    {"id":5738,"date":"2025-06-23T00:44:32","date_gmt":"2025-06-22T17:44:32","guid":{"rendered":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/?page_id=5738"},"modified":"2025-06-23T01:05:31","modified_gmt":"2025-06-22T18:05:31","slug":"mau-desain-lo-makin-cakep-kaya-doi-nih-prinsip-desain-yang-harus-lo-tau","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/articles\/mau-desain-lo-makin-cakep-kaya-doi-nih-prinsip-desain-yang-harus-lo-tau\/","title":{"rendered":"Mau Desain Lo Makin Cakep Kaya Doi? Nih Prinsip Desain Yang Harus Lo Tau!"},"content":{"rendered":"<p data-start=\"228\" data-end=\"564\">Desain yang baik bukan hanya soal \u201cCantik\u201d secara visual. Desain yang baik adalah hasil dari pertimbangan matang, di mana setiap garis, warna, dan elemen memiliki fungsi dan alasan keberadaannya. Di balik setiap desain yang menarik dan profesional, tersembunyi prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi dari komposisi visual yang solid.<\/p>\n<p data-start=\"566\" data-end=\"797\">Prinsip desain membantu mengarahkan mata, menciptakan ritme visual, menyampaikan pesan dengan jelas, dan membuat keseluruhan desain terasa &#8220;nyambung.&#8221; Tanpa prinsip ini, desain bisa terasa acak, membingungkan, dan kehilangan makna.<\/p>\n<p data-start=\"799\" data-end=\"829\"><strong>Yuks kita bahas satu per satu!<\/strong><\/p>\n<h4 data-start=\"622\" data-end=\"655\">1. <strong data-start=\"629\" data-end=\"655\">Keseimbangan (Balance)<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"870\" data-end=\"1022\">Keseimbangan atau Balance dalam prinsip desain adalah tentang bagaimana elemen-elemen visual dibagi dalam sebuah bidang desain. Tujuannya adalah untuk menciptakan stabilitas dan harmoni.<\/p>\n<p data-start=\"1024\" data-end=\"1051\">Ada dua jenis keseimbangan :<\/p>\n<ul data-start=\"1053\" data-end=\"1307\">\n<li data-start=\"1053\" data-end=\"1176\">\n<p data-start=\"1055\" data-end=\"1176\"><strong data-start=\"1055\" data-end=\"1067\">Simetris<\/strong>: Elemen diseimbangkan secara merata di kedua sisi komposisi. Cocok untuk desain yang formal dan terstruktur.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"1177\" data-end=\"1307\">\n<p data-start=\"1179\" data-end=\"1307\"><strong data-start=\"1179\" data-end=\"1192\">Asimetris<\/strong>: Elemen tidak dibagi sama rata, tapi tetap seimbang secara visual. Ini memberikan kesan lebih dinamis dan menarik.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"1309\" data-end=\"1417\">Keseimbangan memberi \u201cberat\u201d visual yang setara, mencegah satu sisi desain terasa kosong atau terlalu penuh.<\/p>\n<p data-start=\"1309\" data-end=\"1417\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/06\/1000020196-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-5740 alignnone\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-content\/uploads\/sites\/11\/2025\/06\/1000020196-1.jpg\" alt=\"\" width=\"331\" height=\"198\" \/><\/a><\/p>\n<h4 data-start=\"1424\" data-end=\"1454\">2. <strong data-start=\"1430\" data-end=\"1454\">Penekanan (Emphasis)<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"1456\" data-end=\"1618\">Tidak semua elemen dalam desain memiliki bobot visual yang sama. Beberapa bagian harus lebih menonjol untuk mengarahkan perhatian audiens. Inilah peran Emphasis, tujuan Emphasis disini yaitu agar audiens melihat langsung apa yang kamu ingin sampaikan bisa dari Headline maupun langsung ke Visualnya.<\/p>\n<p data-start=\"1620\" data-end=\"1630\">Contohnya :<\/p>\n<ul data-start=\"1631\" data-end=\"1751\">\n<li data-start=\"1631\" data-end=\"1659\">\n<p data-start=\"1633\" data-end=\"1659\">Judul dengan ukuran besar.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"1660\" data-end=\"1691\">\n<p data-start=\"1662\" data-end=\"1691\">Tombol dengan warna mencolok.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"1692\" data-end=\"1751\">\n<p data-start=\"1694\" data-end=\"1751\">Foto yang diletakkan di tengah atau diberi latar kontras.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"1753\" data-end=\"1866\">Penekanan membantu menyusun <strong data-start=\"1781\" data-end=\"1800\">hierarki visual<\/strong>, yaitu urutan elemen mana yang dilihat terlebih dahulu oleh mata.<\/p>\n<p data-start=\"1753\" data-end=\"1866\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/miguelramos99.wordpress.com\/wp-content\/uploads\/2014\/09\/dominance.jpg\" alt=\"Principles of Design terms \u2013 miguelramos99\" width=\"289\" height=\"217\" \/><\/p>\n<h4 data-start=\"1873\" data-end=\"1901\">3. <strong data-start=\"1879\" data-end=\"1901\">Kontras (Contrast)<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"1903\" data-end=\"2030\">Contrast menciptakan perbedaan mencolok antara elemen-elemen dalam desain: terang vs gelap, besar vs kecil, tipis vs tebal, dll.<\/p>\n<p data-start=\"2032\" data-end=\"2054\">Manfaat utama Contrast :<\/p>\n<ul data-start=\"2055\" data-end=\"2147\">\n<li data-start=\"2055\" data-end=\"2087\">\n<p data-start=\"2057\" data-end=\"2087\">Meningkatkan keterbacaan teks.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2088\" data-end=\"2117\">\n<p data-start=\"2090\" data-end=\"2117\">Menonjolkan elemen penting.