    {"id":1248,"date":"2018-07-25T21:52:32","date_gmt":"2018-07-25T14:52:32","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/?p=1248"},"modified":"2018-07-29T12:15:11","modified_gmt":"2018-07-29T05:15:11","slug":"penyebab-rasa-pedas-pada-cabai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/2018\/07\/penyebab-rasa-pedas-pada-cabai\/","title":{"rendered":"PENYEBAB RASA PEDAS PADA CABAI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\">Vega Veniranda \/ 2101658565<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-1249\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-content\/uploads\/sites\/76\/2018\/07\/cabai-640x425.jpg\" alt=\"\" width=\"453\" height=\"301\" srcset=\"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-content\/uploads\/sites\/76\/2018\/07\/cabai-640x425.jpg 640w, https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-content\/uploads\/sites\/76\/2018\/07\/cabai.jpg 700w\" sizes=\"auto, (max-width: 453px) 100vw, 453px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber : naturalmedicine.com<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Jika kita mendengar kata\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/cabai\">cabai<\/a>, yang ada di pikiran kita pasti rasanya yang pedas. Apa yang membuat\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/cabai\">cabai<\/a>\u00a0itu pedas ya? Ternyata\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/cabai\">cabai<\/a>\u00a0bisa pedas karena mengandung\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/kapsaisin\">kapsaisin<\/a>, yaitu bahan kimia yang tidak berbau. Nah,\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/kapsaisin\">kapsaisin<\/a>\u00a0ini ada di dalam biji\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/cabai\">cabai<\/a>\u00a0yang berwarna putih. Jika kita menggigit biji\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/cabai\">cabai<\/a>\u00a0itu, maka\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/kapsaisin\">kapsaisin<\/a>\u00a0akan memberikan sensasi terbakar atau panas pada lidah. Ini yang kita kenal sebagai rasa pedas. Lidah kita dapat merasakan manis, asam, asin, dan pahit saja, sedangkan sensasi pedas itu bukanlah rasa yang bisa dideteksi lidah, melainkan rasa panas atau pedas dari\u00a0<a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/tag\/kapsaisin\">kapsaisin<\/a>.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Apa yang kita sebut dengan sebutan rasa pedas sebenarnya bukanlah rasa yang sesungguhnya, karena rasa itu sendiri yang terdiri dari manis, pahit, asam dan asin merupakan zat kimia yang diidentifikasi oleh reseptor syaraf tertentu di bagian atas lidah.Sedangkan yang kita sebut dengan rasa pedas sebetulnya tidak hanya dapat dirasakan di lidah, namun di seluruh tubuh terlebih di daerah selaput lendir yang memiliki kepekaan atau sensitifitas lebih tinggi.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Lalu apa sebenarnya rasa pedas itu, dan zat seperti apa yang menyebabkannya?. Rasa pedas sebenarnya adalah sensasi yang ditimbulkan dari semacam iritasi ringan dengan penyebabnya adalah sebuah zat yang dinamakan\u00a0Kapsaisin\u00a0\/\u00a0Capsaicin.\u00a0Kapsaisin adalah sejenis zat kimia yang menimbulkan sensasi rasa terbakar terhadap reseptor syaraf tertentu, sehingga otak merespon seperti pada suhu panas. Maka dari itu Kapsaisin dapat menimbulkan rasa panas jika terkena kulit dan efek yang berlebihan menimbulkan bekas yang sama seperti kulit kita baru saja terkena api atau sumber panas. Namun kapsaisin tidak berlaku untuk beberapa binatang tertentu seperti unggas (burung, ayam dan sebagainya) karena mereka tidak memiliki reseptor yang bereaksi terhadap kapsaisin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Tahukah kamu bagian cabai mana yang terpedas? Menurut ahli Teknologi Hasil Pertanian dari UGM, Dr Ir Wahyu Supartono, bagian terpedas dari cabai adalah bagian tengahnya. Saat anda membuka cabai, disitu