{"id":4818,"date":"2026-07-16T21:32:46","date_gmt":"2026-07-16T14:32:46","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4818"},"modified":"2026-07-16T21:32:46","modified_gmt":"2026-07-16T14:32:46","slug":"mono-no-aware-mengapa-menamatkan-gim-dapat-memberikan-rasa-hampa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/07\/mono-no-aware-mengapa-menamatkan-gim-dapat-memberikan-rasa-hampa\/","title":{"rendered":"Mono no Aware! Mengapa Menamatkan Gim Dapat Memberikan Rasa Hampa?"},"content":{"rendered":"<p>Halo <em>minasan<\/em>! Pernah gak sih kalian main gim yang bagus banget, yang saking bagusnya hingga kalian semangat banget untuk menamatkan gim tersebut \ud83e\udd29. Akan tetapi, ketika akhirnya tamat, yang dapat bukan perasaan bahagia atau senang \ud83d\ude0d, namun sunyi dan hampa \ud83d\ude36. Ketika layar menunjukkan kata \u201cThe End\u201d dan <em>Credit Scene<\/em>\u00a0pun bergulir, apakah kamu justru termenung lama di depan monitor? Alih-alih merasa senang karena berhasil menang, dada rasanya sesak, ada perasaan hampa yang aneh, dan mendadak bingung harus melakukan apa setelah ini. Kamu pun berusaha menambal kekosongan itu dengan mencari gim lain, namun perasaan itu tidak kunjung menghilang. Ada kemungkinan yang kamu rasakan itu berhubungan dengan fenomena yang disebut <em>Post-Game Depression<\/em>\u00a0(P-GD) \ud83e\udd14. Mari kita kupas pelan-pelan dalam artikel ini \ud83e\udee1!<\/p>\n<p>Kita mulai dari pertanyaan besarnya, apa itu <i>Post-Game Depression<\/i>\u00a0(P-GD)? P-GD adalah sebuah perasaan hampa setelah menyelesaikan gim yang sangat imersif (mendalam) dan penuh emosi. Fenomena yang sudah sering didiskusikan di forum-forum gim ini sayangnya sempat luput dari perhatian peneliti \ud83d\ude14. Untungnya, baru-baru ini psikolog Kamil Janowicz dari SWPS University dan Piotr Klimczyk dari Stefan Batory Academy of Applied Sciences telah menganalisis masalah ini lebih luas \ud83d\ude18. Mereka bahkan menciptakan alat ukur pertama yang bernama <i>Post-Game Depression Scale<\/i> (P-GDS)<\/p>\n<p>Berdasarkan hasil penelitian yang aku kutip dari artikel milik Bashir dan News-Medical, terdapat empat subskala yang menyatakan struktur pengalaman setelah gim tersebut tamat:<\/p>\n<ol class=\"lst-kix_hmcc3945j1ax-0 start\" start=\"1\">\n<li><i>Game-Related Ruminations<\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p>Artinya adalah kamu masih terus-menerus memikirkan tentang gim tersebut. Contoh nyatanya adalah pikiranmu masih terus terbayang-bayang oleh plot cerita, nasib para tokoh, dan dunia gim tersebut.<\/p>\n<ol class=\"lst-kix_hmcc3945j1ax-0\" start=\"2\">\n<li><i>Challenging End of Experience<\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p>Artinya kamu mengalami kesulitan untuk menerima bahwa gim telah selesai. Contoh nyatanya adalah kamu belum bisa move on\u00a0secara internal, kamu masih pengen main dan merasakan perasaan senang itu terus-menerus.<\/p>\n<ol class=\"lst-kix_hmcc3945j1ax-0\" start=\"3\">\n<li><i>Necessity of Repeating the Game<\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p>Artinya kamu memiliki keinginan kuat untuk mengulang gim itu kembali. Namun, kalau kamu main lagi dari awal, itu bukan karena mencari achievement, namun karena rindu dengan perasaan saat main pertama kali.<\/p>\n<ol class=\"lst-kix_hmcc3945j1ax-0\" start=\"4\">\n<li><i>Media Anhedonia<\/i><\/li>\n<\/ol>\n<p>Artinya untuk sementara waktu, gim, film, atau media lain terasa datar dan kurang menarik. Misalnya, setelah menamatkan sebuah gim yang sangat membekas, kamu mencoba memainkan gim lain untuk menghilangkan rasa hampa tersebut. Namun, meskipun gim baru itu sebenarnya bagus, entah mengapa rasanya tidak semenarik biasanya.<\/p>\n<p>Riset ini menyatakan juga bahwa orang yang memainkan gim bergenre RPG (role-playing game) lebih rentan terhadap P-GD. Hal tersebut disebabkan RPG memaksa kita bukan hanya untuk mengonsumsi ceritanya, melainkan juga hidup di dalam dunianya. RPG menggabungkan beberapa faktor untuk menumbuhkan keterikatan emosional:<\/p>\n<ol class=\"lst-kix_oqdl2g22jr2j-0 start\" start=\"1\">\n<li>Durasi bermain yang panjang,<\/li>\n<li>karakter yang kompleks,<\/li>\n<li>kebebasan memilih,<\/li>\n<li>interaksi sosial yang berulang,<\/li>\n<li>dan tingkat identifikasi yang tinggi terhadap avatar di gim.