{"id":4857,"date":"2026-09-12T22:00:24","date_gmt":"2026-09-12T15:00:24","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4857"},"modified":"2026-09-12T22:00:24","modified_gmt":"2026-09-12T15:00:24","slug":"harajuku-dan-gaya-fashion-yang-nyentrik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/09\/harajuku-dan-gaya-fashion-yang-nyentrik\/","title":{"rendered":"Harajuku dan Gaya Fashion yang \u201cNyentrik\u201d"},"content":{"rendered":"<p>Apa kesan pertamamu ketika melihat gaya <i>fashion<\/i> Jepang seperti <i>gyaru, decora,<\/i> atau <i>lolita<\/i>? Nyentrik? Unik? Mencolok? Dengan warna-warna cerah yang berpadu, aksesori yang memenuhi penampilan, dan berbagai <i>style<\/i> yang khas, gaya-gaya tersebut mungkin terlihat sangat berbeda dari fashion yang biasa kita temui sehari-hari. Namun, tahukah kamu bahwa berbagai gaya tersebut memiliki satu kawasan yang menjadi ruang bagi para penggemarnya untuk berekspresi?<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Harajuku fashion sendiri bukanlah satu gaya, tetapi sebutan kolektif untuk berbagai subkultur dengan karakter, aturan, dan cara berekspresi yang berbeda-beda. Kawasan yang menjadi ruang untuk berekspresi tersebut berada di Shibuya, Tokyo, tepatnya di sekitar Stasiun Harajuku. Beberapa gaya yang sering muncul di media sosial juga berkembang di kawasan ini, seperti visual <i>kei, jirai kei,<\/i> dan lain-lain. Lalu, bagaimana Harajuku bisa menjadi tempat lahir dan berkembangnya begitu banyak gaya <i>fashion<\/i>?<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/09\/harajuku-dan-gaya-fashion-yang-nyentrik\/img_1343\/\" rel=\"attachment wp-att-4858\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4858\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/09\/IMG_1343.jpeg\" alt=\"\" width=\"800\" height=\"533\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/share.google\/LwPNyf4EMMtmHVN5b&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112613574&amp;usg=AOvVaw3MgPln_oUUVs5ovHxp-Ak7\">https:\/\/share.google\/LwPNyf4EMMtmHVN5b<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Awal Mula <i>Fashion<\/i> Harajuku<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tepat di seberang pintu keluar Stasiun Harajuku adalah Takeshita-d\u014dri yang masih menjadi tempat aktif untuk <i>fashion event<\/i>\u00a0dari beragam komunitas di Jepang. Jalan yang membentang hingga Omotesando tersebut menjadi tempat berkumpulnya berbagai gaya yang tidak terpaku pada satu warna ataupun model. Awal mula gaya Harajuku terjadi pada pertengahan abad ke-20, ketika budaya Barat mulai masuk dan memengaruhi\u00a0serta menginspirasi banyak anak muda untuk bereksperimen dengan penampilan mereka.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Berbagai majalah <i>fashion<\/i> juga membantu menyebarluaskan gaya baru ini, sehingga Harajuku kemudian lekat dengan keberagaman street <i>fashion<\/i>-nya. Keberagaman tersebut kemudian berkembang menjadi berbagai subkultur dengan ciri khasnya masing-masing. Beberapa di antaranya yaitu gaya <i>Lolita<\/i> dengan siluet feminin, rok mengembang, dan inspirasi dari busana era Victoria dan Rococo; Decora yang memenuhi penampilan dengan aksesori warna-warni; serta Gyaru yang identik dengan tampilan glamor dan <i>makeup<\/i> yang lebih mencolok. Meskipun berbeda secara visual, semuanya menunjukkan bagaimana kawasan ini menjadi ruang bagi anak muda untuk bereksperimen dan membentuk gaya mereka sendiri.<\/p>\n<h3 id=\"h.p4zsnao1p9yl\"><img decoding=\"async\" title=\"\" src=\"https:\/\/docs.google.com\/u\/0\/docs-images-rt\/ALKuztbVRo7rIagRbb75ocMpFis9YnFzrye9-Rzr0seDTxUJBByIxe7L28RLIYIce3QV72oj9FPXzNpfq1_ZRfzbSkeIKStEvyX0ELEQvdg7ymTlCKtF1nf3OLZdUFg9tKvLO1sZOzrGwLPlJQ-Pbo2uAvfX_6zPXaU1oS3StFo=s320\" alt=\"\" \/><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/09\/harajuku-dan-gaya-fashion-yang-nyentrik\/img_1344\/\" rel=\"attachment wp-att-4860\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4860\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/09\/IMG_1344.jpeg\" alt=\"\" width=\"1280\" height=\"853\" \/><\/a><br \/>\nSumber: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/share.google\/ryzNEzhEJnozUVbua&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112615093&amp;usg=AOvVaw3XzA-p1oJpKdBJLvfsx367\">https:\/\/share.google\/ryzNEzhEJnozUVbua<\/a><\/h3>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Elemen, Warna, dan Gaya Harajuku<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Berbagai gaya <i>fashion<\/i> Harajuku memang terlihat mencolok, salah