    {"id":2913,"date":"2021-06-04T00:13:37","date_gmt":"2021-06-03T17:13:37","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/?p=2913"},"modified":"2021-06-04T00:26:05","modified_gmt":"2021-06-03T17:26:05","slug":"menghidupkan-kembali-aksara-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/2021\/06\/menghidupkan-kembali-aksara-nusantara\/","title":{"rendered":"Menghidupkan kembali aksara Nusantara"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 \u00a0Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan adanya perbedaan budaya di setiap wilayah negara ini. Karena dari Sabang sampai Merauke memiliki ciri khas dan kebudayaannya masing-masing, tentunya cara mereka berkomunikasi satu sama lain juga ikut berbeda. Bahasa dapat menjadi penghubung yang tepat antara satu individu terhadap individu lainnya, selain itu dapat juga dijadikan sebagai identitas ataupun ciri khas dari masing-masing daerah tersebut. Aksara Nusantara merupakan bahasa secara tertulis yang telah muncul di Nusantara sejak berabad-abad yang lalu. Bahkan sebelum mulai berkembangnya agama islam dan sebelum bangsa-bangsa di eropa berpindah menduduki Nusantara Bahasa ini juga dihubungkan sebagai hasil akulturasi dengan kebudayaan yang dimiliki India.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 \u00a0Seiring dengan berkembangnya zaman tentunya banyak hal yang menjadi semakin canggih, kita tak hanya dapat menulis dengan sebagaimana adanya tulisan tangan namun hal tersebut sudah di digitalisasikan melalui platform-platform yang tersedia. Tidak seperti dulu, penulisan zaman sekarang sudah berubah dan semuanya menggunakan huruf alfabet. Tidak hanya di Indonesia, penggunaan dari huruf alfabet juga aktif digunakan pada seluruh negara di dunia. Bahasa Aksara tentunya masih digunakan setelah itu, namun karena tidak semua wilayah memiliki potensi yang sama dalam mempertahankannya. Hal itu menjadi sebab dari pergerakkan yang dibuat pemerintah dalam mendigitalisasi bahasa Aksara agar terkesan lebih modern.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 \u00a0Oleh karena itu, bahasa Aksara belakangan ini sempat ramai kembali. Terutama pad<\/span><span style=\"font-weight: 400\">a platform-platform media sosial, rupanya rasa khawatir akan kepunahan terhadap bahasa aksara yang sela<\/span><span style=\"font-weight: 400\">ma ini sudah sangat jarang digunakan dan terlupakan oleh generasi muda muncul kembali. Aksara yang tersebar di Nusantara juga sangat beragam tergantung pada daerah masing-masing. Dari sekian banyaknya beragam aksara nusantara yang ada,<\/span><span style=\"font-weight: 400\">berikut adalah contoh 6 aksara kuno yang sempat dik<\/span><span style=\"font-weight: 400\">abarkan terancam punah padahal sem<\/span><span style=\"font-weight: 400\">pat menjadi saksi masa kejayaan yang dirasakan Nusantara;\u00a0<\/span><\/p>\n<ol>\n<li>Aksara Pallawa<\/li>\n<li>Aksara Kawi<\/li>\n<li>Aksara Jawa<\/li>\n<li>Aksara Bali<\/li>\n<li>Aksara Sasak<\/li>\n<li>Aksara Lontara<\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-content\/uploads\/sites\/42\/2021\/06\/aksara.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-2914 aligncenter\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-content\/uploads\/sites\/42\/2021\/06\/aksara.png\" alt=\"\" width=\"286\" height=\"286\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 \u00a0Masing masing dari aksara tersebut memiliki ciri dan keunikannya masing-masing dari mulai bentuk hingga cara baca yang mereka miliki juga berbeda dan sangat menarik untuk dipelajari, namun sepertinya hal tersebut tidak dapat menimbulkan ketertarikan terhadap generasi muda jaman sekarang. Karena sempat muncul perkiraan bahwa bahasa daerah ini dapat punah dalam 75 tahun jika ditinggalkan oleh anak-anak muda yang berada di generasi sekarang. Oleh sebab itu pemerintah akhirnya mengerahkan berbagai cara untuk membangkitkan lagi bahasa aksara yang hampir punah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0 \u00a0 \u00a0Berbagai macam modernisasi dilakukan agar bahasa ini bisa tetap hidup dan disesuaikan dengan kecanggihan teknologi yang sudah ada sekarang. Beberapa tahun belakangan juga sudah banyak berbagai aplikasi, situs, hingga akun-akun dalam media sosial yang membahas serta menggiring anak-anak muda untuk mempelajari lagi bahasa aksara. Semua hal tersebut dapat kita akses dengan mudah hanya melalui smartphone yang tentunya dimiliki oleh semua orang di masa kini. Sempat juga muncul tagar #saveaksara pada platform media twitter belum lama ini, hal tersebut guna mengingatkan berbagai masyarakat Indonesia untuk tidak melupakan hal yang merupakan bagian dari identitas negaranya sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Iradio. (2021, Februari 15). 