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"2118\" data-end=\"2147\">\n<p data-start=\"2120\" data-end=\"2147\">Menambah daya tarik visual.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"2149\" data-end=\"2284\">Kontras yang tepat menjadikan desain lebih hidup dan ekspresif. Tapi, terlalu banyak kontras juga bisa membuat desain terasa &#8220;berisik.&#8221;<\/p>\n<p data-start=\"2149\" data-end=\"2284\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/www.adobe.com\/uk\/express\/learn\/blog\/media_10372a36c5972000399f35cf1c91a5dadf2cf1907.png?width=750&amp;format=png&amp;optimize=medium\" width=\"402\" height=\"268\" \/><\/p>\n<h4 data-start=\"3201\" data-end=\"3232\">4. <strong data-start=\"3207\" data-end=\"3232\">Proporsi (Proportion)<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"3234\" data-end=\"3395\">Proporsi berhubungan dengan ukuran relatif antar elemen. Elemen yang lebih penting biasanya dibuat lebih besar, sementara yang kurang penting dibuat lebih kecil. Proporsi juga membantu menciptakan perspektif, kedalaman, dan komposisi visual yang menarik. Dalam poster, misalnya, judul akan lebih besar daripada detail waktu atau tempat. <strong>Prinsip ini mengajarkan bahwa ukuran bukan sekadar estetika, tapi juga komunikasi.<\/strong><\/p>\n<p data-start=\"3234\" data-end=\"3395\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/jasalogo.id\/wp-content\/uploads\/2024\/05\/1000020198.jpg\" alt=\"Tips Menerapkan Prinsip-Prinsip Dasar Desain Grafis - Jasalogo.id\" width=\"390\" height=\"234\" \/><\/p>\n<h4 data-start=\"3662\" data-end=\"3698\">5. <strong data-start=\"3668\" data-end=\"3698\">Ruang Kosong (White Space)<\/strong><\/h4>\n<p data-start=\"3700\" data-end=\"3846\">Ruang kosong adalah area yang tidak diisi elemen desain, tapi bukan berarti kosong secara fungsi. Justru, white space memberi \u201cnapas\u201d bagi desain.<\/p>\n<p data-start=\"3848\" data-end=\"3870\">Fungsinya antara lain:<\/p>\n<ul data-start=\"3871\" data-end=\"3982\">\n<li data-start=\"3871\" data-end=\"3913\">\n<p data-start=\"3873\" data-end=\"3913\">Memisahkan elemen agar tidak berdesakan.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3914\" data-end=\"3940\">\n<p data-start=\"3916\" data-end=\"3940\">Menyorot elemen penting.<\/p>\n<\/li>\n<li data-start=\"3941\" data-end=\"3982\">\n<p data-start=\"3943\" data-end=\"3982\">Meningkatkan keterbacaan dan kejelasan.<\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<p data-start=\"3984\" data-end=\"4140\">Desain yang terlalu padat bisa membuat mata cepat lelah, dan pesan jadi tenggelam. Dengan white space yang baik, desain jadi lebih elegan dan bernapas lega.<\/p>\n<p data-start=\"3984\" data-end=\"4140\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"\" src=\"https:\/\/blog.thenounproject.com\/wp-content\/uploads\/2024\/03\/white-space-1-1024x576.png\" alt=\"Graphic Design Principles: Balance and White Space - The Noun Project Blog\" width=\"496\" height=\"279\" \/><\/p>\n<p data-start=\"3984\" data-end=\"4140\"><span style=\"font-size: 14px\">Daftar Pustaka:<\/span><\/p>\n<div class=\"wp-content clear main-read the-640\">\n<ul>\n<li>https:\/\/jasalogo.id\/artikel\/tips-menerapkan-prinsip-prinsip-dasar-desain-grafis<\/li>\n<li>https:\/\/blog.thenounproject.com\/graphic-design-principles-balance-and-white-space\/<\/li>\n<li>https:\/\/international.binus.ac.id\/graphic-design\/2021\/09\/23\/the-7-principles-of-design\/?utm_source=chatgpt.com<\/li>\n<li>https:\/\/www.figma.com\/resource-library\/graphic-design-principles\/?utm_source=chatgpt.com<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<\/div>\n<ul id=\"post-tags\"><\/ul>\n<div class=\"sharer-items clear the-640\"><\/div>\n<hr data-start=\"3657\" data-end=\"3660\" \/>\n<h2 data-start=\"3662\" data-end=\"3698\"><\/h2>\n<p data-start=\"2642\" data-end=\"2719\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desain yang baik bukan hanya soal \u201cCantik\u201d secara visual. Desain yang baik adalah hasil dari pertimbangan matang, di mana setiap garis, warna, dan elemen memiliki fungsi dan alasan keberadaannya. Di balik setiap desain yang menarik dan profesional, tersembunyi prinsip-prinsip dasar yang menjadi fondasi dari komposisi visual yang solid. Prinsip desain membantu mengarahkan mata, menciptakan ritme [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":12,"featured_media":0,"parent":1374,"menu_order":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-5738","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5738","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/users\/12"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5738"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5738\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5750,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/5738\/revisions\/5750"}],"up":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/1374"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdkv\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5738"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}