    {"id":4633,"date":"2024-11-30T14:52:09","date_gmt":"2024-11-30T07:52:09","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/?p=4633"},"modified":"2024-11-30T14:52:09","modified_gmt":"2024-11-30T07:52:09","slug":"vitro-meat-solusi-inovatif-untuk-tantangan-daging-masa-depan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/2024\/11\/vitro-meat-solusi-inovatif-untuk-tantangan-daging-masa-depan\/","title":{"rendered":"Vitro Meat: Solusi Inovatif untuk Tantangan Daging Masa Depan"},"content":{"rendered":"<p>1. Key Point<br \/>\nMemproduksi daging tanpa beternak? benar, saat ini ada inovasi pangan produk daging<br \/>\nyang tidak memerlukan kegiatan beternak yaitu vitro meat. Produksi daging ini dilakukan in<br \/>\nvitro di laboratorium menggunakan bagian sel hewan. Inovasi ini muncul karena kebutuhan<br \/>\nmanusia terhadap daging yang terus meningkat tetapi industri peternakan tidak dapat dipastikan<br \/>\ndapat memenuhinya. Meskipun inovasi vitro meat menguntungkan bagi manusia dan<br \/>\nlingkungan tetapi penerimaan masyarakat terhadap daging ini tidaklah mudah karena hingga<br \/>\nsaat ini masih menjadi pro dan kontra yang menuai perdebatan.<br \/>\n2. Quotes<br \/>\n&#8220;The important thing is not to stop questioning. Curiosity has its own reason for<br \/>\nexisting.&#8221;-Albert Einstein. Melalui article ini, bersama-sama kita memperluas pengetahuan<br \/>\nmengenai salah satu inovasi pangan yang sedang trend, yaitu In-Vitro Meat.<br \/>\n3. Pendahuluan\/Latar Belakang Dasar\/Umum<br \/>\nDaging merupakan pangan hewani yang disukai banyak orang karena rasanya enak dan<br \/>\nmemiliki kandungan nutrisi seperti protein yang dapat memenuhi kebutuhan gizi manusia.<br \/>\nKandungan protein berperan sebagai zat pembangun atau pembentuk dalam tubuh. Semakin<br \/>\nbertambahnya populasi manusia, berdasarkan isu yang disampaikan oleh Food and Agriculture<br \/>\nOrganization (FAO) mendekati tahun 2050 permintaan akan daging terus meningkat hingga<br \/>\n73%. Hal tersebut tidak sebanding dengan perkembangan industri peternakan dalam<br \/>\nmemproduksi daging. Keterbatasan terjadi karena lahan yang tersedia untuk beternak semakin<br \/>\nberkurang selain itu, karena pandangan masyarakat yang negatif terhadap industri peternakan<br \/>\nkarena dapat menimbulkan penyakit, pencemaran lingkungan dan bau tidak sedap dari<br \/>\nkandang.<br \/>\nDengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan memunculkan inovasi memproduksi<br \/>\ndaging dengan teknik rekayasa jaringan atau kultur jaringan. Metode produksi daging tersebut<br \/>\ndilakukan menggunakan sel punca hewan yang diambil dari jaringan otot atau embrio untuk<br \/>\nmenghasilkan daging tanpa menyakiti atau membunuh hewan. Produksi daging sintetik ini<br \/>\ndianggap lebih efisien, ramah lingkungan, dan sehat karena efisiensi dalam menggunakan lahan<br \/>\ndan air, emisi gas rumah kaca yang dikeluarkan lebih sedikit, dan komposisi nutrisi pada daging<br \/>\ndapat dimanipulasi. Inovatif dari vitro meat ini diharapkan dapat mengatasi masalah<br \/>\nketerbatasan produksi daging juga dapat diterima oleh masyarakat karena status kehalalan yang<br \/>\nbelum dipastikan dan masyarakat kurang menyukai makanan yang tidak alami.<br \/>\n4. Produksi vitro meat<br \/>\nApakah kalian tertarik untuk mengetahui lebih dalam mengenai vitro meat ini? Mari<br \/>\nsimak lebih lanjut mengenai cara proses pembuatan dari vitro meat ini. Metode yang dapat<br \/>\ndigunakan untuk membuat vitro meat ini adalah teknik organisme sendiri dan teknologi<br \/>\nberdasarkan kerangka.