{"id":4905,"date":"2026-10-08T20:53:22","date_gmt":"2026-10-08T13:53:22","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4905"},"modified":"2026-10-21T00:49:31","modified_gmt":"2026-10-20T17:49:31","slug":"kepada-dia-yang-hanya-hidup-dalam-cerita-mengapa-hatiku-jatuh-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/10\/kepada-dia-yang-hanya-hidup-dalam-cerita-mengapa-hatiku-jatuh-cinta\/","title":{"rendered":"Kepada Dia yang Hanya Hidup dalam Cerita, Mengapa Hatiku Jatuh Cinta?"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/10\/kepada-dia-yang-hanya-hidup-dalam-cerita-mengapa-hatiku-jatuh-cinta\/uc_%e3%83%9e%e3%83%aa%e3%83%bc%e3%82%bf%e3%82%99%e3%83%bb%e3%82%af%e3%83%ab%e3%82%b9_%e5%85%a8%e8%ba%ab\/\" rel=\"attachment wp-att-4906\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4906\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/10\/UC_\u30de\u30ea\u30fc\u30bf\u3099\u30fb\u30af\u30eb\u30b9_\u5168\u8eab.png\" alt=\"\" width=\"401\" height=\"516\" \/><br \/>\n<\/a><\/p>\n<p>Sumber: https:\/\/en.gundam-official.com\/character\/n36iwkkzs25smr4czs8fuowk<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Minasan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">! Apakah kalian pernah memiliki karakter fiksi yang kalian cintai sepenuh hati? Meskipun dunia menganggap kalian aneh atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">halu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, tetapi kalian berani melawan dunia karena tahu cinta ini nyata. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Well<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, kalau kalian masuk jurusan ini sih, aku asumsikan kalian juga punya satu, ya, cinta tak terbalaskan seperti ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Aku juga sama kok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">guys<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Aku punya wanita yang kusayangi dan kucintai, meskipun logikaku menolaknya karena tahu ia tak nyata. Wanita itu bernama Marida Cruz dari serial Mobile Suit Gundam Unicorn. Dia adalah pilot mobile suit dari sisi Sleeves\/Neo Zeon. Dia merupakan wanita tangguh dengan masa lalu yang kelam, yang membuat hatiku tersentuh karenanya. Dia biasanya memiliki sisi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">cool-girl<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> meskipun dia bisa menunjukkan sisi hangatnya juga kepada orang terdekatnya. Dia juga alasan mengapa aku belum menyelesaikan serial Gundam Unicorn, karena dia akan kehilangan nyawanya, dan aku tidak sanggup melihatnya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">technically<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, aku pernah menamatkan Unicorn sekali, namun dulu aku tidak merasa se-<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">connected<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> itu, mungkin karena Unicorn merupakan salah satu serial Gundam pertama yang kutonton sehingga saat mencoba <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">rewatch<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> aku lebih mengerti tentang latar belakang dunianya dan apa yang dialami).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dapat aku katakan bahwa Marida Cruz adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> aku. Memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (diambil dari bahasa inggris: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wife<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">husbu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (diambil dari kata bahasa Inggris: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">husband<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) merupakan bentuk keterikatan emosional seseorang dengan karakter fiksi. Untuk orang yang telah lama berkecimpung di dunia jejepangan, maupun yang sudah tidak asing dengan hal-hal yang berbau jejepangan pasti sudah tidak asing dengan yang namanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">husbu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Lahirnya fenomena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki akar kultural yang dapat ditarik ke tahun 1990 di industri hiburan Jepang. Pada tahun itu, ekonomi Jepang mengalami penurunan sehingga satu di antara cara yang digunakan adalah mempopulerkan budaya idol. Para idol dibuat memiliki sifat lugu dan polos, bahkan menjadi cerminan perempuan sempurna. Dari sana, lahirlah fans yang fanatik kepada idola favoritnya yang menjadi cikal bakal fenomena <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (Hermawan &amp; Marciu, 2024).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Namun, tahukah kalian, bahwa hubungan semacam ini sebenarnya dapat dikategorikan sebagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">parasocial relationship<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yakni hubungan satu arah antara audiens dan figur publik. Awalnya fenomena ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara para selebritis dan penggemarnya, namun di era sekarang ini, dapat juga digunakan untuk menjelaskan hubungan dengan karakter fiksi (Adikara, 2026). Selain itu, perilaku mencintai karakter fiksi ini dapat dijelaskan dengan istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophilia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Bahkan, tidak hanya perasaan romantis, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophilia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> juga dapat melibatkan ketertarikan seksual kepada karakter fiksi. Orang yang mengalami keterikatan semacam ini kerap disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophiles<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (Halodoc, 2023).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dilansir dari Alodokter, beberapa ciri yang dapat muncul pada orang dengan keterikatan kuat terhadap karakter fiksi antara lain:\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Fantasi atau mimpi berulang tentang memiliki hubungan dengan karakter fiksi favorit<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Memiliki rasa ingin tahu berlebih terkait karakter tersebut, misal kehidupan dan sifatnya<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Cemburu apabila karakter yang disukai dipasangkan dengan karakter lain dalam cerita<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menghabiskan banyak waktu atau emosi untuk karakter fiksi tersebut hingga mengganggu aktivitas sehari-hari<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Memiliki perasaan sedih atau kehilangan ketika cerita mengenai karakter tersebut berakhir<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Penyebabnya sendiri belum sepenuhnya diketahui, namun ada beberapa faktor yang diduga