    {"id":4277,"date":"2021-08-28T01:35:02","date_gmt":"2021-08-27T18:35:02","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/?p=4277"},"modified":"2021-08-29T22:40:23","modified_gmt":"2021-08-29T15:40:23","slug":"makna-simbolik-dibalik-interior-bangunan-klenteng","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/2021\/08\/makna-simbolik-dibalik-interior-bangunan-klenteng\/","title":{"rendered":"Makna Simbolik Bangunan Klenteng"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiap Tahun Baru Cina mendatang, para penganut agama Tionghoa bersama-sama pergi beribadah di Klenteng. Klenteng merupakan tempat dimana para penganut agama Tradisional Tionghoa di Indonesia beribadah. Asal mula kata \u201cKlenteng\u201d sendiri pun belum ada yang pasti, akan tetapi banyak yang mempercayai bahwa kata \u201cKlenteng\u201d berasal dari bunyi-bunyi lonceng yang berada di Klenteng ketika sedang dijalankannya ibadah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/11.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4323\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/11.png\" alt=\"\" width=\"850\" height=\"518\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada dasarnya, struktur bangunan Klenteng berarsitektur tradisional Tionghoa. Selain berfungsi sebagai tempat aktivitas spiritual, Klenteng juga berguna sebagai tempat aktivitas sosial masyarakat. Klenteng pada dasarnya terbagi menjadi 4 bagian, yakni halaman depan, ruang suci dalam, ruang tambahan, dan bangunan samping. Masing-masing dari bagian Klenteng tersebut memiliki fungsinya tersendiri.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bentuk arsitektur Klenteng memiliki aspek fisik dan non-fisik. Aspek- aspek fisik dari Klenteng terdiri dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Courtyard <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atau halaman terbuka, bentuk atap yang khas, penggunaan warna, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jin dan Lu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, axial planning, serta elemen- elemen struktur. Sedangkan aspek non fisik dari bangunan Klenteng adalah metode <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fengshui <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan Konfusianisme.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Aspek Fisik<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>a. Halaman<\/b><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/sumber-darevan.wordpress.com_.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4338\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/sumber-darevan.wordpress.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"512\" height=\"384\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Courtyard merupakan halaman terbuka yang biasanya banyak ditemukan di rumah-rumah China. Ruang terbuka ini bersifat privat dan biasanya digabung dengan kebun atau tanam-tanaman. Pada umumnya, rumah-rumah di China Utara memiliki courtyard lebih dari satu, berbeda dengan rumah-rumah China Selatan dimana banyak orang Tionghoa Indonesia berasal, memiliki courtyard yang lebih sempit karena lebar kavling tidak terlalu besar.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>b. Bentuk Atap<\/b><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/12.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4324\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/12.png\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"322\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada umumnya, struktur atap bangunan rumah China berbentuk landai. Terdapat 5 tipe atap yang dapat ditemukan di rumah-rumah China ; Atap jurai (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Wu Fien<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), atap pelana dengan tiang-tiang kayu ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hsuan Shan ), <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">atap pelana dengan dinding tembok (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Ngang Shan)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, kombinasi atap jurai dengan atap pelana ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hsuan Shan )<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan atap piramida ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Tsuan Tsien )<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Lengkungan atap dan kuda-kuda pelana ditopang oleh jajaran tiang-tiang yang terbuat dari balok padat, bundar dan persegi, yang membentuk kuda-kuda atap.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Khusus pada bangunan beratap pelana, dindingnya memiliki jenis samping yang unik dan sering ditemukan pada bangunan di China bagian Selatan; Tangga, Busur, Lurus, Lima Puncak Surga, dan Kucing Merayap. Dua jenis dinding pelana yang paling umum bermotif v dan kucing merayap. Motif-motif seperti bentuk kupu-kupu dengan lonceng atau vas dan kelelawar dapat ditemukan di puncak samping dinding pelana karena motif-motif ini melambangkan keberuntungan dan juga dipercaya dapat membawa perlindungan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Elemen Struktur<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Salah satu keahlian para orang Tionghoa adalah kerajinan ragam hias dan konstruksi kayu. Ukiran-ukiran dari konstruksi kayu dapat terlihat pada bangunan-bangunan khas Tionghoa. Detail-detail konstruktif yang dapat berupa penyangga atap ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tou kung <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) atau pertemuan antara kolom dan balok, bahkan rangka atapnya dibuat dengan sangat indah sehingga tidak perlu ditutupi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Penggunaan Warna\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warna-warna yang digunakan pada arsitektur bangunan Tionghoa memiliki arti-arti yang bermakna. Berikut adalah warna-warna yang digunakan pada bangunan arsitektur Tionghoa beserta artinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Merah<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warna merah merupakan warna yang melambangkan api dan warna arah selatan. Warna merah dipercayai membawa keberuntungan dan kemakmuran, dan juga melambangkan kebenaran dan ketulusan hati. Pada arsitektur bangunan-bangunan Tionghoa, penggunaan warna merah dapat ditemukan di bagian kolom, dinding dan ornamen- ornamen bangunan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Kuning<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warna kuning merupakan warna tanah. Didalam arsitektur bagunan Tionghoa, penggunaan warna kuning sering didapatkan di bagian dinding dan ornamen hias pada bangunan klenteng. Warna kuning melambangkan kemakmuran dan sikap optimis serta umur yang panjang dan kekayaan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Biru<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warna biru merupakan warna yang menyerupai elemen air dan merupakan lambang arah timur. Warna biru juga melambangkan suatu kedudukan atau jabatan. Warna ini sering ditemukan di bagian atap dan dinding.