    {"id":1617,"date":"2019-09-22T11:29:48","date_gmt":"2019-09-22T04:29:48","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=1617"},"modified":"2019-09-22T12:02:17","modified_gmt":"2019-09-22T05:02:17","slug":"10-000-gerbang-torii","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2019\/09\/10-000-gerbang-torii\/","title":{"rendered":"10.000 Gerbang Torii"},"content":{"rendered":"<p>Mungkin kita sudah tidak asing dengan kuil <em>Fushimi Inari<\/em>, kuil yang berdedikasi untuk dewa beras Shinto. Ada banyak catatan doa oleh pengadilan kekaisaran di zaman kuno. Ini termasuk doa untuk panen gandum yang melimpah, doa agar hujan datang atau berhenti sehingga tanaman akan memiliki kondisi yang tepat untuk tumbuh, dan doa untuk perdamaian di seluruh Jepang.<\/p>\n<p>Pada periode <em>Heian<\/em> (794-1185), orang berdoa untuk hal-hal seperti pasangan yang baik dalam pernikahan. Toyotomi Hideyoshi (daimyo terkemuka abad ke-16) berdoa dengan sungguh-sungguh ketika ibunya jatuh sakit, dan ibunya sembuh.<\/p>\n<p>Selama bertahun-tahun, orang juga mulai berdoa untuk kemakmuran bisnis, kemakmuran industri, keselamatan rumah tangga, keselamatan dalam lalu lintas dan peningkatan dalam seni pertunjukan, sebuah tradisi yang berlanjut hingga hari ini. Memang Kuil <em>Fushimi Inari<\/em> selalu menjadi tempat favorit masyarakat Jepang untuk berdoa.<\/p>\n<p>Di kuil <em>Fushimi Inari<\/em>, selalu terdapat gerbang berwarna merah terang dengan warna hitam di atasnya yang disebut dengan <em>torii<\/em>. <em>Torii<\/em> (\u9ce5\u5c45) adalah gerbang tradisional Jepang yang sering ditemukan di pintu masuk kuil Shinto, di mana secara simbolis menandai transisi dari profan (daerah yg umum atau tidak disucikan) ke yang suci. Kehadiran <em>torii<\/em> di pintu masuk biasanya cara paling sederhana untuk mengidentifikasi kuil-kuil Shinto. Fungsi dari <em>torii<\/em> adalah untuk menandai pintu masuk ke ruang suci.<\/p>\n<p>Satuan hitung <em>torii<\/em> adalah \u201dki (\u57fa)\u201d. Karena itu, cara menghitungnya adalah &#8220;ikki (\u4e00 \u57fa)&#8221; untuk satu torii, &#8220;niki (\u4e8c \u57fa)&#8221; untuk dua, &#8220;sanki (\u4e09 \u57fa)&#8221; untuk tiga dan seterusnya. Dikatakan bahwa jumlah <em>torii<\/em> di Fushimi Inari Taisha adalah sebanyak 10.000 dari yang kecil yang dapat kita pegang dengan satu tangan, hingga yang besar yang dapat kita lewati. Tetapi bahkan Fushimi Inari Taisha sendiri tidak tahu angka pastinya.<\/p>\n<p><em>Torii<\/em> yang ada di Fushimi Imari Taisha sendiri sangat terkenal akan terowongannya yang banyak sekali <em>torii<\/em> nya dan yang berwarna merah terang. Mungkin kita berpikir dari nama \u201c<em>senbon torii<\/em>\u201d, gerbang <em>torii<\/em> yang ada adalah ribuan, tetapi faktanya hanya ada sekitar 800 gerbang <em>torii<\/em> besar dalam terowongan Fushimi Inari Taisha. Meskipun kurang dari seribu, \u201c<em>senbon<\/em>\u201d dari \u201d<em>senbon torii<\/em>\u201d bukanlah menunjuk pada angka yang akurat, tetapi itu memiliki arti \u201cbanyak\u201d atau \u201ctak terhitung\u201d.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2019\/09\/e0fdd30516b12f0e7a6ec17abe080c30.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1618\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-content\/uploads\/sites\/19\/2019\/09\/e0fdd30516b12f0e7a6ec17abe080c30.jpg\" alt=\"\" width=\"564\" height=\"423\" \/><\/a><\/p>\n<p>Anna Maria Carolina H. \u2013 2201733231<\/p>\n<p>sumber : https:\/\/jpnculture.net\/en\/fushimiinari-torii\/<\/p>\n<p>https:\/\/www.japan-guide.com\/e\/e3915.html<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mungkin kita sudah tidak asing dengan kuil Fushimi Inari, kuil yang berdedikasi untuk dewa beras Shinto. Ada banyak catatan doa oleh pengadilan kekaisaran di zaman kuno. Ini termasuk doa untuk panen gandum yang melimpah, doa agar hujan datang atau berhenti sehingga tanaman akan memiliki kondisi yang tepat untuk tumbuh, dan doa untuk perdamaian di seluruh [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[39],"tags":[],"class_list":["post-1617","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-our-indonesian-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1617"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1621,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1617\/revisions\/1621"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1617"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1617"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1617"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}