    {"id":4081,"date":"2023-12-01T12:43:30","date_gmt":"2023-12-01T05:43:30","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=4081"},"modified":"2023-12-20T13:33:21","modified_gmt":"2023-12-20T06:33:21","slug":"bedil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/12\/bedil\/","title":{"rendered":"Bedil"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/12\/kulineran-di-pasar-lama-tangerang\/bedil\/\" rel=\"attachment wp-att-4078\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4078\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/12\/bedil.jpg\" alt=\"\" width=\"392\" height=\"252\" \/><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Source:<\/span><b>\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/0\/05\/Meriam_museum_bali.jpg\"><span style=\"font-weight: 400;\">https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/0\/05\/Meriam_museum_bali.jpg<\/span><\/a><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bedil adalah istilah dari Asia Tenggara Maritim yang mengacu pada berbagai jenis senjata api dan senjata mesiu, dari pistol kecil hingga meriam. Istilah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berasal dari kata &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8221; dan &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">wediluppu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8221; dalam bahasa Tamil. Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini masing-masing mengacu pada ledakan mesiu dan sendawa. Namun setelah diserap menjadi &#8220;bedil&#8221; dalam bahasa Indonesia, kosakata bahasa Tamil ini digunakan untuk menyebut semua jenis senjata yang menggunakan bubuk mesiu. Beberapa diantaranya yang akan dibahas di artikel ini adalah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> bedil <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">tombak,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> bedil Jawa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">cetbang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengetahuan membuat senjata berbahan dasar mesiu di kepulauan Nusantara telah dikenal setelah invasi Mongol yang gagal ke Jawa (1293 M) akhir abad ke-13. Invasi Mongol ke Jawa membawa teknologi mesiu ke Jawa dalam bentuk meriam, hal ini menghasilkan \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cetbang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> gaya timur\u201d yang mirip dengan meriam Cina yang diisi ulang dari ujung larasnya (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">muzzle-loading<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Cetbang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini menembakkan proyektil seperti anak panah, tetapi peluru bundar dan proyektil yg menyebar juga bisa digunakan. Panah ini dapat berujung padat tanpa bahan peledak, atau dengan bahan peledak dan bahan pembakar yang ditempatkan di belakang ujungnya. Sedangkan Cetbang gaya barat berasal dari meriam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">prangi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Turki yang masuk ke Nusantara setelah tahun 1460 Masehi. Sama seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">prangi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, cetbang ini adalah senjata putar diisi ulang dari belakang (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">breech-loading<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), menembakkan peluru tunggal atau tembakan hamburan (peluru kecil dalam jumlah besar).<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tercatat telah digunakan di Jawa pada tahun 1413, disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">bedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tombak yang terdiri dari sebuah meriam kecil yang dipasang di tiang kayu. Namun, pengetahuan untuk membuat senjata api yang &#8220;benar&#8221; baru muncul setelah pertengahan abad ke-15. Pengetahuan ini dibawa oleh bangsa-bangsa Islam di Asia Barat, kemungkinan besar bangsa Arab. Tahun pasti pengenalannya tidak diketahui, tetapi dapat disimpulkan tidak lebih awal dari tahun 1460. Kerajaan Majapahit memelopori penggunaan senjata berbahan dasar mesiu di kepulauan Nusantara. Salah satu catatan menyebutkan penggunaan senjata api dalam pertempuran melawan pasukan Giri sekitar tahun 1500-1506. Senjata yang digunakan adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bedil Jawa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, senjata ini sangat panjang, bisa mencapai 2,2 meter dan sudah terlihat seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">arquebus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">musket<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Eropa atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tanegashima<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> milik Jepang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah datangnya Portugis ke kepulauan Nusantara, muncullah bedil dengan nama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah jenis senjata api korek api (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">matchlock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) yang dibuat oleh berbagai kelompok etnis di Asia Tenggara. Senjata api ini merupakan hasil pengaruh Portugis terhadap persenjataan lokal setelah penaklukan Malaka (1511). Nama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berasal dari bahasa Portugis <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">espingarda<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berarti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">arquebus<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau senjata api, istilah ini kemudian berubah menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">estingarda<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan akhirnya menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">setinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Biasanya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Istinggar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> lebih panjang daripada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tanegashima<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reaksi negara luar dari Portugis &amp; Tiongkok terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sangat positif serta memuji kemampuan senjata tersebut. