    {"id":3998,"date":"2021-05-03T13:51:21","date_gmt":"2021-05-03T06:51:21","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/?p=3998"},"modified":"2021-05-28T14:04:06","modified_gmt":"2021-05-28T07:04:06","slug":"mengenal-sosok-raden-saleh","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/2021\/05\/mengenal-sosok-raden-saleh\/","title":{"rendered":"Mengenal Sosok Raden Saleh"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/upload.wikimedia.org\/wikipedia\/commons\/3\/3a\/Carl_Johann_Baehr_-_Portr%C3%A4t_des_Raden_Saleh_Syarif_Bustaman.jpg\" alt=\"Raden Saleh - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas\" width=\"474\" height=\"635\" \/><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Raden Saleh Syarif Bustaman atau dikenal sebagai Raden Saleh merupakan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> yang <\/span><span style=\"font-weight: 400\">lahir pada bulan Mei 1811 di Teroboyo, Semarang, Jawa Tengah.\u00a0 <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Beliau ialah seorang pelopor atau perintis seni lukis modern di Indonesia<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Beliau juga merupakan pelukis pertama Indonesia yang berkarya di kancah Internasional.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemampuannya dalam seni lukis dimulai pada tahun 1822, ia didaftarkan belajar di sebuah sekolah bangsawan pribumi.<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> Teman-temannya sangat yakin dengan kemampuan melukisnya karena kebiasaan melukisnya. Bahkan Raden Saleh dilirik pemerintah Hindia-Belanda berkat kemampuannya mengolah pikiran hingga menjadi sebuah karya lukis yang begitu indah dan dikagumi. <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Pada Tahun 1829, beliau berhijrah ke Belanda untuk Belajar. Disana ia <\/span><span style=\"font-weight: 400\">memperdalam bahasa Belanda hingga belajar teknis melukis di Istana kerajaan Belanda Cornelis Kruesemen.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ia menghabiskan 25 tahun masa hidupnya di Eropa<\/span><span style=\"font-weight: 400\">. Bahkan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">beberapa peneliti dan penulis menyebut beliau sebagai \u2018manusia modern\u2019 Jawa pertama yang memiliki pola pikir ala Barat. D<\/span><span style=\"font-weight: 400\">alam pergaulannya di kalangan elit aristrokat dan intelektual. Selain pelukis, Raden Saleh juga dikenal sebagai kolektor dokumen etnografi dan arkeologi, arsitek, paleontolog, perancang pertamanan, pendiri berbagai taman marga satwa, serta perancang busana.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Raden Saleh dalam sepanjang karirnya mengerjakan karya lukisan potret, pemandangan alam, dan tema-tema Romantik seperti perburuan binatang, badai di lautan, dan bencana alam. Karya-karyanya juga menyangkut kehidupan manusia dan binatang yang bergulat dalam tragedi.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter\" src=\"https:\/\/gasbanter.com\/wp-content\/uploads\/2019\/10\/biografi-raden-saleh-2-edited.jpg\" alt=\"Biografi Raden Saleh, Pelopor Seni Lukis Modern Indonesia\" width=\"574\" height=\"328\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Satu-satunya lukisan historis yang diciptakan sekaligus merupakan karya utama dari Raden Saleh adalah Penangkapan Pangeran Diponegoro .<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Yang mana lukisan tersebut menggambarkan bahwa Raden Saleh tidak menyukai penindasan serta mempercayai idealisme kebebasan dan kemerdekaan.<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> Namun <\/span><span style=\"font-weight: 400\">Karya-karya Raden Saleh juga dikoleksi oleh kolektor dan museum terpandang di Eropa hingga Amerika seperti Museum Louvre di Perancis, Rijksmuseum di Belanda, dan Smithsonian American Art Museum di Amerika Serikat. Galeri Nasional Indonesia juga memiliki koleksi beberapa karya Raden Saleh, salah satunya adalah Kapal Karam Dilanda Badai .<\/span><span style=\"font-weight: 400\">Berbagai macam penghargaan mengalir dari hasil karya Raden Saleh baik penghargaan mancanegara maupun dari indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Namun sayangnya tokoh kebanggaan bangsa kita<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> ini tutup usia di umurnya yang ke-69 tahun di Bogor pada tanggal 23 April 1880.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi ;\u00a0<\/span><\/p>\n<p>https:\/\/www.minews.id<\/p>\n<p>https:\/\/m.merdeka.com<\/p>\n<p>https:\/\/narasisejarah.id<\/p>\n<blockquote class=\"wp-embedded-content\" data-secret=\"xsAVzNnWAQ\"><p><a href=\"https:\/\/kebudayaan.kemdikbud.go.id\/\">Direktorat Jenderal Kebudayaan<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><iframe loading=\"lazy\" class=\"wp-embedded-content\" sandbox=\"allow-scripts\" security=\"restricted\" style=\"position: absolute; visibility: hidden;\" title=\"&#8220;Direktorat Jenderal Kebudayaan&#8221; &#8212; Direktorat Jenderal Kebudayaan\" src=\"https:\/\/kebudayaan.kemdikbud.go.id\/embed\/#?secret=qdTnKqXeYW#?secret=xsAVzNnWAQ\" data-secret=\"xsAVzNnWAQ\" width=\"500\" height=\"282\" frameborder=\"0\" marginwidth=\"0\" marginheight=\"0\" scrolling=\"no\"><\/iframe><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Raden Saleh Syarif Bustaman atau dikenal sebagai Raden Saleh merupakan pelukis Indonesia beretnis Arab-Jawa yang lahir pada bulan Mei 1811 di Teroboyo, Semarang, Jawa Tengah.\u00a0 Beliau ialah seorang pelopor atau perintis seni lukis modern di Indonesia. Beliau juga merupakan pelukis pertama Indonesia yang berkarya di kancah Internasional.\u00a0 Kemampuannya dalam seni lukis dimulai pada tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":4038,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[59,21],"tags":[],"class_list":["post-3998","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","category-culture"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3998","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3998"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3998\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4002,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3998\/revisions\/4002"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4038"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3998"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3998"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3998"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}