    {"id":2790,"date":"2021-10-31T21:41:21","date_gmt":"2021-10-31T14:41:21","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=2790"},"modified":"2021-10-31T21:43:36","modified_gmt":"2021-10-31T14:43:36","slug":"makanan-khas-betawi-kerak-telor-punya-makna-kepemimpinan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2021\/10\/makanan-khas-betawi-kerak-telor-punya-makna-kepemimpinan\/","title":{"rendered":"Makanan Khas Betawi: Kerak Telor Punya Makna Kepemimpinan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Pernah mendengar makanan kerak telor? Jika kalian warga asli dari Jakarta, kalian pasti tahu makanan terkenal khas Betawi ini. Kerak telor berbahan dasar ketan putih serta telur bebek maupun ayam. Makanan ini pasti selalu ada di Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang selalu digelar setiap tahun, mulai dari awal bulan Juni sampai akhir bulan Juli. Namun dikarenakan pandemi Covid-19, dari tahun 2020, PRJ tidak diadakan. Kerak telor memang menjadi makanan khas yang paling dicari. Tidak hanya karena rasa yang enak, tetapi juga karena keahlian para penjual kerak telor saat memasak. Nah, apakah kalian tahu bahwa dalam setiap bahan dan langkah pembuatan kerak telor ada makna dibaliknya?<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dilansir dari CNN Indonesia, anggota Komite Kesenian dan Pemassaran Lembaga Pengelola Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, Indra Sutisna menjelaskan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat kerak telor yaitu ketan mempunyai makna pemimpin. \u201cTeksturnya kental dna memimpin keseluruhan rasa kerak telor\u201d kata Indra Sutisna. Makna kepemimpinan itu juga diperkuat dengan hadirnya telur yang menyatukan kerak telor. Waktu juga sangat diperhatikan dalam pembuatan kerak telor. Karena jika kerak telor terlalu cepat ditelungkupkan, maka ketan dan telur belum terlalu matang sehingga akan hancur. \u201cBegitu pula dengan pemimpin. Kalau belum siap, jangan dulu dijadikan pemimpin.\u201d Kata Indra Sutisna.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-2792 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2021\/10\/D2.jpg\" alt=\"\" width=\"511\" height=\"319\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah ditelungkupkan tetap harus memperhatikan waktu, jangan sampai gosong. \u201cJangan kelamaan jadi pemimpin. Nanti gosong, angus, enggak enak dimakan, bisa dibuang.\u201d Tutur Indra Sutisna. Setelah diangkat, tambahan bumbu sebelum kerak telor disajikan melambangkan seseorang pemimpin yang bersemangat dan kreatif. Aneka bahan dan bumbu racikan kerak telor mencerminkan strategi dan dinamika dalam memimpin. Misalnya rasa pedas mewakili sifat ketegasan seorang pemimpin dan gurih mewakili sifat keramahan. Setelah membaca makna kepemimpinan yang ada dalam kerak telor, apakah kalian jadi ingin mencicipi makanan satu ini?<\/p>\n<p>Penulis: Delevin Natasha (2301850531)<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20150622100119-262-61466\/belajar-makna-kepemimpinan-dari-sepiring-kerak-telor\">https:\/\/www.cnnindonesia.com\/gaya-hidup\/20150622100119-262-61466\/belajar-makna-kepemimpinan-dari-sepiring-kerak-telor<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pernah mendengar makanan kerak telor? Jika kalian warga asli dari Jakarta, kalian pasti tahu makanan terkenal khas Betawi ini. Kerak telor berbahan dasar ketan putih serta telur bebek maupun ayam. Makanan ini pasti selalu ada di Pekan Raya Jakarta (PRJ) yang selalu digelar setiap tahun, mulai dari awal bulan Juni sampai akhir bulan Juli. Namun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":2791,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-2790","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-our-indonesian-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2790"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2794,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2790\/revisions\/2794"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}