    {"id":4770,"date":"2026-05-21T20:58:10","date_gmt":"2026-05-21T13:58:10","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4770"},"modified":"2026-05-21T20:58:12","modified_gmt":"2026-05-21T13:58:12","slug":"oni-dalam-budaya-jepang-monster-menakutkan-ke-simbol-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/05\/oni-dalam-budaya-jepang-monster-menakutkan-ke-simbol-sosial\/","title":{"rendered":"Oni dalam Budaya Jepang: Monster Menakutkan ke Simbol Sosial"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-size: 14px\"><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/05\/oni-dalam-budaya-jepang-monster-menakutkan-ke-simbol-sosial\/img_8648\/\" rel=\"attachment wp-att-4771\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4771\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/05\/IMG_8648.jpeg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"213\" \/><\/a>Source : <\/span><a style=\"font-size: 14px\" href=\"https:\/\/thegate12.com\/jp\/article\/356\">https:\/\/thegate12.com\/jp\/article\/356<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam budaya Jepang, <em>Oni<\/em> adalah makhluk besar yang memiliki tanduk, kulit berwarna merah atau biru, dan membawa senjata gada besi bernama <em>kanab\u014d<\/em>.\u00a0 Ia biasanya digambarkan sebagai figure yang kasar dan menakutkan, hadir dalam cerita rakyat, pertunjukan teater, hingga festival.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Secara sejarah, gagasan tentang <em>oni<\/em> muncul dari berbagai sumber yang berbeda.\u00a0 Kepercayaan animisme Jepang yang melihat dunia penuh dengan roh, berdampak pada pendekatan penelitian dengan mempertimbangkan pengaruh Buddhisme yang membawa gagasan tentang neraka dan hukuman.\u00a0 Selain itu, cerita mengenai tindakan kriminal, orang yang diasingkan, atau individu yang dianggap berbeda dari norma juga turut membentuk gambaran tentang <em>oni<\/em>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada awalnya, <em>oni<\/em> tidak selalu memiliki bentuk tubuh yang jelas. Ia lebih seperti kekuatan yang tidak terlihat, yang bisa menimbulkan bencana atau penyakit.\u00a0 Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membayangkannya sebagai sesuatu yang nyata, yaitu cara untuk menjadikan ketakutan yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam kehidupan sosial, <em>oni<\/em> berperan sebagai sarana untuk mengontrol tingkah laku seseorang.\u00a0 Sosok ini digunakan agar orang, khususnya anak-anak, merasa takut dan akhirnya mengikuti aturan yang berlaku.\u00a0 Perannya terasa jelas dalam festival <em>Setsubun<\/em>, di mana masyarakat melempar kacang sambil mengucapkan kalimat &#8220;<em>Oni wa soto, fuku wa uchi<\/em>&#8221; yang artinya &#8220;setan keluar, keberuntungan masuk&#8221;.<\/p>\n<div class=\"mceTemp\" style=\"text-align: justify\"><\/div>\n<p style=\"text-align: justify\">Ritual ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tapi juga representasi dari upaya membersihkan diri dari sifat-sifat negatif.\u00a0 Artinya, <em>oni<\/em> tidak hanya muncul di luar tubuh manusia, tetapi juga mewakili bagian buruk dalam diri seseorang yang harus \u201cdibuang\u201d.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Oni<\/em> juga bisa diartikan sebagai representasi &#8220;yang lain&#8221; dalam masyarakat. <em>Oni<\/em> ini sering dikaitkan dengan orang asing, pemberontak, atau siapa saja yang tidak sesuai dengan aturan atau kebiasaan masyarakat.\u00a0 Melalui cara ini, masyarakat membentuk batasan yang jelas antara hal-hal yang diterima dan hal-hal yang ditolak.\u00a0 Ini menunjukkan bahwa <em>oni<\/em> bukan hanya makhluk legenda, tetapi juga cara masyarakat menciptakan aturan untuk menjaga ketertiban.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Meski sering dikaitkan dengan tindakan kriminal, <em>oni<\/em> tidak selalu digambarkan sebagai makhluk yang benar-benar jahat.\u00a0 Dalam beberapa cerita, mereka bisa menunjukkan sifat setia, menjadi pengawal, atau bahkan membantu manusia.\u00a0 Ambiguitas ini menunjukkan cara pandang Jepang terhadap moralitas yang tidak selalu jelas antara baik dan buruk.\u00a0 Kebaikan dan kejahatan tidak bisa dipisahkan secara mutlak, melainkan bergantung pada situasi dan konteks di mana hal itu terjadi.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/05\/oni-dalam-budaya-jepang-monster-menakutkan-ke-simbol-sosial\/img_8650\/\" rel=\"attachment wp-att-4773\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4773\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/05\/IMG_8650.jpeg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"215\" \/><\/a>Source : <a href=\"https:\/\/ja.ukiyo-e.org\/image\/ritsumei\/mai01k43\">https:\/\/ja.ukiyo-e.org\/image\/ritsumei\/mai01k43<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Di zaman sekarang ini, makna <em>oni<\/em> terus berkembang dan mengalami perubahan.\u00a0 Dalam anime, manga, dan video game, <em>oni<\/em> sering kali tidak hanya dianggap sebagai monster, tetapi juga dihadirkan sebagai karakter kuat, karismatik, atau bahkan sebagai tokoh utama.\u00a0 Gambar tetap dijaga, tetapi tujuannya berubah dari menjadi simbol ketakutan menjadi bagian dari budaya dan estetika populer.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-size: 14px\"><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/05\/oni-dalam-budaya-jepang-monster-menakutkan-ke-simbol-sosial\/img_8651\/\" rel=\"attachment wp-att-4774\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4774\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/05\/IMG_8651.jpeg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"180\" \/><\/a>Source : Kimetu no Yaiba Hashira Keiko Hen Episode 7<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada akhirnya, <em>oni<\/em> bukan hanya sekadar &#8220;setan Jepang&#8221;.\u00a0 Ia mencerminkan ketakutan umum masyarakat, berfungsi sebagai alat pengendalian sosial, menjadi simbol batas perilaku yang diterima, serta menggambarkan kekompleksan nilai dan etika dalam masyarakat Jepang.\u00a0 Memahami oni berarti memahami bagaimana budaya membentuk, mengelola, dan menafsirkan gagasan tentang kejahatan dan penyimpangan bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Penulis : Bernard Reginald Tansa (2902635765)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Source : https:\/\/thegate12.com\/jp\/article\/356 Dalam budaya Jepang, Oni adalah makhluk besar yang memiliki tanduk, kulit berwarna merah atau biru, dan membawa senjata gada besi bernama kanab\u014d.\u00a0 Ia biasanya digambarkan sebagai figure yang kasar dan menakutkan, hadir dalam cerita rakyat, pertunjukan teater, hingga festival. Secara sejarah, gagasan tentang oni muncul dari berbagai sumber yang berbeda.\u00a0 Kepercayaan animisme [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":4775,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4770","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4770","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4770"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4770\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4777,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4770\/revisions\/4777"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4770"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4770"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4770"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}