    {"id":4463,"date":"2021-04-15T12:41:43","date_gmt":"2021-04-15T05:41:43","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/?p=4463"},"modified":"2021-09-24T11:09:31","modified_gmt":"2021-09-24T04:09:31","slug":"ornamen-pada-bangunan-bali-3","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/2021\/04\/15\/ornamen-pada-bangunan-bali-3\/","title":{"rendered":"ORNAMEN PADA BANGUNAN BALI"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Dalam budaya masyarakat Bali terdapat Asta Kosala Kosali yang digunakan untuk mengatur tata letak dan tata bangunan rumah atau tempat suci yang berada di Bali. Hal ini mengarah pada harmonisasi hidup antara penghuni rumah dengan lingkungannya. Selain itu, terdapat juga beberapa ornamen yang memiliki fungsi dan makna tersendiri apabila diletakkan pada bangunan. Pada umumnya, ornamen pada bangunan Bali menampilkan ragam flora dan fauna.<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/CHEERFUL.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-4407\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/CHEERFUL.jpg\" alt=\"\" width=\"355\" height=\"200\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li>FLORA<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Ornamen diambil dari bentuk dasar tumbuhan seperti jalur daun, bunga, putik, dan rating. Bentuk-bentuk tumbuhan tersebut dirangkai secara berulang-ulang dan biasanya ditampilkan sebagai ragam hias. Contoh ornamen dengan tema flora berupa <em>pepatraan<\/em> dan <em>keketusan. <\/em><\/p>\n<ul>\n<li><em>Pepatraan <\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0Pepatraan memiliki makna sebagai pelindung manusia dari rasa takut, panas dan haus dan memberikan kenyamanan bagi manusia yang tinggal di wilayah yang dihiasi pepatraan. Beberapa jenis pepatraan yang ada berupa:<\/p>\n<p>A. Patra SarI<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Patra Sari dapat dikenali dengan bagian sari bunga dan diaplikasikan pada bidang-bidang yang sempit pada bangunan. Bentuk patra sari berasal dari bentuk tumbuhan dengan jenis batang yang menjalar dan melingkar-lingkar. Ciri dari ornamen patra sari adalah sari bunga yang mendominasi atau menjadi pusat karya dan dilengkapi dengan lengkungan batang yang menjalar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4408\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4408\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 320px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4408 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/2.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"99\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4408\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">https:\/\/budaya-indonesia.org\/Pepatran<\/figcaption><\/figure>\n<p>B. Patra Samblung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Patra Sumblung diambil dari bentuk tanaman sumblung dengan bercirikan daun-daun yang lebar. Biasanya diaplikasikan pada bidang-bidang yang panjang pada bangunan karena polanya yang memanjang dan berulang. Ciri dari patra sumblung adalah batang, kelopak daun, dan dedaunan dibuat melengkung dan harmonis.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4409\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4409\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 320px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4409 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/3.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"99\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4409\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">https:\/\/budaya-indonesia.org\/Pepatran<span style=\"font-size: 14px;text-align: justify\">\u00a0<\/span><\/figcaption><\/figure>\n<p style=\"text-align: justify\">C. Patra Punggel<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0Patra Punggel \u00a0diambil dari kata punggel yang berarti potongan. Patra punggel diambil dari bentuk dasar liking paku (sejenis flora dengan lengkung daun muda pohon paku). Patra Punggel biasanya digunakan untuk melengkapi kekarangan (patra fauna) atau sebagai hiasan dan merupakan ornamen yang paling banyak digunakan. Ciri dari ornamen ini terletak pada perulangan pola-pola daun yang lebar dan memanjang secara searah atau timbal balik. Selain itu, pola ini juga dapat dikombinasikan dengan patra lainnya.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4410\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4410\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 320px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/4.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4410 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/4.jpg\" alt=\"\" width=\"320\" height=\"84\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4410\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">https:\/\/budaya-indonesia.org\/Pepatran<\/figcaption><\/figure>\n<ul>\n<li><em>Keketusan<\/em><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Makna dari ornamen keketusan yaitu mengikat sifat positif seperti hidup rukun, damai sejahtera di dunia maupun akhirat dan kebutuhan sandang, pangan, papan yang terpenuhi. Ciri dari ornamen ini yaitu mengambil suatu bagian penting dari bentuk tumbuhan kemudian diolah dan dipolakan berulang. Dalam penyusunan pola keketusan memperhatikan ritme dan proporsi sehingga ornamen terlihat harmonis. Beberapa contoh dari keketusan yaitu Ornamen keketusan batun timun yang bentuknya diambil dari stiliran biji mentimun yang disusun tidak searah dan ditambahkan pola-pola organik.\u00a0 Ornamen keketusan genggong diambil dari bentuk tumbuhan kapu-kapu yang bercirikan bentuk setengah lingkaran pada ujung daun dan lebar.