<br \/>\n1) Teknik Organisasi sendiri<br \/>\nMetode ini menggunakan eksplan otot donatur yang dikulturkan dalam medium<br \/>\nnutrisi. Pada tahun 1912, Alexis Carrel berhasil mempertahankan jaringan otot ayam<br \/>\nhidup selama beberapa hari di dalam cawan Petri. Di abad ke-21, peneliti seperti<br \/>\nBenjaminson et al. merealisasikan penggunaan teknik rekayasa jaringan untuk<br \/>\npertumbuhan daging. Meskipun hasilnya menjanjikan, tantangan tetap ada, terutama<br \/>\nkurangnya sirkulasi darah dalam kultur jaringan yang membatasi viabilitas jangka<br \/>\npanjang. Tujuan adalah menciptakan daging yang memiliki struktur 3D mirip dengan<br \/>\ndaging alami, cocok untuk produk seperti steak. Oleh karena itu, langkah-langkah<br \/>\npembuatan daging ini, yaitu:<br \/>\na. Pengambilan Sampel Sel: Mengambil sel-sel otot dan lemak dari hewan hidup<br \/>\nmelalui biopsi.<br \/>\nb. Pembiakan Sel: Sel-sel ditempatkan dalam media kultur yang kaya nutrisi untuk<br \/>\nmendukung pertumbuhan dan pembelahan.<br \/>\nc. Pembentukan Jaringan: Sel-sel membentuk jaringan otot, sering kali<br \/>\nmenggunakan scaffolding untuk membantu struktur tiga dimensi.<br \/>\nd. Diferensiasi Sel: Sel-sel berkembang menjadi serat otot matang dalam kondisi<br \/>\ntertentu di bioreaktor.<br \/>\ne. Panen dan Persiapan: Jaringan otot dipanen dan dapat diproses menjadi<br \/>\nberbagai produk makanan.<br \/>\n2) Teknologi Berbasis Kerangka<br \/>\nTeknologi berbasis kerangka dalam produksi daging in-vitro menggunakan sel-<br \/>\nsel seperti sel embrionik atau sel satelit otot dewasa yang dikembangkan pada struktur<br \/>\npendukung yang disebut kerangka (scaffolding). Kerangka ini membantu sel tumbuh<br \/>\ndan berkembang menjadi jaringan daging yang lebih kompleks. Dua proposal penting<br \/>\ndalam teknologi ini adalah dari Vladimir Mironov, yang menggunakan bola kolagen,<br \/>\ndan Willem Van Eelen, yang menggunakan jaringan kolagen yang dapat diganti. Jenis-<br \/>\njenis sel yang digunakan sebagai komponen utama daging in-vitro adalah fiber otot<br \/>\nrangka yang berasal dari proliferasi dan diferensiasi mioblas atau situs satelit. Beberapa<br \/>\njenis sel yang bisa digunakan:<br \/>\na. Sel Embrionik: Memiliki potensi regeneratif yang sangat tinggi, tetapi dapat<br \/>\nmengalami masalah seperti mutasi genetik dan kesulitan dalam kontrol<br \/>\ndiferensiasi.<br \/>\nb. Satelit Otot: Dipandang sebagai pilihan terbaik untuk produksi daging karena<br \/>\nefisiensinya dalam regenerasi otot.<br \/>\nc. Stem Dewasa: Dapat berdiferensiasi menjadi jenis sel tertentu, tetapi memiliki<br \/>\nrisiko transformasi menjadi sel kanker.<br \/>\nPada akhirnya, terdapat perbedaan langkah-langkah pembuatan antara teknik<br \/>\norganisasi sendiri dengan menggunakan teknologi berbasis kerangka. Berikut adalah<br \/>\ncara pembuatan vitro meat jika menggunakan teknologi basis kerangka.<br \/>\na. Pengambilan Sel: Sel-sel otot dan lemak diambil dari hewan hidup melalui<br \/>\nbiopsi.<br \/>\nb. Pembiakan Sel: Sel-sel ditempatkan dalam media kultur yang kaya nutrisi dan<br \/>\ndibiakkan dalam bioreaktor untuk mendukung pertumbuhan.<br \/>\nc. Penggunaan Scaffolding: Sel-sel yang telah dibesarkan ditempatkan pada<br \/>\nstruktur kerangka (scaffold) yang dirancang khusus untuk membantu<br \/>\npembentukan jaringan tiga dimensi yang menyerupai daging asli.