Ketika Menarik Diri jadi Cara Bertahan: Fenomena Hikomori di Kalangan Remaja Jepang

Ketika Menarik Diri jadi Cara Bertahan: Fenomena Hikomori di Kalangan Remaja Jepang

source: https://tinyurl.com/2pp2yd5w

Pernahkah kalian terpikiran bahwa sebuah anime bisa terasa begitu dekat dengan realita kehidupan sosial di dunia nyata? Oregairu merupakan salah satu contoh karya yang menghadirkan potret remaja dengan konflik batin dan relasi yang kompleks. Cerita berfokus pada seorang siswa SMA bernama Hachiman Hikigaya, yang selalu menarik diri dari kehidupan sosial dan selalu membuat jarak dari kerumunan orang. Kehidupannya mulai berkembang ketika mengikuti aktivitas “klub pelayanan sekolah”, yang mengharuskannya untuk bertemu dengan berbagai karakter lain dengan masalah personal masing-masing. Di balik dialog yang sederhana, anime ini menyampaikan kritik halus yang bermakna terhadap cara manusia membangun hubungan sosial.

                          source: https://tinyurl.com/4znmdeua

Karakter Hikigaya Hachiman menunjukkan kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosialnya. Ia memilih untuk sendiri sebagai bentuk perlindungan dari kekecewaan dan penolakan sosial yang pernah ia terima. Sikap sinis dan penolakannya terhadap hubungan sosial mencerminkan dampak isolasi emosional. Meskipun Hachiman tidak sepenuhnya mengurung diri, perilakunya memperlihatkan pola penarikan diri yang serupa dengan salah satu fenomena sosial dan kondisi sosial psikologis, hikikomori. Melalui anime ini, menunjukkan bagaimana tekanan sosial dapat membentuk sikap tertutup pada individu.

Secara umum, hikikomori adalah kondisi ketika seseorang menarik diri dari kehidupan sosial dalam jangka waktu yang lama. Individu dengan karakter hikikomori ini. cenderung menghindari interaksi sosial dan menghabiskan waktu di ruangan pribadinya. Fenomena ini bermunculan karena adanya beberapa faktor, antara lain tekanan akademik, tuntutan sosial, dan ekspektasi keluarga yang tinggi. Budaya malu dan ketakutan akan kegagalan yang dimiliki, turut memperkuat kondisi tersebut. Oleh karena itu, hikikomori tidak dapat dipahami hanya sebagai pilihan pribadi, melainkan adanya faktor eksternal yang membentuk kepribadian.

source: https://tinyurl.com/3jz7sjvs

Dampak fenomena hikikomori terhadap masyarakat Jepang tergolong cukup signifikan. Banyak pemuda kehilangan kesempatan untuk berkembang secara sosial dan profesional. Hal ini berpengaruh pada berkurangnya tenaga kerja produktif dari waktu seiring berjalannya waktu, ditambah dengan anggota keluarga yang sering menanggung beban emosional dan ekonomi yang besar. Dalam jangka panjang, fenomena hikikomori dapat perlahan menghambat keseimbangan sosial dan ekonomi masyarakat.

source: https://tinyurl.com/27aasdy4

Pada akhirnya, tidak semua orang memiliki kekuatan yang sama dalam menghadapi tuntutan sosial. Hikikomori mencerminkan ketegangan antara tuntutan sosial dan kemampuan individu untuk menghadapinya. Representasi dalam anime seperti Oregairu dapat membantu menggambarkan sisi emosional dari fenomena ini. Namun, pemahaman yang lebih luas tetap diperlukan untuk melihat akar permasalahannya. Dari sudut pandang penulis, pendekatan yang manusiawi perlu diutamakan. Oleh karena itu, empati menjadi sikap yang paling dibutuhkan. Dengan demikian, stigma dapat berkurang dan proses pemulihan menjadi lebih memungkinkan.

“Di balik keheningan, sering kali ada beban yang tidak terlihat, kadang yang paling dibutuhkan seseorang bukan nasihat, tapi ruang untuk dipahami.”

Penulis: Jonathan Fistanio_2902634812