    {"id":3878,"date":"2023-05-01T01:18:46","date_gmt":"2023-04-30T18:18:46","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=3878"},"modified":"2023-05-01T01:18:46","modified_gmt":"2023-04-30T18:18:46","slug":"pilihan-cerita-rakyat-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/05\/pilihan-cerita-rakyat-indonesia\/","title":{"rendered":"Pilihan Cerita Rakyat Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Semenjak kecil, kamu pasti sudah pernah mendengar setidaknya satu cerita rakyat Indonesia. Membaca cerita rakyat dapat membantu untuk memperkenalkan beragam budaya Indonesia yang sangat banyak, dan di setiap cerita rakyat itu selalu terdapat pesan moral yang menyesuaikan adat istiadat setempat. Berikut adalah cerita-cerita rakyat Indonesia yang menarik.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Si Pitung, Asal Betawi<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/05\/pilihan-cerita-rakyat-indonesia\/pgyutr\/\" rel=\"attachment wp-att-3882\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3882\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/05\/pgyutr.jpg\" alt=\"\" width=\"256\" height=\"170\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Source: bobo.grid.id<\/em><\/p>\n<p>Zaman dahulu kala di Betawi, ada seorang pendekar bernama Pitung. Ia adalah anak dari Bang Piun dan Mpok Pinah. Pitung adalah pendekar yang baik hati, patuh kepada agama, dan selalu menolong sesama. Pitung pun memiliki kesaktian yang luar biasa, ia tak mempan ditembus senjata.\u00a0Tetangga-tetangga Pitung hidup serba kekurangan. Pitung pun merasa iba. Apalagi orang-orang yang kaya justru semakin kaya, tanpa memedulikan rakyat yang miskin. \u201cAku harus melakukan sesuatu untuk membantu masyarakat,\u201d ucap Pitung.<\/p>\n<p>Pitung pun mengumpulkan pemuda-pemuda di kampungnya. Mereka merampok harta milik orang-orang kaya. Harta itu kemudian dibagikan kepada rakyat miskin. Aksi itu pun akhirnya terdengar oleh kompeni Belanda yang menguasai daerah itu. \u201cKita harus menghentikan Pitung, agar kompeni Belanda tidak resah dengan keberadaannya,\u201d ucap kepala polisi kompeni Belanda.<\/p>\n<p>Berbagai upaya dilakukan. Namun, Pitung selalu lolos dari pasukan kompeni. Berkali-kali kompeni mencoba menembaknya, tapi Pitung tak terluka sama sekali. Kepala kompeni hampir putus asa. \u201cBagaimana cara menangkap Pitung? Apakah ia tidak memiliki kelemahan?\u201d tanya kepala kompeni, merasa kesal. Akhirnya, ia menemui guru Pitung, yaitu Haji Naipin. Karena merasa nyawanya terancam, Haji Naipin pun membocorkan kelemahan Pitung.<\/p>\n<p>\u201cAkhirnya aku tahu kelemahanmu Pitung!\u201d ucap kepala kompeni Belanda dengan geram. Setelah beberapa lama, kompeni mengetahui persembunyian si Pitung. Tanpa membuang waktu, mereka Iangsung menyergap si Pitung. Kompeni yang sudah mengetahui kelemahan Pitung pun dengan mudah melumpuhkan Pitung, yaitu dengan cara mengambil jimatnya saat dia mandi di sungai. Akhirnya Pitung meninggal karena luka tembak peluru emas.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Ular Gaib dan Si Bungsu, Asal Bengkulu<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/05\/pilihan-cerita-rakyat-indonesia\/hdrts\/\" rel=\"attachment wp-att-3881\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-3881\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/05\/hdrts.png\" alt=\"\" width=\"260\" height=\"166\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Source: daerahkita.com<\/em><\/p>\n<p>Alkisah di kaki gunung di Bengkulu, hidup seorang ibu tua dengan ketiga orang putrinya. Suatu ketika, ibu tua itu sakit keras. \u201cIbumu hanya bisa sembuh dengan ramuan dedaunan hutan yang dimasak bara api gaib dari puncak gunung,\u201d ujar dukun penyembuh di desa. \u201cSayangnya, bara itu dijaga ular gaib yang ganas,\u201d ucapnya lagi. Namun, anak sulung dan anak tengah ibu tua itu menolak karena ketakutan mereka.<\/p>\n<p>Hanya si Bungsu yang berani. Esoknya, ia berangkat ke puncak gunung. Bumi bergetar hebat pertanda si Ular Gaib mencium bau manusia di dekatnya. Si Bungsu sangat ketakutan dan ingin lari, tapi ia teringat ibu yang sangat dicintainya. \u201cUlar yang baik, bolehkah aku meminta sebutir bara apa untuk mengobati ibuku?\u201d pinta si Bungsu mendekati si Ular Gaib dengan hati-hati.