{"id":4639,"date":"2026-02-05T21:30:17","date_gmt":"2026-02-05T14:30:17","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4639"},"modified":"2026-02-05T21:52:13","modified_gmt":"2026-02-05T14:52:13","slug":"ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/02\/ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang\/","title":{"rendered":"Ketika Menarik Diri jadi Cara Bertahan: Fenomena Hikomori di Kalangan Remaja Jepang"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Ketika Menarik Diri jadi Cara Bertahan: Fenomena <\/b><em><b>Hikomori <\/b><\/em><b>di Kalangan Remaja Jepang<\/b><b><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/02\/ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang\/img_7176-2\/\" rel=\"attachment wp-att-4648\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4648\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/02\/IMG_7176-1.png\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"213\" \/><\/a>source: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/tinyurl.com\/2pp2yd5w&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1770304634239744&amp;usg=AOvVaw1_VvVd-I4L46DxTxFUUyRD\">https:\/\/tinyurl.com\/2pp2yd5w<\/a><b><\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pernahkah kalian terpikiran bahwa sebuah anime\u00a0bisa terasa begitu dekat dengan realita kehidupan sosial di dunia nyata? <em>Oregairu<\/em>\u00a0merupakan salah satu contoh karya yang menghadirkan potret remaja dengan konflik batin dan relasi yang kompleks. Cerita berfokus pada seorang siswa SMA bernama Hachiman Hikigaya<i>, <\/i>yang selalu menarik diri dari kehidupan sosial dan selalu membuat jarak dari kerumunan orang. Kehidupannya mulai berkembang ketika mengikuti aktivitas \u201cklub pelayanan sekolah\u201d, yang mengharuskannya untuk bertemu dengan berbagai karakter lain dengan masalah personal masing-masing. Di balik dialog yang sederhana, anime\u00a0ini menyampaikan kritik halus yang bermakna terhadap cara manusia membangun hubungan sosial.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/02\/ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang\/img_7177\/\" rel=\"attachment wp-att-4646\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4646\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/02\/IMG_7177.png\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"180\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0\u00a0source: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/tinyurl.com\/4znmdeua&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1770304634241495&amp;usg=AOvVaw19HzItzrN5HSezmWyUhLt9\">https:\/\/tinyurl.com\/4znmdeua<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Karakter Hikigaya Hachiman\u00a0menunjukkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Ia memilih untuk sendiri sebagai bentuk perlindungan dari kekecewaan dan penolakan sosial yang pernah ia terima. Sikap sinis dan penolakannya terhadap hubungan sosial mencerminkan dampak isolasi emosional. Meskipun Hachiman\u00a0tidak sepenuhnya mengurung diri, perilakunya memperlihatkan pola penarikan diri yang serupa dengan salah satu fenomena sosial dan kondisi sosial psikologis, <em>hikikomori<\/em>. Melalui anime ini, menunjukkan bagaimana tekanan sosial dapat membentuk sikap tertutup pada individu.<br \/>\n<b><br \/>\n<\/b>Secara umum, <em>hikikomori<\/em>\u00a0adalah kondisi ketika seseorang menarik diri dari kehidupan sosial dalam jangka waktu yang lama. Individu dengan karakter <em>hikikomori<\/em>\u00a0ini. cenderung menghindari interaksi sosial dan menghabiskan waktu di ruangan pribadinya. Fenomena ini bermunculan karena adanya beberapa faktor, antara lain tekanan akademik, tuntutan sosial, dan ekspektasi keluarga yang tinggi. Budaya malu dan ketakutan akan kegagalan yang dimiliki, turut memperkuat kondisi tersebut. Oleh karena itu, <em>hikikomori<\/em> tidak dapat dipahami hanya sebagai pilihan pribadi, melainkan adanya faktor eksternal yang membentuk kepribadian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">source: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/tinyurl.com\/3jz7sjvs&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1770304634243720&amp;usg=AOvVaw32P2OYePw3w_h3fW8_Bqpx\">https:\/\/tinyurl.com\/3jz7sjvs<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/02\/ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang\/img_7178\/\" rel=\"attachment wp-att-4647\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4647\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/02\/IMG_7178.png\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"180\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dampak fenomena <em>hikikomori<\/em>\u00a0terhadap masyarakat Jepang tergolong cukup signifikan. Banyak pemuda kehilangan kesempatan untuk berkembang secara sosial dan profesional. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya tenaga kerja produktif dari waktu seiring berjalannya waktu, ditambah dengan anggota keluarga yang sering menanggung beban emosional dan ekonomi yang besar. Dalam jangka panjang, fenomena <em>hikikomori<\/em>\u00a0dapat perlahan menghambat keseimbangan sosial dan ekonomi masyarakat.<\/p>\n<p>source: <a href=\"https:\/\/www.google.com\/url?q=https:\/\/tinyurl.com\/27aasdy4&amp;sa=D&amp;source=editors&amp;ust=1770304634244866&amp;usg=AOvVaw1LAXpHgK_VbJe0V29L-bDy\">https:\/\/tinyurl.com\/27aasdy4<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2026\/02\/ketika-menarik-diri-jadi-cara-bertahan-fenomena-hikomori-di-kalangan-remaja-jepang\/img_7179\/\" rel=\"attachment wp-att-4649\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4649\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2026\/02\/IMG_7179.png\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"180\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada akhirnya, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama dalam menghadapi tuntutan sosial. <em>Hikikomori<\/em> mencerminkan ketegangan antara tuntutan sosial dan kemampuan individu untuk menghadapinya. Representasi dalam anime\u00a0seperti <em>Oregairu<\/em>\u00a0dapat membantu menggambarkan sisi emosional dari fenomena ini. Namun, pemahaman yang lebih luas tetap diperlukan untuk melihat akar permasalahannya. Dari sudut pandang penulis, pendekatan yang manusiawi perlu diutamakan. Oleh karena itu, empati menjadi sikap yang paling dibutuhkan. Dengan demikian, stigma dapat berkurang dan proses pemulihan menjadi lebih memungkinkan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">\u201cDi balik keheningan, sering kali ada beban yang tidak terlihat, kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan nasihat, tapi ruang untuk dipahami.\u201d<\/p>\n<p>Penulis: Jonathan Fistanio_2902634812<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ketika Menarik Diri jadi Cara Bertahan: Fenomena Hikomori di Kalangan Remaja Jepang source: https:\/\/tinyurl.com\/2pp2yd5w Pernahkah kalian terpikiran bahwa sebuah anime\u00a0bisa terasa begitu dekat dengan realita kehidupan sosial di dunia nyata? Oregairu\u00a0merupakan salah satu contoh karya yang menghadirkan potret remaja dengan konflik batin dan relasi yang kompleks. Cerita berfokus pada seorang siswa SMA bernama Hachiman Hikigaya, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":4634,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-4639","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4639","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4639"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4639\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4651,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4639\/revisions\/4651"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4634"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4639"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4639"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4639"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}