    {"id":1608,"date":"2019-08-18T14:19:56","date_gmt":"2019-08-18T07:19:56","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=1608"},"modified":"2019-08-18T14:20:29","modified_gmt":"2019-08-18T07:20:29","slug":"cosplay-culture-jepang-yang-mendunia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2019\/08\/cosplay-culture-jepang-yang-mendunia\/","title":{"rendered":"Cosplay, Culture Jepang yang Mendunia"},"content":{"rendered":"<p>Minasan, Konnichiwa!<\/p>\n<p>Pada kesempatan kali ini kita akan membahas soal <em>cosplay<\/em>, kebudayaan Jepang yang sangat diminati tidak hanya di Jepang namun juga negara-negara lain, salah satunya Indonesia. Namun, sudahkah semua kalangan masyarakat mengenal apa itu <em>cosplay<\/em>? Bagaimana proses terbentuknya budaya ini? Apa yang harus disiapkan untuk mendalami hobi ini? Yuk simak artikel ini sampai selesai!<\/p>\n<p><em>Cosplay<\/em> merupakan gabungan dari 2 kata yaitu \u201c<em>costume<\/em>\u201d dan \u201c<em>play<\/em>\u201d. Orang yang senang melakukan <em>cosplay<\/em> disebut <em>cosplayer<\/em>. Mereka akan menggunakan kostum berupa pakaian dan rias wajah yang dikenakan oleh karakter-karakter dari <em>anime, manga, game<\/em>, dsb. <em>Cosplay<\/em> sendiri tidak pernah absen dari setiap event jejepangan yang diadakan. Di setiap event jejepangan baik itu <em>Comic Market<\/em> (<em>Comic Frontier<\/em> di Indonesia), festival kebudayaan, maupun pertemuan penggemar fiksi ilmiah, pasti ada saja yang ber-<em>cosplay<\/em> untuk meramaikan suasana.\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Di Jepang, peragaan <em>cosplay<\/em> pertama kali dilangsungkan pada tahun 1978 di Ashinoko, Prefektur Kanagawa dalam bentuk pesta topeng konvensi ilmiah Nihon SF Taikai ke-17. Kritikus fiksi ilmiah, Mari Kotani turut menghadiri konvensi tersebut sambil mengenakan kostum seorang tokoh dalam gambar sampul cerita <em>A Fighting Man of Mars<\/em> karya Edgar Rice Burroughs. Tidak hanya Mari Kotani, direktur perusahaan animasi Gainax, Yasuhiro Takeda juga hadir sambil memakai kostum seorang tokoh <em>Star Wars<\/em>. Selanjutnya, kontes cosplay dijadikan acara tetap sejak Nihon SF Taikai ke-19 tahun 1980.<\/p>\n<p>Liputan besar-besaran pertama kali dilakukan majalah Fanroad edisi perdana bulan Agustus 1980. Edisi tersebut memuat berita khusus tentang munculnya kelompok anak muda yang disebut &#8220;<em>Tominoko-zoku<\/em>&#8221; ber-cosplay di kawasan Harajuku dengan mengenakan kostum baju bergerak <em>Gundam<\/em>. Kelompok &#8220;<em>Tominoko-zoku<\/em>&#8221; dikabarkan muncul sebagai tandingan bagi <em>Takenoko-zoku<\/em> (kelompok anak muda berpakaian aneh yang waktu itu meramaikan kawasan Harajuku). Istilah &#8220;<em>Tominoko-zoku<\/em>&#8221; diambil dari nama sutradara film animasi <em>Gundam<\/em>, Yoshiyuki Tomino, dan sekaligus merupakan parodi dari istilah <em>Takenoko-zoku<\/em>. Foto peserta cosplay yang menari-nari sambil mengenakan kostum robot <em>Gundam<\/em> juga ikut dimuat. Walaupun sebenarnya artikel tentang <em>Tominoko-zoku<\/em> hanya dimaksudkan untuk mencari sensasi, artikel tersebut berhasil menjadikan <em>cosplay<\/em> sebagai istilah umum di kalangan penggemar anime.<\/p>\n<p>Pada sekitar tahun 1985, hobi <em>cosplay<\/em> semakin meluas di Jepang karena cosplay telah menjadi hal yang mudah dilakukan. Kegiatan <em>cosplay<\/em> dikabarkan mulai menjadi kegiatan berkelompok sejak tahun 1986. Sejak itu pula mulai bermunculan fotografer amatir (disebut <em>kamera-koz\u014d<\/em>) yang senang memotret kegiatan <em>cosplay<\/em>.<\/p>\n<p><em>Cosplay<\/em> sendiri terbagi menjadi 6 kategori yaitu:<\/p>\n<ol>\n<li><strong><em>Cosplay Anime \/ Manga<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Cosplay<\/em> yang mengambil karakter dari <em>anime \/ manga<\/em>.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong><em>Cosplay Game<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Cosplay<\/em> yang mengambil karakter dari <em>game<\/em><\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong><em>Cosplay Tokusatsu<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Cosplay yang mengambil karakter dari film <em>tokusatsu<\/em><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong><em>Cosplay Gothic<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><em>Cosplay<\/em> yang mengambil karakter bernuansa gelap atau <em>gothic<\/em>. Biasanya digabung dengan <em>lolita<\/em>.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li><strong><em>Cosplay Original<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Cosplay yang tidak berasal dari anime, manga, dan tokusatsu.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li><strong><em>Harajuku Style<\/em><\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Gaya berpakaian ala anak muda Jepang.<\/p>\n<p>Untuk melakukan hobi ini, akan membutuhkan modal yang cukup besar karena biaya untuk membuat kostum, membeli <em>wig<\/em>, dan <em>make up<\/em> tidaklah murah. Namun kita bisa mulai dari yang paling sederhana seperti berpakaian ala anak muda Jepang atau <em>Harajuku Style<\/em> karena fashion ala Harajuku cenderung dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.<\/p>\n<p>Setelah menyimak artikel di atas, bagaimana? Apakah kamu tertarik untuk melakukan <em>cosplay<\/em>?<\/p>\n<p>\u201cButuh hobi baru yang menantang? <em>Cosplay<\/em> jawabannya!\u201d<\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/cosplaymaniax\/552a0170f17e616448d623d5\/pengertian-tentang-cosplay\">https:\/\/www.kompasiana.com\/cosplaymaniax\/552a0170f17e616448d623d5\/pengertian-tentang-cosplay<\/a><\/p>\n<p>Nama: Erika Priscilla<\/p>\n<p>NIM: 2201728042<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Minasan, Konnichiwa! Pada kesempatan kali ini kita akan membahas soal cosplay, kebudayaan Jepang yang sangat diminati tidak hanya di Jepang namun juga negara-negara lain, salah satunya Indonesia. Namun, sudahkah semua kalangan masyarakat mengenal apa itu cosplay? Bagaimana proses terbentuknya budaya ini? Apa yang harus disiapkan untuk mendalami hobi ini? Yuk simak artikel ini sampai selesai! [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1608","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1608","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1608"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1608\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1609,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1608\/revisions\/1609"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1608"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1608"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1608"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}