<\/p>\n<p>\u201cAkan kuberikan asal kau berjanji mau menjadi istriku,\u201d jawab si Ular Gaib tak terduga. Demi kesembuhan ibunya, si Bungsu menyanggupinya. Setelah sang Ibu berangsur-angsur sembuh, si Bungsu segera kembali ke sarang ular gaib untuk menempati janjinya. Betapa terkejutnya si Bungsu karena pada malam hari, si Ular gaib menjelma menjadi seorang pemuda yang gagah dan tampan.<\/p>\n<p>Si Sulung dan si Tengah tak sengaja mengetahui hal ini dan sangat iri. Pada suatu malam, mereka mencuri kulit si Ular Gaib dan membakarnya. Mereka berharap si Ular Gaib marah, lalu menyakiti si Bungsu. Tapi ternyata kulit yang dibakar, justru membuat pemuda itu tak bisa lagi berubah menjadi ular. Dari sanalah semua menjadi tahu bahwa si Pemuda sebenarnya adalah pangeran kerajaan yang terkena kutukan. Sang Pangeran segera membawa si Bungsu dan ibunya ke kerajaan. Sementara si Tengah dan si Sulung menolak karena malu dengan perbuatan mereka sendiri.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Batu Terbelah, Asal Aceh<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2023\/05\/pilihan-cerita-rakyat-indonesia\/fae\/\" rel=\"attachment wp-att-3880\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-3880\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2023\/05\/fae.png\" alt=\"\" width=\"242\" height=\"159\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><em>Source: daerahkita.com<\/em><\/p>\n<p>Dahulu di Aceh hiduplah keluarga petani. Petani itu memiliki beberapa anak. Setiap hari, Pak Tani pergi ke ladang untuk bercocok tanam. Namun karena musim kemarau kali ini begitu panjang, tanaman pun banyak yang mati. Alhasil, Pak Tani tak memiliki padi untuk persediaan makanan. Pak Tani mendapat ide untuk menangkap belalang yang ada di ladangnya, kemudian menyuruh istrinya untuk memasak belalang itu. \u201cSementara ini dulu yang kita makan,\u201d ucap Pak Tani. Tak ada yang mengeluh dengan keadaan itu.<\/p>\n<p>Setiap hari Pak Tani, Bu Tani, dan anak-anaknya pergi ke ladang untuk menangkap belalang. Belalang-belalang itu mereka taruh di lumbung makanan. Hingga suatu malam, Pak Tani tak kunjung pulang. Sementara itu, perut anak-anaknya sudah keroncongan. \u201cLebih baik aku dimakan oleh batu itu,\u201d isak istri Pak Tani. Sesampainya di batu besar itu, Bu Tani menyenandungkan sebuah lagu yang membuat batu besar itu terbelah. Bu Tani pun masuk ke dalam batu itu. Ia lenyap, hanya menyisakan tujuh helai rambutnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Itu saja cerita rakyat Indonesia yang akan dibahas untuk saat ini. Tetapi masih banyak cerita rakyat yang bahkan tidak tertulis di daerah Indonesia. Semoga melalui artikel ini, kamu semakin tertarik untuk membaca cerita rakyat lainnya!<\/p>\n<p><strong>Penulis : Odreia Mangkona<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:<\/p>\n<p>https:\/\/www.celebrities.id\/read\/contoh-cerita-rakyat-betawi-6xmr99<\/p>\n<p>https:\/\/www.haibunda.com\/parenting\/20230127114007-61-295779\/16-cerita-rakyat-indonesia-terbaik-penuh-pesan-moral<\/p>\n<p>https:\/\/dongengceritarakyat.com\/cerita-rakyat-indonesia-batu-terbelah\/<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semenjak kecil, kamu pasti sudah pernah mendengar setidaknya satu cerita rakyat Indonesia. Membaca cerita rakyat dapat membantu untuk memperkenalkan beragam budaya Indonesia yang sangat banyak, dan di setiap cerita rakyat itu selalu terdapat pesan moral yang menyesuaikan adat istiadat setempat. Berikut adalah cerita-cerita rakyat Indonesia yang menarik. &nbsp; Si Pitung, Asal Betawi Source: bobo.grid.id Zaman [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":3879,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-3878","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-indonesian-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3878","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3878"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3878\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3884,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3878\/revisions\/3884"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3879"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3878"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3878"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3878"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}