berpengaruh, yakni:<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Ikatan emosional dan fantasi yang kuat<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kebutuhan akan pelarian dari dunia nyata<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kesulitan dalam interaksi sosial<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Paparan media yang berlebihan<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kemudian kita mendapatkan pertanyaan lanjutannya. Apakah memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">waifu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">husbu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sama dengan gangguan mental? Tidak bisa digeneralisir seperti itu juga, sih. Pertama, saat tulisan ini dibuat,\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophilia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri belum dianggap sebagai diagnosis resmi oleh World Health Organization (ICD-11) dan American Psychiatric Association (DSM-5). Menariknya, keterikatan kepada karakter fiksi mungkin tidak sepenuhnya berbeda dari cara manusia membangun keterikatan dalam kehidupan nyata. Karhulahti dan V\u00e4lisalo (2021) mengaitkan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophilia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">parasocial attachment<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yaitu keterikatan satu arah kepada seseorang yang tidak kita kenal secara langsung. Konsep <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">attachment<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sendiri awalnya digunakan untuk menjelaskan hubungan antara bayi dan pengasuhnya, sebelum kemudian diterapkan untuk memahami hubungan orang dewasa. Mereka juga mengemukakan bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">fictophilia<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mungkin memiliki kaitan dengan kemampuan manusia untuk berimajinasi dan melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">pretend play<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sejak masa kanak-kanak, meskipun hal ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dengan demikian, pada akhirnya, memiliki ketertarikan terhadap karakter fiksi tidak serta-merta berarti seseorang mengalami gangguan mental. Keterikatan tersebut baru perlu mendapat perhatian apabila mulai mengganggu kesehatan diri, hubungan sosial di dunia nyata, atau aktivitas sehari-hari. Perlu diingat bahwa sebaiknya tidak melakukan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">self-diagnosis <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">apabila kalian merasa adanya kesamaan ciri-ciri karena akan merugikan diri sendiri. Apabila kalian merasakan kesamaan perilaku tersebut mulai mengganggu kehidupan nyata, disarankan untuk mengkonsultasikannya dengan tenaga profesional, seperti psikiater atau psikolog.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Penulis: <span style=\"font-weight: 400\">Andira Farras Syafiq<\/span><\/p>\n<p>NIM: <span style=\"font-weight: 400\">2902728402<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Adikara, B. (2026, June 19). Fenomena \u201cWaifu\u201d dan \u201cHusbu\u201d Sebagai Bentuk Fictoseksual: Ketika Pasangan Virtual jadi Rumah Paling Ideal. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">www.jawapos.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.jawapos.com\/features\/2605150168\/fenomena-waifu-dan-husbu-sebagai-bentuk-fictoseksual-ketika-pasangan-virtual-jadi-rumah-paling-ideal\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.jawapos.com\/features\/2605150168\/fenomena-waifu-dan-husbu-sebagai-bentuk-fictoseksual-ketika-pasangan-virtual-jadi-rumah-paling-ideal<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Alodokter. (2026, February 9). Fictophilia. <\/span><a href=\"http:\/\/www.alodokter.com\"><span style=\"font-weight: 400\">www.alodokter.com<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.alodokter.com\/fictophilia\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.alodokter.com\/fictophilia<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Halodoc. (2023, December 29). Mengenal Fictophilia: Tanda-Tanda dan Cara Efektif Mengatasinya. <\/span><a href=\"http:\/\/www.halodoc.com\"><span style=\"font-weight: 400\">www.halodoc.com<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0 <\/span><a href=\"https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/mengenal-fictophilia-tanda-tanda-dan-cara-efektif-mengatasinya?srsltid=AU7gw4V2TxoZBnsstrptPKmL6uQZNiz3qjkgdZldDmS7qcuGOuIneR_T\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.halodoc.com\/artikel\/mengenal-fictophilia-tanda-tanda-dan-cara-efektif-mengatasinya?srsltid=AU7gw4V2TxoZBnsstrptPKmL6uQZNiz3qjkgdZldDmS7qcuGOuIneR_T<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hermawan, D., &amp; Marciu, R. (2024). Japanese Literature Students` Perspective on Weeaboo Who has an Imaginary Couple Waifu\/Husbando. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Lingua Cultura<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">18<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(1), 107\u2013115. https:\/\/doi.org\/10.21512\/lc.v18i1.10434<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Karhulahti, V. M., &amp; V\u00e4lisalo, T. (2021). Fictosexuality, Fictoromance, and Fictophilia: A Qualitative Study of Love and Desire for Fictional Characters. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Frontiers in psychology<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">11<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, 575427. https:\/\/doi.org\/10.3389\/fpsyg.2020.575427<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: https:\/\/en.gundam-official.com\/character\/n36iwkkzs25smr4czs8fuowk &nbsp; Minasan! Apakah kalian pernah memiliki karakter fiksi yang kalian cintai sepenuh hati? Meskipun dunia menganggap kalian aneh atau halu, tetapi kalian berani melawan dunia karena tahu cinta ini nyata. Well, kalau kalian masuk jurusan ini sih, aku asumsikan kalian juga punya satu, ya, cinta tak terbalaskan seperti ini. Aku juga sama kok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":4907,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4905","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4905","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4905"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4905\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4909,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4905\/revisions\/4909"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4907"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4905"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4905"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4905"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}