    {"id":2645,"date":"2022-03-25T23:30:04","date_gmt":"2022-03-25T16:30:04","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/?p=2645"},"modified":"2022-03-26T11:24:08","modified_gmt":"2022-03-26T04:24:08","slug":"rumah-joglo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2022\/03\/25\/rumah-joglo\/","title":{"rendered":"Rumah Joglo"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\">Oleh :\u00a0Noviola Esther \u2013 2440022454<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2022\/03\/25\/rumah-joglo\/rmh-joglo\/\" rel=\"attachment wp-att-2649\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2649\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/03\/rmh-joglo.jpg\" alt=\"\" width=\"350\" height=\"233\" \/><\/a><strong>Gambar 1.<\/strong> Rumah Joglo (Rumah.com, 2021)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang terletak di pulau Jawa dan memiliki luas wilayah sebesar 3,25 juta hektar yang juga meliputi kawasan Pulau Nusa Kambangan serta Kepulauan Karimun Jawa yang terletak di Laut Jawa, dan diperkirakan Jawa Tengah memiliki luas sekitar 25,04 dari luas wilayah pulau Jawa dan 1,7 persen dari luas wilayah Indonesia.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Provinsi ini memiliki rumah adat yang disebut dengan Joglo, yang berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna tempat tinggal khas Jawa yang memiliki atap yang menyerupai trapesium. Awalnya, rumah ini memiliki simbol untuk menunjukkan status sosial masyarakat Jawa, karena bahan yang digunakan untuk membangun rumah Joglo adalah kayu jati. Selain biaya pembangunannya yang tinggi, waktu yang dibutuhkan juga sangat lama, sehingga hanya raja, kaum bangsawan, dan orang yang berkecukupan saja yang mampu membangun rumah ini pada waktu itu.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Joglo berasal dari gabungan kata \u2018tajug\u2019 dan loro\u2019 (Juglo) yang bermakna dua gunung. Berdasarkan filosofi Jawa, gunung merupakan tempat yang tinggi dan sakral; perwujudan dari filosofi ini tampak dari bentuk atap yang menyerupai gunung dengan puncak yang datar,\u00a0 selain itu atap dari rumah Joglo ini disebut dengan \u2018Tajug\u2019.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2022\/03\/25\/rumah-joglo\/bagian-rumah-joglo\/\" rel=\"attachment wp-att-2646\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2646\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/03\/bagian-rumah-joglo.jpg\" alt=\"\" width=\"290\" height=\"358\" \/><\/a><strong>Gambar 2.<\/strong> Bagian-Bagian Rumah Joglo (Halim, 2021)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Secara umum, rumah Joglo terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Pendapa \/ Pendopo (bagian depan), Pringgitan (bagian tengah), dan Dalem (ruang utama). Bagian-bagian tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">1. <strong>Pendapa \/ Pendopo<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pendopo merupakan bangunan tambahan yang digunakan untuk menerima tamu, pertemuan formal, upacara adat, dan lain sebagainya. Bangunan ini terletak di bagian depan dari rumah Joglo. Bagian ini hanya beralaskan tikar yang bertujuan untuk menciptakan kesetaraan antara tamu dengan pemilik rumah, selain itu, bagian ini tidak memiliki dinding yang bermakna sifat orang Jawa yang ramah dan terbuka.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">2. <strong>Pringgitan<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pringgitan merupakan penghubung antara Pendopo dengan Omah, sehingga bagian ini memiliki fungsi sebagai lorong untuk memasuki rumah, selain itu, Pringgitan digunakan juga sebagai tempat bermain wayang. Atap dari bangunan ini memiliki bentuk Limasan atau Kampung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">3. <strong>Emperan<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Emperan memiliki makna bahwa dengan sesama kerabat harus memiliki rasa kekeluargaan; bagian ini digunakan sebagai teras depan; berfungsi untuk menerima tamu, namun hal yang membedakan Emperan dengan Pendopo yaitu, pada bagian ini terdapat meja dan kursi. Selain itu, Emperan juga digunakan sebagai tempat untuk bersantai dengan keluarga dan tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">4. <strong>Omah<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kata Omah berasal dari bahasa Austronesia yang berarti \u201crumah\u201d. Omah merupakan bagian utama atau dalam dari rumah Joglo yang digunakan sebagai tempat tinggal. Bagian ini memiliki lantai persegi yang luas dan lebih tinggi dari bagian lainnya, dan memiliki bentuk atap Joglo atau Limasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">5. <strong>Dalem<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dalem merupakan ruang tertutup di dalam Omah, yang terbagi menjadi tiga bagian; depan digunakan untuk aktivitas keluarga dan terdapat tempat tidur yang terbuat dari bambu; bagian tengah, awalnya, digunakan sebagai tempat beribadah untuk menghormati Dewi Sri, namun saat ini bagian ini digunakan sebagai tempat duduk pengantin saat melangsungkan upacara pernikahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">6. <strong>Senthong<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Senthong merupakan ruangan yang terdapat di bagian belakang Dalem yang terbagi menjadi tiga ruangan. Umumnya, ruangan yang terdapat di bagian samping kanan dan kiri digunakan sebagai kamar untuk anggota keluarga. Selain itu, juga digunakan untuk menyimpan hasil panen dan alat untuk pertanian. Sedangkan kamar yang berada di tengah digunakan untuk menyimpan harta dan pusaka keluarga, seperti keris. Selanjutnya, kamar ini memiliki tempat tidur yang umumnya ditempati oleh pasangan pengantin baru. Terakhir, kamar ini juga merupakan bagian yang dianggap paling suci karena memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Sri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">7. <strong>Gandhok<\/strong>:\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada bagian sebelah kiri dan kanan merupakan bagian Gandhok yang dimana bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang umumnya digunakan sebagai tempat tidur keluarga; dan tamu yang berkunjung dapat menginap di ruangan ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">8. <strong>Bagian Belakang Rumah<\/strong>:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bagian terletak paling belakang dan luar dari rumah Joglo; pada bagian ini terdapat ruang dapur, kamar mandi, dan sumur yang terletak di sebelah timur.