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Hijau<\/span><\/i><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Warna hijau sering dikaitkan dengan keberuntungan ( rezeki yang melimpah ). Warna hijau sering digunakan sebagai elemen dekorasi, balok dan braket.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Jin dan Lu<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jin dan Lu merupakan bagian unit dari tataan massa bangunan yang berbentuk segi empat. Umumnya, Jin dan Lu merupakan ruangan yang diberi pembatas dinding atau hanya dibatasi oleh kolom-kolom. Jin merupakan aksis longitudinal yang membujur sesuai dengan peletakkan massa bangunan utama. Lu merupakan aksis Lu longitudinal yang melintang sesuai dengan peletakkan massa bangunan sekunder.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/13.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4325\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/13.png\" alt=\"\" width=\"230\" height=\"219\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Axial planning\u00a0\u00a0<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ciri khas dari arsitektur bangunan Tionghoa adalah penerapan bentuk yang simetris orthogonal\u00a0 pada bagian denah dan potongan bangunan. Prinsip tersebut berasal dari kosmologi Tionghoa. Pada arsitektur Tionghoa, bagian selasar atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">hall <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ditempatkan dengan sejajar sepanjang aksis membujur ( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jin )<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dengan susunan orthogonal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bentuk dasar bangunan khas Tionghoa merupakan persegi panjang sebagai bentuk denah ruang dengan ruang-ruangan yang menyatu dengan keseluruhannya. Arsitektur Tionghoa memiliki komposisi bentuk persegi dan persegi panjang dengan variasi yang ragam sesuai dengan fungsi dan kebutuhan ruang dalam bangunan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Aspek Non- Fisik<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Fengshui<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Fengshui <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">merupakan metode untuk menentukan suatu arah serta orientasi dari suatu kota, rumah dan bangunan- bangunan lainnya dengan tujuan memperoleh energi atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Qi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dari elemen-elemen alam pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">landscape<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> seperti air, tanah, angin , dan api, serta elemen- elemen celestial yakni seperti langit dan matahari.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Praktik <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fengshui<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> ini sudah suda ada sejak sebelum adanya ajaran Taoisme dan hingga sekarang teknik ini sering digunakan oleh beberapa kalangan masyarakat Tionghoa sebagai manifestasi dari harmonisasi kehidupan dengan kekuatan alam. Filosofi utama dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fengshui<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah Yin dan Yang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><b>Konfusianisme<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Penerapan ajaran konfusianisme dapat ditemukan pada penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> pada bangunan- bangunan Tionghoa. Keberadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tersebut membentuk suatu \u201cdunia kecil\u201d sebagai ruang privat terbuka dan sejalan dengan prinsip <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fengshui<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dalam mengupayakan masuknya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Qi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">dari alam ke dalam bangunan.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk menyebar ratakan energi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Qi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tersebut, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> tersebut selalu diletakkan pada bagian tengah bangunan pada sumbu membujur atau <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Jin<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> utama. Ruang- ruang yang mengelilingi courtyard dikomposisikan secara simetris terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> agar mampu menyerap energi alam secara optimal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Keberadaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">courtyard<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> didasarkan pada prinsip Konfusianisme bahwa manusia harus dekat dengan elemen tanah untuk memperoleh kesejahteraan dan kemakmuran hidup.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/14.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-4326\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2021\/08\/14.png\" alt=\"\" width=\"728\" height=\"546\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">REFERENCES :<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">https:\/\/media.neliti.com\/media\/publications\/245864-kajian-arsitektural-dan-filosofis-budaya-89845f4f.pdfhttps:\/\/economy.okezone.com\/read\/2016\/02\/04\/470\/1304657\/klenteng-bangunan-arsitektur-khas-tionghoa<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setiap Tahun Baru Cina mendatang, para penganut agama Tionghoa bersama-sama pergi beribadah di Klenteng. Klenteng merupakan tempat dimana para penganut agama Tradisional Tionghoa di Indonesia beribadah. Asal mula kata \u201cKlenteng\u201d sendiri pun belum ada yang pasti, akan tetapi banyak yang mempercayai bahwa kata \u201cKlenteng\u201d berasal dari bunyi-bunyi lonceng yang berada di Klenteng ketika sedang dijalankannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":4305,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[21],"tags":[16,19,15,14],"class_list":["post-4277","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-culture","tag-dkv","tag-dkv-life","tag-dkvoi","tag-himdkv"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4277","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4277"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4277\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4340,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4277\/revisions\/4340"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4305"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4277"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4277"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4277"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}