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4412\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4412\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 324px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKETUSAN-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4412 \" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKETUSAN-1.jpg\" alt=\"Ornamen Keketusan Batun Timun\" width=\"324\" height=\"54\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4412\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">http:\/\/gungjayack.blogspot.com\/2013\/10\/ornamen-keketusan.html<\/figcaption><\/figure>\n<figure id=\"attachment_4411\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4411\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 320px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKTUSAN-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4411 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKTUSAN-2.jpg\" alt=\"Ornamen Keketusan Genggong\" width=\"320\" height=\"68\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4411\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">http:\/\/jambika-archi.blogspot.com\/2017\/11\/ornamen-bali-keketusan.html<\/figcaption><\/figure>\n<ol style=\"text-align: justify\" start=\"2\">\n<li>FAUNA<\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Ornamen diambil dari berbagai macam bentuk binatang dan umumnya dikombinasikan dengan bentuk flora. Ukiran fauna pada bidang relief di dinding biasanya menerapkan kisah rakyat atau legenda mengenai dunia binatang. Binatang yang biasanya digunakan umumnya berkaitan dengan ceita agama atau kepercayaan masyarakat Bali seperti burung, singa, gajah, dan lainnya. Contoh ornamen berbentuk fauna berupa <em>kekarangan<\/em>.<\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li>Kekarangan<\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\">\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Makna dari <em>kekarangan<\/em> yaitu sebagai simbol kekuatan alam yang hidup di dunia sehingga bangunan dipercaya dapat terjauh dari kekuatan gaib. Bentuk dasar <em>kekarangan<\/em> menyerupai fauna khayalan dan terkadang cenderung abstrak. Umumnya, <em>kekarangan<\/em> berbentuk bagian kepala fauna yang distilir\/dideformasi dan juga ada yang dikombinasikan dengan ornamen flora. Ornamen ini biasanya diletakkan pada bagian sudut atau bagian tengah dari bangunan rumah\/ rumah adat\/bangunan suci. Berikut merupakan contoh kekarangan:<\/p>\n<p>A. Ornamen Karang Hasti\/ Asti dipercaya sebagai lambang kekuatan \/ kekokohan bangunan dan biasanya diletakkan pada bagian tengah \/ sudut dasar bangunan. Bentuk ornamen ini diambil dari kepala binatang gajah, belalai, serta gadingnya dan dilengkapi dengan ornamen <em>Patra<\/em> <em>Punggel<\/em>.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4417\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4417\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 387px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARANGAN-1.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4417 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARANGAN-1.jpg\" alt=\"\" width=\"387\" height=\"396\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4417\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">http:\/\/gungjayack.blogspot.com\/2013\/10\/ornamen-kekarangan-4.html<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>B.\u00a0Ornamen Karang Sai di ambil dari bentuk stilir binatang kelelawar dengan gigi yang tajam\/ Ornamen ini juga dikombinasikan dengan <em>Patra Punggel <\/em>dan<em> Patra Bun-bunan. <\/em>Ornamen ini dapat diletakkan di atas pintu rumah tinggal.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4416\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4416\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 392px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARANG-2.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4416 size-full\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARANG-2.jpg\" alt=\"\" width=\"392\" height=\"367\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4416\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">http:\/\/gungjayack.blogspot.com\/2013\/10\/ornamen-kekarangan-4.html<\/figcaption><\/figure>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>C.\u00a0Ornamen Karang Celeng memiliki arti bahwa kekuasaan Tuhan tidak dapat diselami oleh siapapun. Ornamen ini diambil dari cerita mencari ujung dan pangkal dari lingga Ciwa, dimana Dewa Wisnu berubah menjadi seekor celeng\/babi dan kemudian di stilir menjadi karang celeng\/babi.<\/p>\n<figure id=\"attachment_4415\" aria-describedby=\"figcaption_attachment_4415\" class=\"wp-caption clear aligncenter\" itemscope itemtype=\"http:\/\/schema.org\/ImageObject\" style=\"width: 487px\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARAMG-3.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" itemprop=\"contentURL\" class=\"wp-image-4415 \" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-content\/uploads\/sites\/12\/2021\/07\/KEKARAMG-3.jpg\" alt=\"\" width=\"487\" height=\"352\" \/><\/a><figcaption id=\"figcaption_attachment_4415\" class=\"wp-caption-text\" itemprop=\"description\">http:\/\/gungjayack.blogspot.com\/2013\/10\/ornamen-kekarangan-4.html<\/figcaption><\/figure>\n<pre>REFERENSI:<\/pre>\n<pre>https:\/\/sharingconten.com\/ragam-hias-flora-fauna-geometris-figuratif-nusantara\r\nhttps:\/\/www.arsitur.com\/2017\/12\/unsur-unsur-tampilan-arsitektur-bali.html\r\nhttp:\/\/repo.isi-dps.ac.id\/137\/1\/Keketusan_dan_Kekarangan.pdf\r\nhttps:\/\/media.neliti.com\/media\/publications\/167498-ID-pendokumentasian-aplikasi-ragam-hias-bud.pdf \r\nhttps:\/\/www.academia.edu\/6538615\/ORNAMEN_ARSITEKTUR_BALI\r\nhttps:\/\/sharingconten.com\/ragam-hias-flora-fauna-geometris-figuratif-nusantara<\/pre>\n<p style=\"text-align: justify\">\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 \u00a0 Dalam budaya masyarakat Bali terdapat Asta Kosala Kosali yang digunakan untuk mengatur tata letak dan tata bangunan rumah atau tempat suci yang berada di Bali. Hal ini mengarah pada harmonisasi hidup antara penghuni rumah dengan lingkungannya. Selain itu, terdapat juga beberapa ornamen yang memiliki fungsi dan makna tersendiri [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":13,"featured_media":4937,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[23],"tags":[],"class_list":["post-4463","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-for-interior-student"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4463","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/users\/13"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4463"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4463\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4464,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4463\/revisions\/4464"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4463"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4463"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himdi\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4463"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}