Oni dalam Budaya Jepang: Monster Menakutkan ke Simbol Sosial

Source : https://thegate12.com/jp/article/356

Dalam budaya Jepang, Oni adalah makhluk besar yang memiliki tanduk, kulit berwarna merah atau biru, dan membawa senjata gada besi bernama kanabō.  Ia biasanya digambarkan sebagai figure yang kasar dan menakutkan, hadir dalam cerita rakyat, pertunjukan teater, hingga festival.

Secara sejarah, gagasan tentang oni muncul dari berbagai sumber yang berbeda.  Kepercayaan animisme Jepang yang melihat dunia penuh dengan roh, berdampak pada pendekatan penelitian dengan mempertimbangkan pengaruh Buddhisme yang membawa gagasan tentang neraka dan hukuman.  Selain itu, cerita mengenai tindakan kriminal, orang yang diasingkan, atau individu yang dianggap berbeda dari norma juga turut membentuk gambaran tentang oni.

Pada awalnya, oni tidak selalu memiliki bentuk tubuh yang jelas. Ia lebih seperti kekuatan yang tidak terlihat, yang bisa menimbulkan bencana atau penyakit.  Seiring berjalannya waktu, masyarakat mulai membayangkannya sebagai sesuatu yang nyata, yaitu cara untuk menjadikan ketakutan yang tidak jelas menjadi lebih mudah dipahami.

Dalam kehidupan sosial, oni berperan sebagai sarana untuk mengontrol tingkah laku seseorang.  Sosok ini digunakan agar orang, khususnya anak-anak, merasa takut dan akhirnya mengikuti aturan yang berlaku.  Perannya terasa jelas dalam festival Setsubun, di mana masyarakat melempar kacang sambil mengucapkan kalimat “Oni wa soto, fuku wa uchi” yang artinya “setan keluar, keberuntungan masuk”.

Ritual ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tapi juga representasi dari upaya membersihkan diri dari sifat-sifat negatif.  Artinya, oni tidak hanya muncul di luar tubuh manusia, tetapi juga mewakili bagian buruk dalam diri seseorang yang harus “dibuang”.

Oni juga bisa diartikan sebagai representasi “yang lain” dalam masyarakat. Oni ini sering dikaitkan dengan orang asing, pemberontak, atau siapa saja yang tidak sesuai dengan aturan atau kebiasaan masyarakat.  Melalui cara ini, masyarakat membentuk batasan yang jelas antara hal-hal yang diterima dan hal-hal yang ditolak.  Ini menunjukkan bahwa oni bukan hanya makhluk legenda, tetapi juga cara masyarakat menciptakan aturan untuk menjaga ketertiban.

Meski sering dikaitkan dengan tindakan kriminal, oni tidak selalu digambarkan sebagai makhluk yang benar-benar jahat.  Dalam beberapa cerita, mereka bisa menunjukkan sifat setia, menjadi pengawal, atau bahkan membantu manusia.  Ambiguitas ini menunjukkan cara pandang Jepang terhadap moralitas yang tidak selalu jelas antara baik dan buruk.  Kebaikan dan kejahatan tidak bisa dipisahkan secara mutlak, melainkan bergantung pada situasi dan konteks di mana hal itu terjadi.

Source : https://ja.ukiyo-e.org/image/ritsumei/mai01k43

Di zaman sekarang ini, makna oni terus berkembang dan mengalami perubahan.  Dalam anime, manga, dan video game, oni sering kali tidak hanya dianggap sebagai monster, tetapi juga dihadirkan sebagai karakter kuat, karismatik, atau bahkan sebagai tokoh utama.  Gambar tetap dijaga, tetapi tujuannya berubah dari menjadi simbol ketakutan menjadi bagian dari budaya dan estetika populer.

Source : Kimetu no Yaiba Hashira Keiko Hen Episode 7

Pada akhirnya, oni bukan hanya sekadar “setan Jepang”.  Ia mencerminkan ketakutan umum masyarakat, berfungsi sebagai alat pengendalian sosial, menjadi simbol batas perilaku yang diterima, serta menggambarkan kekompleksan nilai dan etika dalam masyarakat Jepang.  Memahami oni berarti memahami bagaimana budaya membentuk, mengelola, dan menafsirkan gagasan tentang kejahatan dan penyimpangan bukan hanya dalam cerita, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

Penulis : Bernard Reginald Tansa (2902635765)