satunya melalui penggunaan warna dan aksesori yang beragam. Perpaduan warna yang cerah, pastel, hingga warna gelap dapat memberikan kesan yang berbeda. Pilihan tersebut kemudian menjadi salah satu cara untuk menunjukkan <i>fashion<\/i> taste\u00a0masing-masing. Jadi, tidak heran jika warna pastel yang manis dapat ditemukan berdampingan dengan pakaian serba hitam di Harajuku, karena keduanya dapat berasal dari subkultur atau scene\u00a0yang berbeda. Perpaduan berbagai elemen tersebut juga membuat gaya Harajuku dapat terlihat mencolok dan \u201cnyentrik\u201d di mata orang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Namun, berbagai elemen dalam gaya Harajuku tidak selalu dipadukan secara asal. Cara mengombinasikan\u00a0warna, pakaian, dan aksesori merupakan bagian dari karakteristik setiap subkultur. Misalnya, satu elemen yang lebih mencolok dapat dipadukan dengan pakaian yang lebih sederhana agar penampilan tetap seimbang. Contohnya adalah penggunaan warna netral sebagai outfit base\u00a0yang dapat memberikan ruang untuk menambahkan elemen dari gaya lain. Dengan begitu, penampilan yang terlihat ramai tetap terasa saling melengkapi, baik dari segi warna, layering, maupun pemilihan aksesori.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Memahami gaya Harajuku bukan hanya tentang melihat pakaian yang dikenakan, tetapi juga bagaimana setiap elemennya dipadukan. Warna, aksesori, dan cara <i>styling<\/i>\u00a0dapat membentuk kesan yang berbeda pada suatu penampilan. Hal tersebut juga yang membuat fashion Harajuku terlihat beragam, karena satu gaya dapat memiliki banyak cara untuk dipadukan dan ditampilkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber Referensi:<\/p>\n<ul class=\"lst-kix_gy2wpjzfwhhi-0 start\">\n<li><a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/fuga-studios.com\/en\/blogs\/journal\/harajuku-fashion-subcultures?srsltid%3DAfmBOoq0kwrj3AsYT_Y8vSI_VdXbF_DPbY2N-c5LSpv2CC6wp8GynZAj&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112617101&amp;usg=AOvVaw319-mfZn2TJsCIRk8qwO8e\">https:\/\/fuga-studios.com\/en\/blogs\/journal\/harajuku-fashion-subcultures?srsltid=AfmBOoq0kwrj3AsYT_Y8vSI_VdXbF_DPbY2N-c5LSpv2CC6wp8GynZAj<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/www.strikemagazines.com\/blog-2-1\/a-brief-history-of-harajuku-culture&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112617321&amp;usg=AOvVaw3_1fcxG8zcnfrpzOiMNmjv\">https:\/\/www.strikemagazines.com\/blog-2-1\/a-brief-history-of-harajuku-culture<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/neokyo.com\/blog\/harajuku-fashion\/&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112617463&amp;usg=AOvVaw0LjJO1HNQPuPdbXhWjaoft\">https:\/\/neokyo.com\/blog\/harajuku-fashion\/<\/a><\/li>\n<li><a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/harajukustylefashion.com\/blogs\/news\/decode-the-language-of-colors-and-layers-in-harajuku-style-fashion?srsltid%3DAfmBOooyr7aOur77vIP4PD501w55JSUKgELuvmNqWporReTLg7PRrws8&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1789228112617791&amp;usg=AOvVaw3pTzXgixLjg5ecA_W7vHZi\">https:\/\/harajukustylefashion.com\/blogs\/news\/decode-the-language-of-colors-and-layers-in-harajuku-style-fashion?srsltid=AfmBOooyr7aOur77vIP4PD501w55JSUKgELuvmNqWporReTLg7PRrws8<\/a><\/li>\n<\/ul>\n<p>Penulis: <a href=\"tel:2902722273\">2902722273<\/a> &#8211; Shabrina Alfarizqy Sutarjo<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa kesan pertamamu ketika melihat gaya fashion Jepang seperti gyaru, decora, atau lolita? Nyentrik? Unik? Mencolok? Dengan warna-warna cerah yang berpadu, aksesori yang memenuhi penampilan, dan berbagai style yang khas, gaya-gaya tersebut mungkin terlihat sangat berbeda dari fashion yang biasa kita temui sehari-hari. Namun, tahukah kamu bahwa berbagai gaya tersebut memiliki satu kawasan yang menjadi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":4861,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4857","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4857","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4857"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4857\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4863,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4857\/revisions\/4863"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4861"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4857"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4857"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4857"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}