6 Aksara Indonesia Kuno Yang Terancam Punah. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Iradio<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/iradiofm.com\/6-aksara-indonesia-kuno-yang-terancam-punah\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/iradiofm.com\/6-aksara-indonesia-kuno-yang-terancam-punah\/<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Koes, A. (2021, Maret 22). Ditinggal Penutur Muda, Bahasa Daerah Punah dalam 75 Tahun. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Gatra.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/506886\/milenial\/ditinggal-penutur-muda-bahasa-daerah-punah-dalam-75-tahun\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/506886\/milenial\/ditinggal-penutur-muda-bahasa-daerah-punah-dalam-75-tahun<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rusmin, N. (2013, September). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah Aksara Nusantara<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. nurjadinrusmin.blogspot. Retrieved 5 20, 2021, from <\/span><a href=\"http:\/\/nurjadinrusmin.blogspot.com\/2013\/09\/sejarah-aksara-nusantara.html\"><span style=\"font-weight: 400\">http:\/\/nurjadinrusmin.blogspot.com\/2013\/09\/sejarah-aksara-nusantara.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">S, A. K. (2017, Juni 13). 6 Aksara Kuno Ini Menjadi Saksi Kejayaan Nusantara yang Sekarang Hampir Punah. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">yukepo.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.yukepo.com\/hiburan\/indonesiaku\/6-aksara-kuno-ini-menjadi-saksi-kejayaan-nusantara-yang-sekarang-hampir-punah\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.yukepo.com\/hiburan\/indonesiaku\/6-aksara-kuno-ini-menjadi-saksi-kejayaan-nusantara-yang-sekarang-hampir-punah\/<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiawan, H. (2021, Maret 11). &#8220;Save Aksara&#8221;, Upaya Menyelamatkan Aksara Nusantara. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kompasiana.com<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.kompasiana.com\/hendra.setiawan\/604a0a168ede481ea4735412\/save-aksara-upaya-menyelamatkan-aksara-nusantara\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.kompasiana.com\/hendra.setiawan\/604a0a168ede481ea4735412\/save-aksara-upaya-menyelamatkan-aksara-nusantara<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 \u00a0 \u00a0Sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, tentu saja kita tidak asing dengan adanya perbedaan budaya di setiap wilayah negara ini. Karena dari Sabang sampai Merauke memiliki ciri khas dan kebudayaannya masing-masing, tentunya cara mereka berkomunikasi satu sama lain juga ikut berbeda. Bahasa dapat menjadi penghubung yang tepat antara satu individu terhadap individu lainnya, selain [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":48,"featured_media":2914,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2913","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2913","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/48"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2913"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2913\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2919,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2913\/revisions\/2919"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2913"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2913"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himhi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2913"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}