    {"id":3962,"date":"2023-06-30T19:14:09","date_gmt":"2023-06-30T12:14:09","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=3962"},"modified":"2023-06-30T19:14:10","modified_gmt":"2023-06-30T12:14:10","slug":"mari-mengenal-tentang-hitsumabushi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/06\/mari-mengenal-tentang-hitsumabushi\/","title":{"rendered":"Mari Mengenal Tentang Hitsumabushi!!!"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/06\/mari-mengenal-tentang-hitsumabushi\/_yroupvmpiyyltykrdm5hvlnttvvljzr4-s8fjnsiiy_720\/\" rel=\"attachment wp-att-3967\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-3967\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/06\/YrOuPvmpIYYlTYKRDM5HvLNTTVvLjZr4-S8fjNsIiY_720.jpg\" alt=\"\" width=\"407\" height=\"272\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Sumber: pocket-concierge.jp<\/em><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi (\u3072\u3064\u307e\u3076\u3057)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah masakan daerah seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Unadon (\u3046\u306a\u4e3c) <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">yang dimakan terutama di daerah Nagoya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(\u540d\u53e4\u5c4b)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, makanan ini disajikan di dalam bak nasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">o-hitsu (\u304a\u6ac3)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, karena pada awalnya hidangan ini disajikan di dalam mangkuk keramik, sama seperti di restoran khusus belut lainnya. Namun, para pekerja muda di restoran tersebut sering memecahkan mangkuk ketika mengambil mangkuk setelah mereka mengantarkan makanan. Oleh karena itu, dikatakan bahwa ada kebutuhan untuk menyajikan makanan dalam wadah yang dapat menahan penanganan yang kasar dan menyediakan sejumlah besar porsi sekaligus. Dikatakan bahwa alasan untuk memotong belut adalah untuk menyajikan belut dalam jumlah yang sama saat mengeluarkan nasi dari bak beras, atau merupakan upaya untuk memanfaatkan belut secara efisien selama periode kekurangan makanan setelah perang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Belut kabayaki dipotong kecil-kecil dan diletakkan di atas nasi, yang disajikan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ohitsu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> kecil (wadah kayu untuk menanak nasi), dan dimakan dengan 3 cara berbeda. Disebut Hitsumabushi karena nasi dan toppingnya tercampur. Nama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> berasal dari kata &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mamushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216;, yang berarti nasi dengan topping belut di daerah Kansai. Di Nagoya, kedua nama tersebut digunakan (pendapat yang paling banyak adalah &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216; berasal dari kata &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mabusu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216;, yang berarti menyebar. Di sisi lain, ini juga dapat dianggap sebagai pengucapan yang salah dari &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mamushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216;).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ada berbagai teori tentang asal-usul hidangan ini dan tidak diketahui secara pasti bagaimana hidangan ini muncul, beberapa ada yang berkata dari Kota Tsu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(\u6d25\u5e02)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">,<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">beberapa lagi berkata asalnya dari Kota Nagoya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(\u540d\u53e4\u5c4b\u5e02)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dikatakan telah dimulai di Kota <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Nagoya <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">selama Periode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Meiji (\u660e\u6cbb)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan restoran yang pertama kali menyajikan hidangan ini adalah &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Atsuta Horaiken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(\u3042\u3064\u305f\u84ec\u83b1\u8ed2)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di Distrik Atsuta <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">(\u71b1\u7530\u533a)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Nama hidangan ini menjadi merek dagang terdaftar &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Atsuta Horaiken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216; pada tahun 1987. Oleh karena itu, &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Atsuta Horaiken<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216; dapat menyebutnya &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216;, tetapi semua restoran lain harus menyebutnya &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumamushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216;. Namun, nama &#8216;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8216; saat ini merupakan nama umum untuk hidangan ini, akibatnya, diputuskan bahwa penyediaan hidangan bernama &#8220;<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">&#8221; di restoran bukan merupakan pelanggaran hak merek dagang.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/06\/mari-mengenal-tentang-hitsumabushi\/menu_photo\/\" rel=\"attachment wp-att-3963\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-3963\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/06\/menu_photo.jpg\" alt=\"\" width=\"329\" height=\"208\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Sumber: hitsumabushi.co.jp<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ada 3 cara untuk menyantap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hitsumabushi\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Nasi disajikan dengan potongan belut di atasnya, dan sendok nasi digunakan untuk membagi nasi menjadi 4 porsi dengan membuat huruf &#8216;X&#8217; pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hitsumabushi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Kemudian, hidangan ini dimakan dengan tiga cara yang dijelaskan di bawah ini secara berurutan.<\/span><\/p>\n<ul>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Pertama, nasi dibagi-bagi ke dalam mangkuk, dan dimakan apa adanya seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Unadon<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> biasa.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Kemudian, porsi kedua dibagi-bagi, dan dimakan dengan pelengkap (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wasabi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, rumput laut, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">mitsuba<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">[<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">\u307f\u3064\u3070\u7b49<\/span><\/i><i><span style=\"font-weight: 400\">]<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, dan sebagainya). Pelengkap dasarnya adalah daun bawang, lobak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">wasabi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, dan rumput laut, yang merupakan tiga bahan yang cocok dimakan bersama belut. Hidangan ini dimakan sambil menikmati masing-masing rasa dari campuran hitsumabushi dengan bahan pelengkap.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Hidangan ketiga disajikan seperti hidangan kedua, tetapi dengan teh hijau Jepang yang disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">sencha (\u714e\u8336)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> atau kaldu (tergantung pada restorannya) yang dituangkan di atasnya dan dimakan dengan cara yang sama seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">chazuke<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400\">(\u8336\u6f2c\u3051)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Dikatakan bahwa cara makan seperti ini diciptakan untuk memberikan cara yang lezat untuk memakan belut yang kualitasnya telah menurun.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Porsi terakhir dimakan dengan cara yang paling disukai pengunjung di antara cara ke-1 hingga cara ke-3.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kalian bisa coba makan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hitsumabushi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">di Man Man Unagi Restaurant di Jl. Senopati No.71-75, Jakarta Selatan, kisaran harganya mulai dari Rp150.000 &#8211; Rp750.000<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber: pocket-concierge.jp Hitsumabushi (\u3072\u3064\u307e\u3076\u3057) adalah masakan daerah seperti Unadon (\u3046\u306a\u4e3c) yang dimakan terutama di daerah Nagoya (\u540d\u53e4\u5c4b), makanan ini disajikan di dalam bak nasi o-hitsu (\u304a\u6ac3), karena pada awalnya hidangan ini disajikan di dalam mangkuk keramik, sama seperti di restoran khusus belut lainnya. Namun, para pekerja muda di restoran tersebut sering memecahkan mangkuk ketika mengambil [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":3964,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-3962","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3962","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3962"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3962\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3969,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3962\/revisions\/3969"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3964"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3962"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3962"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3962"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}