<br \/>\nd. Diferensiasi Sel: Sel-sel mengalami diferensiasi menjadi serat otot matang di<br \/>\nbawah kondisi kultur tertentu.<br \/>\ne. Panen dan Pemrosesan: Jaringan otot dipanen dan diproses menjadi<br \/>\n5. Keunggulan &amp; Kutipan<br \/>\nBukankah lebih baik kita beralih ke daging kultur apabila kita dapat menghindari risiko<br \/>\npenyakit menular? Memilih daging kultur atau vitro meat memang dapat mengurangi risiko<br \/>\nterpapar penyakit menular. Daging kultur dianggap memiliki kelebihan dalam persoalan<br \/>\nkebersihan. Ini dikarenakan daging kultur tidak diproduksi dari hewan ternak konvensional<br \/>\nyang membuat daging kultur unggul dari segi kesehatan. Hal-hal seperti penyakit maupun<br \/>\nkontaminasi bakteri yang berbahaya dapat dicegah oleh para ilmuwan sehingga produsen<br \/>\ndaging dapat dijaga kualitas dan kesehatannya. Selain itu, beberapa ilmuwan mengatakan<br \/>\nbahwa pembuatan vitro meat dapat di kontrol komposisi nutrisinya, adanya penambahan bahan<br \/>\nyang dapat meningkatkan kesehatan, mengurangi komponen-komponen yang berbahaya, dan<br \/>\nsenyawa bioaktif yang disesuaikan sehingga vitro meat dapat berpotensi menjadi makanan<br \/>\nfungsional. Berdasarkan studi artikel Chotelersak et al. (2024), daging kultur dapat<br \/>\ndimanfaatkan untuk para individual yang memiliki restriksi diet atau masalah kesehatan.<br \/>\nDaging kultur yang digunakan sebagai terapi diet dapat diubah komposisi nutrisinya<br \/>\nberdasarkaan kebutuhan individu.<br \/>\n6. Tantangan dan kontroversi<br \/>\nSalah satu tantangan utama dalam pengembangan daging kultur adalah biaya produksi<br \/>\nyang sangat tinggi. Media kultur seperti fetal bovine serum (FBS), yang berasal dari darah anak<br \/>\nsapi, merupakan komponen utama yang tidak hanya mahal tetapi juga bertentangan dengan<br \/>\nprinsip keberlanjutan dan etika vegan. Meskipun ada upaya mengganti FBS dengan media<br \/>\nsintetik atau berbasis tumbuhan, pengembangannya masih terbatas dan memerlukan investasi<br \/>\nbesar dalam penelitian. Selain itu, menciptakan tekstur, rasa, dan kandungan nutrisi yang<br \/>\nserupa dengan daging alami juga merupakan tantangan teknologi yang kompleks. Proses<br \/>\nproduksi daging kultur memerlukan lingkungan laboratorium terkendali dengan kebutuhan<br \/>\nenergi yang tinggi, yang dapat mengurangi klaim bahwa teknologi ini lebih ramah lingkungan<br \/>\ndibandingkan peternakan tradisional, terutama jika sumber energi tidak berasal dari sumber<br \/>\nterbarukan.<br \/>\nKontroversi juga muncul terkait penerimaan sosial dan aspek regulasi. Secara agama,<br \/>\nkehalalan daging kultur masih menjadi perdebatan, terutama jika bahan awal atau proses<br \/>\nproduksinya tidak sesuai dengan hukum agama tertentu, seperti Islam atau Yahudi. Dalam<br \/>\nbudaya tertentu, seperti masyarakat yang menghargai tradisi dan keaslian makanan, daging<br \/>\nkultur dianggap kurang otentik dan tidak alami. Stigma ini diperparah oleh kurangnya<br \/>\npemahaman publik terhadap teknologi yang digunakan, yang sering kali dianggap sebagai<br \/>\nproses &#8220;buatan laboratorium&#8221; yang asing. Dari sisi regulasi, standar keamanan pangan dan<br \/>\npelabelan belum seragam secara global. Banyak negara masih berada dalam tahap awal untuk<br \/>\nmenyusun kebijakan yang mendukung pemasaran daging kultur, yang pada akhirnya<br \/>\nmemperlambat penerimaan pasar secara luas. Semua tantangan ini memerlukan pendekatan<br \/>\nterpadu yang melibatkan penelitian, edukasi publik, dan harmonisasi regulasi untuk<br \/>\nmemastikan bahwa produk ini dapat diterima dan memberikan manfaat yang nyata bagi<br \/>\nmasyarakat.