terlihat biji-biji menempel pada sebuah bagian yang terlihat seperti sumbu, pas di tengah buah cabai. \u201cCicipi itu, itu yang bagian yang paling pedas,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dalam industri pembuatan sambal botolan misalnya, seorang pekerja yang bertugas sebagai Quality Control yang ingin menentukan cabe itu layak untuk dijadikan sambal atau tidak, biasa mengukur kepedasan cabai melalui cara ini. \u201cCabai dibuka, bagian tengahnya diambil dan ditempelkan ke lidahnya,\u201d Cabai yang\u00a0 tingkat kepedasannya bagus, selain dicicipi bagian tengahnya, juga bisa diketahui melalui uji klinis di pabrik. Cabai yang benar-benar berkualitas tinggi, jika diencerkan dalam air selama 400 kali, harus tetap pedas. \u201cKalau tidak pedas lagi, berarati kualitasnya tidak bagus,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kapsaisin dapat diukur dengan skala\u00a0Scoville,\u00a0yaitu skala yang mengukur tingkat kepedasan atau kadar kapsaisin dari produk tumbuhan, karena ternyata bukan hanya cabai yang menghasilkan rasa pedas. Namun tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan kapsaisin selain cabai hanya memiliki tingkat kepedasan yang rendah sehingga jarang dipakai sebagai sumber rasa pedas. Sampai saat ini berbagai penelitian telah dilakukan terkait kapsaisin ini, dengan mengukur berbagai spesies cabai yang memiliki kadar kapsaisin beragam. Data yang diperoleh menunjukkan kalau kadar kapsaisin yang paling tinggi ditemukan pada cabai India dengan kadar lebih dari 850 ribu Scoville, sedangkan cabai pada umumnya hanya memiliki kadar kapsaisin tidak lebih dari 100 ribu Scoville. Bisa dibayangkan seberapa kuat pedasnya, namun bagi para pecinta makanan pedas sepertinya cabai India menjadi sesuatu yang diidamkan untuk dicoba.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sumber :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/bobo.grid.id\/read\/08675482\/apa-yang-menyebabkan-rasa-pedas-pada-cabai?page=all\">http:\/\/bobo.grid.id\/read\/08675482\/apa-yang-menyebabkan-rasa-pedas-pada-cabai?page=all<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/jajanpinggiran.blogspot.com\/2014\/09\/zat-penyebab-rasa-pedas-pada-cabai.html\">http:\/\/jajanpinggiran.blogspot.com\/2014\/09\/zat-penyebab-rasa-pedas-pada-cabai.html<\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/gaya-hidup\/kuliner\/11\/11\/29\/lvekso-mana-bagian-terpedas-dari-cabai\">https:\/\/www.republika.co.id\/berita\/gaya-hidup\/kuliner\/11\/11\/29\/lvekso-mana-bagian-terpedas-dari-cabai<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Vega Veniranda \/ 2101658565 Sumber : naturalmedicine.com Jika kita mendengar kata\u00a0cabai, yang ada di pikiran kita pasti rasanya yang pedas. Apa yang membuat\u00a0cabai\u00a0itu pedas ya? Ternyata\u00a0cabai\u00a0bisa pedas karena mengandung\u00a0kapsaisin, yaitu bahan kimia yang tidak berbau. Nah,\u00a0kapsaisin\u00a0ini ada di dalam biji\u00a0cabai\u00a0yang berwarna putih. Jika kita menggigit biji\u00a0cabai\u00a0itu, maka\u00a0kapsaisin\u00a0akan memberikan sensasi terbakar atau panas pada lidah. Ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":83,"featured_media":1273,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[11],"tags":[15,30,33,23,34],"class_list":["post-1248","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-food","tag-cabai","tag-faktaunik","tag-funfact","tag-science"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/users\/83"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1248"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1250,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1248\/revisions\/1250"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1248"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1248"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himfoodtech\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1248"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}