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Duarte Barbosa<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari Portugis sekitar tahun 1514 mengatakan bahwa penduduk Jawa adalah ahli-ahli yang hebat dalam membuat artileri dan ahli-ahli artileri yang baik, dinasti-dinasti Tiongkok juga memuji <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bedil<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Liuxianting<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u5289\u737b\u5ef7<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-ahli geografi era Qing awal) dari dinasti Ming dan Qing mengatakan: &#8220;Orang-orang Selatan pandai dalam perang senjata, dan senjata Selatan adalah yang terbaik di kolong langit&#8221;. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Qu Dajun<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u5c48\u5927\u5747<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) berkata: &#8220;Senjata Selatan, terutama senjata Jawa (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u722a\u54c7\u9283<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) diibaratkan sebagai busur panah yang kuat. Mereka digantung di pundak mereka dengan tali, dan mereka akan dikirim bersama-sama ketika mereka bertemu musuh. Mereka dapat menembus beberapa baju besi yang berat&#8221;. Dinasti Ming dari Tiongkok mencatat produk-produk ekspor dari Jawa yang diimpor ke Tiongkok. Produk-produk tersebut antara lain lada, dupa cendana, gading, kuda, senjata besi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">balahu chuan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u53ed\u5587\u552c\u8239<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-perahu), <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">zhaowa chong<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u722a\u54c7\u9283<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">-senjata Jawa), dan belerang. Senapan Jawa lebih disukai oleh tentara Ming karena fleksibilitas dan akurasinya yang tinggi dan konon senapan ini dapat digunakan untuk menembak burung. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Guangdong Tongzhi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u5e7f\u4e1c\u901a\u5fd7<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">), yang disusun pada tahun 1535, mencatat bahwa tentara lapis baja dan senjata Jawa adalah yang terbaik di antara orang-orang Timur. Orang Jawa menggunakannya dengan sangat terampil dan dapat secara akurat mengenai burung pipit. Orang Cina juga mengatakan senjata ini dapat mematahkan jari, telapak tangan, dan lengan jika tidak digunakan dengan hati-hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada saat jaman penjajahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">VOC, <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">VOC<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mulai mengganti senjata korek api (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">matchlock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) dengan senapan batu (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flintlock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">) pada tahun 1680-an, orang Jawa sudah memintanya pada tahun 1690-an. Senapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flintlock <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">mulai muncul di gudang senjata Jawa pada awal tahun 1700 Masehi<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk senjata api yang menggunakan mekanisme <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flintlock<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, penduduk kepulauan Nusantara bergantung pada kekuatan Barat, karena tidak ada pandai besi lokal yang dapat memproduksi komponen-komponen yang rumit.\u200a Senjata api <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">flintlock <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">ini adalah senjata yang sama sekali berbeda dan dikenal dengan nama lain, senapan atau senapang, dari bahasa Belanda <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">snappaan <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">snaphaan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penulis: Christopher Daniel S.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">NIM: 2602156356<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Source:\u00a0https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/0\/05\/Meriam_museum_bali.jpg Bedil adalah istilah dari Asia Tenggara Maritim yang mengacu pada berbagai jenis senjata api dan senjata mesiu, dari pistol kecil hingga meriam. Istilah bedil berasal dari kata &#8220;wedil&#8221; dan &#8220;wediluppu&#8221; dalam bahasa Tamil. Dalam bentuk aslinya, kata-kata ini masing-masing mengacu pada ledakan mesiu dan sendawa. Namun setelah diserap menjadi &#8220;bedil&#8221; dalam bahasa Indonesia, kosakata [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-4081","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-our-indonesian-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4081","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4081"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4081\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4089,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4081\/revisions\/4089"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4081"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4081"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4081"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}