    {"id":3515,"date":"2022-11-28T20:08:39","date_gmt":"2022-11-28T13:08:39","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=3515"},"modified":"2022-11-28T20:08:39","modified_gmt":"2022-11-28T13:08:39","slug":"sate-klatak-makanan-unik-dari-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2022\/11\/sate-klatak-makanan-unik-dari-yogyakarta\/","title":{"rendered":"Sate Klatak, Makanan unik dari Yogyakarta"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><em>Source: bakpiakukustugu.co.id<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Di artikel sebelumnya, kita sudah melihat makanan-makanan yang bisa disantap di salah satu kota di Jawa Timur, yaitu Surabaya. Nah, sekarang kita lihat yuk makanan unik yang bisa di coba di Yogyakarta! Langsung simak artikelnya saja, ya!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Yogyakarta\u30fckota di Jawa tengah yang penuh dengan kuliner. Mulai dari gudeg, bakmi Jowo, pecel, dan kuliner angkringan. Tetapi, apakah kamu pernah dengar dengan kuliner yang satu ini? Mungkin jika pernah ke Yogyakarta pernah mendengar dengan kuliner yang satu ini, ya. Yuk, simak lebih lanjut!<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sate Klatak adalah sate terbuat dari daging kambing muda. Makanan ini merupakan makanan khas Bantul, DIY Yogyakarta. Uniknya, sate ini tidak menggunakan tusuk sate, tapi menggunakan jeruji sepeda. Juga, bumbunya sangatlah sederhana, yaitu dengan ditaburi garam dan lada saja! Beda kan dengan sate ayam maupun kambing yang biasa kita ketahui? Tidak ada saus kacang atau kecap manisnya, lho!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantas, kenapa namanya sate \u2018klatak,\u2019 sih? Mungkin pertanyaan ini bisa terlintas di pikiran kalian, ya. Alasannya lumayan sederhana sebetulnya. Sate ini diberi nama klatak karena bunyi \u2018klatak\u2019 yang dihasilkan sate saat dibakar diatas bara api. Klatak, klatak, klatak!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dari beberapa ulasan, sate ini memiliki rasa kenyal, gurih, dan tentunya manis. Karena rasa manis adalah cita rasa khas dari Yogyakarta. Sama seperti gudeg, oseng mercon, dan nasi tiwul. Wah, jadi ngiler, ya!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Tentunya, ada beberapa rekomendasi tempat untuk makan sate yang satu ini. Dimana saja, sih?<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Sate Klathak Pak Jede<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warung sate ini berlokasi di <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Jalan Nologaten, Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Selain sate Klatak, warung sate ini juga menghidangkan makanan lainnya seperti nasi goreng kambing dan gulai kambing. Harga makanan mulai dari Rp20,000, ya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Sate Klathak Pak Bari<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warung sate ini berlokasi di Pasar Wonokromo Imogiri Timur. Juga, pernah masuk di film Ada Apa Dengan Cinta 2. Untuk kualitas, tidak perlu diragukan lagi karena warung sate yang satu ini sudah dibuka sejak tahun 1940, lho!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Sate Klathak Pangestu<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika berkunjung ke Jogja utara, maka ini bisa dijadikan destinasi buat kalian kunjungi, nih. Karena, warung sate ini berlokasi di Jalan Damai No. 10, Sinduharjo, Ngaglik, Sleman! Warung ini juga menjual hidangan berbasis daging kambing selain sate Klatak seperti tongseng, nasi goreng kambing, dan tengkleng.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sampai saat ini, sate Klatak tetap menjadi makanan legendaris yang diincar wisatawan saat ke Yogyakarta. Karena, makanan yang satu ini bisa dibilang unik dan membuat penasaran. Nah, apakah kalian tertarik untuk mencoba makanan yang satu ini? Jangan lupa coba jika main ke Yogyakarta, ya!\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ditulis oleh Lintang Puruhita Haryadi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">NIM: 2501982260<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi: <\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.idntimes.com\/food\/diet\/eka-amira\/warung-sate-klathak-di-jogja-exp-c1c2?page=all\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.idntimes.com\/food\/diet\/eka-amira\/warung-sate-klathak-di-jogja-exp-c1c2?page=all<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Source: bakpiakukustugu.co.id Di artikel sebelumnya, kita sudah melihat makanan-makanan yang bisa disantap di salah satu kota di Jawa Timur, yaitu Surabaya. Nah, sekarang kita lihat yuk makanan unik yang bisa di coba di Yogyakarta! Langsung simak artikelnya saja, ya!\u00a0 Yogyakarta\u30fckota di Jawa tengah yang penuh dengan kuliner. Mulai dari gudeg, bakmi Jowo, pecel, dan kuliner [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":3516,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-3515","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-indonesian-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3515","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3515"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3515\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3517,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3515\/revisions\/3517"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3516"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3515"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3515"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3515"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}