namun, menurut perhitungan\u00a0kalender solar, tradisi ini berubah-ubah tanggalnya diantara bulan September [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":808,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-806","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/806","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=806"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/806\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":809,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/806\/revisions\/809"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=806"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=806"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=806"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}