Angka 4 yang dianggap sebagai Angka Sial di Jepang

Source : Radichubu

Di Jepang, angka tidak hanya berfungsi sebagai alat hitung, tetapi juga memiliki makna budaya dan simbolis. Salah satu contoh yang paling terkenal adalah anggapan bahwa angka 4 merupakan angka sial. Kepercayaan ini telah ada sejak lama dan masih dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jepang hingga sekarang.

Alasan utama angka 4 dianggap membawa kesialan berkaitan dengan cara pengucapannya. Dalam bahasa Jepang, angka 4 dapat dibaca yon (よん) atau shi (し). Masalahnya, pelafalan shi sama persis dengan kata 死 (shi) yang berarti “kematian”. Karena masyarakat Jepang secara tradisional sangat menghindari hal-hal yang berhubungan dengan kematian atau pertanda buruk, angka 4 pun mulai diasosiasikan dengan nasib buruk.

Source : Wikipedia
Source : https://hachinohe.hosp.go.jp/

Pengaruh kepercayaan ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Banyak rumah sakit, apartemen, dan hotel di Jepang yang tidak menggunakan nomor kamar atau lantai 4. Bahkan, terkadang nomor 14 atau 24 juga dihindari karena tetap mengandung bunyi shi. Dalam beberapa kasus, penomoran langsung melompat dari lantai 3 ke lantai 5 untuk menghindari kesan tidak menyenangkan bagi penghuni atau tamu. Selain itu, masyarakat Jepang juga berhati-hati ketika memberikan hadiah. Memberikan empat benda sekaligus sering dianggap kurang pantas, terutama dalam situasi sensitif seperti menjenguk orang sakit atau perayaan tertentu. Sebagai gantinya, orang biasanya memilih jumlah tiga atau lima yang dianggap lebih membawa keberuntungan.

Pada masa modern, terutama di kalangan generasi muda Jepang, kepercayaan terhadap angka 4 mulai berkurang. Namun demikian, pengaruh tradisi ini masih kuat dalam bidang bisnis, layanan publik, dan desain bangunan. Oleh karena itu, angka 4 tetap menjadi contoh menarik tentang bagaimana bahasa, sejarah, dan budaya dapat membentuk cara suatu masyarakat memandang sesuatu yang sederhana seperti angka. 1