<br \/>\n7. Kesimpulan<br \/>\nVitro meat menawarkan potensi besar dalam memenuhi kebutuhan daging global yang<br \/>\nterus meningkat, dengan keuntungan dalam efisiensi sumber daya, keberlanjutan, dan<br \/>\nkesehatan. Meskipun teknologi ini menjanjikan, tantangan besar seperti biaya produksi yang<br \/>\ntinggi, kontroversi sosial, dan ketidakpastian regulasi masih menghalangi penerimaan luasnya.<br \/>\nNamun, dengan terus berkembangnya penelitian dan edukasi masyarakat, vitro meat bisa<br \/>\nmenjadi solusi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk industri pangan di masa<br \/>\ndepan.<br \/>\n8. Referensi<br \/>\nBryant, C. J. (2020). Culture, meat, and cultured meat. Journal of Animal Science, 98(8).<br \/>\nhttps:\/\/doi.org\/10.1093\/jas\/skaa172<br \/>\nChotelersak, K., Teerawongsuwan, S., Suwan, N., Saipin, N., Jaisin, Y., Suriyut, J., Boonprom,<br \/>\nP., Dorn-in, S., &amp; Rungsiwiwut, R. (2024). In vitro cultured meat: Nutritional aspects<br \/>\nfor the health and safety of future foods. Trends in Sciences, 22(2), 1\u201314.<br \/>\nhttps:\/\/doi.org\/10.48048\/tis.2025.9060<br \/>\nChriki, S., &amp; Hocquette, J.-F. (2020). The myth of cultured meat: A review. Frontiers in<br \/>\nNutrition, 7(7). https:\/\/doi.org\/10.3389\/fnut.2020.00007<br \/>\nLangitsari, I. (2023). Kontroversi daging sintetik: antara kemajuan teknologi dan isu kehalalan.<br \/>\nJurnal Yaqhzan, 9(1), 73-82.<br \/>\nhttp:\/\/www.syekhnurjati.ac.id\/jurnal\/index.php\/yaqzhan\/index<br \/>\nRahmawati, R. N. (2023). Analisis kesejahteraan hewan dan status halal daging kultur<br \/>\nlaboratorium dalam perspektif iptek dan hukum islam. Kaunia : Integration and<br \/>\nInterconnection of Islam and Science Journal, 19(1), 29-34. http:\/\/ejournal.uin-<br \/>\nsuka.ac.id\/saintek\/kaunia<br \/>\nSharma, S., Thind, S. S., &amp; Kaur, A. (2015). In vitro meat production system: why and how?<br \/>\nJournal of Food Science and Technology, 52(12), 7599\u20137607.<br \/>\nhttps:\/\/doi.org\/10.1007\/s13197-015-1972-3<br \/>\nUmboh, E. O., Sitoayu, L., Tambunan, M., &amp; Fitri, Y. P. (2023). Persepsi masyarakat mengenai<br \/>\nin-vitro meat atau daging buatan terhadap kesehatan sebagai solusi sumber makanan di<br \/>\nmasa depan. Nutrire Diaita, 15(1), 1\u20139.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1. Key Point Memproduksi daging tanpa beternak? benar, saat ini ada inovasi pangan produk daging yang tidak memerlukan kegiatan beternak yaitu vitro meat. Produksi daging ini dilakukan in vitro di laboratorium menggunakan bagian sel hewan. Inovasi ini muncul karena kebutuhan manusia terhadap daging yang terus meningkat tetapi industri peternakan tidak dapat dipastikan dapat memenuhinya. Meskipun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":82,"featured_media":4466,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11,10],"tags":[],"class_list":["post-4633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-posts"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/users\/82"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4633"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4633\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4634,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4633\/revisions\/4634"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4466"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}