<\/li>\n<\/ol>\n<p>Keterikatan emosional ini membuat perpisahan menjadi lebih menyakitkan dan lebih brutal dibanding genre gim lain.<\/p>\n<p>Hmm\u2026penjelasan di atas bikin aku teringat sama salah satu konsep filosofis dalam budaya Jepang, yakni <i>mono no aware<\/i>. mono\u00a0dapat diartikan sebagai benda dan mono\u00a0dapat diartikan sebagai kesedihan, kesengsaraan, dan kepekaan. <i>Mono no aware<\/i>\u00a0dimaksudkan sebagai perasaan mendalam saat menyadari bahwa segalanya itu bersifat sementara. Oleh karena itu, segala sesuatu dalam hidup itu tidak boleh disesali, melainkan disayangi dan dihargai \ud83e\udd79.<\/p>\n<p>Terakhir, biarkan aku menutup artikel kali ini dengan potongan dari terjemahan puisi karya Tanikawa Shuntaro berjudul Ikiru:<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup di masa kini<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya isak tangis<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya canda tawa<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya amarah<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya kebebasan<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup di masa kini<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya seekor anjing yang sedang menggonggong di kejauhan<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya bumi yang sedang berputar sekarang<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya bayi yang menangis untuk pertama kalinya<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya prajurit yang sedang terluka<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya ayunan yang sedang berayun<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya waktu yang terus berjalan<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Hidup di masa kini<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya burung yang mengepakkan sayapnya<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya laut yang bergemuruh<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya siput yang merayap<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya orang yang saling mencintai<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya kehangatan tanganmu<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Artinya kehidupan<\/p>\n<p><i>So<\/i>, bagaimana <i>minasan<\/i>? Ternyata rasa hampa itu ada penjelasannya ya. Perpisahan dimanapun memang terasa berat bukan? Tapi jangan lupa minasan, <i>Don\u2019t cry because it\u2019s over, smile because it happened<\/i>. Teruslah melangkah karena kita tak punya pilihan lain selain terus hidup. Matane!<\/p>\n<p>Penulis:<\/p>\n<p>Andira Farras Syafiq<\/p>\n<p><a href=\"tel:2902728402\">2902728402<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Halo minasan! Pernah gak sih kalian main gim yang bagus banget, yang saking bagusnya hingga kalian semangat banget untuk menamatkan gim tersebut \ud83e\udd29. Akan tetapi, ketika akhirnya tamat, yang dapat bukan perasaan bahagia atau senang \ud83d\ude0d, namun sunyi dan hampa \ud83d\ude36. Ketika layar menunjukkan kata \u201cThe End\u201d dan Credit Scene\u00a0pun bergulir, apakah kamu justru termenung [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":4820,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4818","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4818","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4818"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4818\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4821,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4818\/revisions\/4821"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4820"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4818"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4818"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4818"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}