    {"id":1071,"date":"2018-06-02T19:57:03","date_gmt":"2018-06-02T12:57:03","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/?p=1071"},"modified":"2019-01-22T09:01:58","modified_gmt":"2019-01-22T02:01:58","slug":"pertunjukan-teater-jepang-yang-semua-pemainnya-laki-laki","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/2018\/06\/pertunjukan-teater-jepang-yang-semua-pemainnya-laki-laki\/","title":{"rendered":"kabuki, Seni Teater Tradisional Jepang"},"content":{"rendered":"<p><em>Penulis:\u00a0Nabilah Arwi <\/em><br \/>\n<em>NIM: 2101682671<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><em>Kabuki<\/em> merupakan salah satu kebudayaan Jepang yang termasuk dalam seni teater. Dalam pertunjukan <em>kabuki<\/em>, seluruh perannya dimainkan oleh laki \u2013 laki termasuk peran wanita yang disebut dengan istilah <em>onnagata<\/em>. Didalam <em>kabuki<\/em> peranan wanita dibagi menjadi 3, yaitu <em>Hime<\/em> dan <em>Machimusume<\/em> (sebagai peranan wanita muda), <em>Okugata<\/em> dan <em>Sewayobo<\/em> (sebagai peranan wanita dewasa), serta <em>Fukeoyama<\/em> (sebagai peranan wanita muda).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada umumnya <em>Kabuki <\/em>merupakan seni panggung Jepang yang menyajikan cerita dan digabungkan dengan tarian dengan diiringi musik. Jenis musik pengiring dalam <em>kabuki <\/em>dapat dikelompokan menjadi 3 jenis, yaitu <em>Osatsume, Kiyomoto, dan Nagauta. Osastume <\/em>adalah musik yang hanya dimunculkan ketika adegan \u2013 adegan yang menakutkan<em>. Kiyomoto<\/em> adalah musik pengiring untuk narasi nynyian Jepang yang anggun, sedangkan <em>Nagauta<\/em> merupakan nyanyian indah yang ditampilkan dalam bebagai cerita dan musik terpenting dalam <em>kabuki.<\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Instrumen yang digunakan dalam <em>kabuki<\/em> sebagai musik pengiring adalah <em>Taiko<\/em> (gendang), <em>Shamisen<\/em> ( alat musik dawai asal Jepang yang memiliki tiga senar), <em>Tsuzumi<\/em> ( semacam gendang). Dari instrument tersebut dapat menghasilkan bunyi \u2013 bunyi-an seperti bunyi salju hujan dan tiupan angin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Salah satu khas <em>kabuki<\/em> adalah <em>Kumadori<\/em> yang merupakan make-up khusus <em>kabuki. <\/em>make-up yang digunakan berbeda \u2013 beda \u00a0sesuai dengan yang akan diperankan. Adapun karakter dari kabuki, yaitu <em>Tachiyaku<\/em> (peran utama laki \u2013 laki), <em>Aragotoshi<\/em> (pahlawan yang berjuang untuk keadilan dan memakai make-up <em>kumadori<\/em>), <em>Wagotoshi<\/em> (pria tampan), dan <em>Onna<\/em> <em>gata<\/em> (aktor laki \u2013 laki yang memerankan wanita).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Awal mula <em>kabuki<\/em> adalah pertunjukan yang dilakukan oleh wanita. Wanita pertama yang memperkenalkan <em>kabuki<\/em> adalah Izumino Okuni. Pada saat pemerintahan Edo pada tahun 1629 pemerintah melarang untuk mengadakan pertunjukan <em>kabuki<\/em>, karena selain menari penari \u2013 penari tersebut juga melayani tamu laki \u2013 laki.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sebagai ganti <em>onna kabuki <\/em>(<em>kabuki<\/em> wanita) muncul-lah <em>wakashu kabuki<\/em> yang terdiri dari remaja laki \u2013 laki tampan. Tetapi nyata-nya <em>wakashu kabuki<\/em> juga mengalami hal yang serupa dengan <em>onna kabuki<\/em> pada tahun 1651. Pada tahun 1653 akhirnya <em>wakashu kabuki<\/em> diperbolehkan untuk mengadakan pertunjukan dengan syarat \u2013 syarat yang diberikan.<\/p>\n<p>Sekian dari artikel ini, semoga bermanfaat!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penulis:\u00a0Nabilah Arwi NIM: 2101682671 Kabuki merupakan salah satu kebudayaan Jepang yang termasuk dalam seni teater. Dalam pertunjukan kabuki, seluruh perannya dimainkan oleh laki \u2013 laki termasuk peran wanita yang disebut dengan istilah onnagata. Didalam kabuki peranan wanita dibagi menjadi 3, yaitu Hime dan Machimusume (sebagai peranan wanita muda), Okugata dan Sewayobo (sebagai peranan wanita dewasa), [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":20,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-1071","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-our-japan-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/users\/20"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1071"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1075,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1071\/revisions\/1075"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1071"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1071"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himja\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1071"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}