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemudian, setiap rumah tradisional di Indonesia memiliki keunikan dan mengandung filosofi, maka dari itu, rumah Joglo juga memiliki keunikan dan mengandung filosofi, antara lain:<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Atap rumah Joglo dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">saka guru<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Atap rumah Joglo memiliki bentuk trapesium yang menjulang tinggi yang dimana melambangkan wibawa dan sifat karismatik; atap ini disangga oleh empat tiang yang merupakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">saka guru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Saka guru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> merupakan pondasi utama yang menyangga keseluruhan bangunan serta melambangkan kekuatan, kekokohan, dan kekuasaan.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Pintu utama<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Joglo memiliki tiga pintu, yaitu tengah dan terdapat di kedua sisi kanan dan kiri bawah. Peletakan pintu ini menggambarkan kupu-kupu yang tetap berusaha, berkembang, dan berjuang untuk keluarga. Selain itu, filosofi pintu yang diletakkan di tengah ini menggambarkan keterbukaan dan kedekatan antar pemilik rumah dengan tamu.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Teras<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Joglo memiliki teras yang sangat luas yang umumnya berfungsi sebagai tempat untuk berinteraksi sosial antara pemilik rumah dengan sekitarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Struktur rumah Joglo<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bangunan ini didominasi dengan kayu yang dimana mampu meredam getaran yang disebabkan oleh gempa. Pondasi rumah Joglo terbuat dari tanah yang dipadatkan atau ditinggikan yang disebut juga dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">dibrug<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Kemudian, tiang yang didirikan di atas <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">umpak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dibuat dari batu alam yang dibentuk menjadi persegi empat, bulat, atau segi delapan. Kemudian, terdapat empat tiang <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">saka guru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang umumnya berjumlah 16 buah dengan keberadaannnya memiliki fungsi yang berbeda-beda. Tiang penyangga utama berfungsi sebagai penyangga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">blandar tumpangsari<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Selanjutnya, tiang penyangga berikutnya disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">saka rowo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan tiang terluar disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">saka emper<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Keempat tiang ini juga merefleksikan arah mata angin.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Ruang Gedongan<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Secara umum, pada rumah Joglo terdapat ruangan yang dikhususkan untuk tempat perlindungan, tempat kepala keluarga mencari ketenangan batin, atau tempat untuk melaksanakan kegiatan sakral lainnya. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk beristirahat.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Pagar Mangkok<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berbeda dari rumah tradisional lainnya, rumah Joglo memiliki pagar yang disebut dengan pagar mangkok yang berasal dari tanaman perdu yang memiliki ketinggian kurang dari satu meter. Penggunaan pagar ini bermakna agar interaksi dengan sesama dapat terjalin dengan lebih mudah dan baik.<\/span><\/p>\n<ul style=\"text-align: justify\">\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Jendela\u00a0<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada rumah Joglo dapat ditemukan banyak jendela dengan ukuran besar. Bentuk jendela tersebut merupakan perpaduan antara salah satu warisan dari kolonial Belanda dengan arsitektur khas Jawa. Jendela pada rumah Joglo dapat berjumlah puluhan, yang dapat membuat rumah ini menjadi semakin unik dan berbeda.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2022\/03\/25\/rumah-joglo\/hias-1\/\" rel=\"attachment wp-att-2647\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2647\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/03\/hias-1.png\" alt=\"\" width=\"292\" height=\"214\" \/> <\/a><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-2648\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2022\/03\/hias-2.png\" alt=\"\" width=\"221\" height=\"235\" \/><span style=\"font-size: 14px\"><strong>Gambar 3.<\/strong> Ragam Hias Rumah Joglo (Iswanto, 2008)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah ini memiliki lima bentuk ragam hias yaitu flora, fauna, alam, agama, dan anyaman;<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Flora yang terdiri dari Lung-Lungan, Saton, Wajikan, Nanasan, Tlancapan, Kebenan, Patron, dan Padma;<\/span>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Lung-Lungan, berasal dari kata \u2018Lung\u2019 yang berarti batang tumbuhan melata muda, memiliki bentuk melengkung dan memiliki warna kuning emas; ragam hias ini dapat ditemukan di balok rumah, jendela, daun pintu, dan beberapa tempat lainnya.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Saton, bersal dari kata \u2018Satu\u2019 yang merupakan nama jenis makanan berbentuk kotak yang memiliki hiasan daun atau bunga. Memiliki warna dasar, merah atau hijau tua. Ragam hias ini dapat dtemukan pada berbagai tempat rumah Joglo, salah satunya pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ander<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Wajikan, memiliki bentuk belah ketupat dengan motif daun atau bunga dan memiliki warna dasar merah tua, ragam hias ini dapat ditemukan pada tiang tengah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Nanasan, memiliki bentuk menyerupai nanas dan dikenal juga dengan omah tawon atau tawonan; ragam hias ini ditemukan pada kunci <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">blandar.<\/span><\/i><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Tlacapan, berasal dari kata \u2018Tlacap\u2019 yang merupakan deretan segi tiga dan memiliki warna dasar merah atau hijau tua dan terletak pada pangkal dan ujung balok kerangka bangunan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kebenan, berasal dari kata \u2018keben\u2019 yang bermakna tuah. Berbentuk menyerupai mahkota, ditemukan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kancing blandar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Patron, berasal dari kata \u2018patra\u2019 yang bermakna daun, ditemukan pada balok-balok kerangka bangunan dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">blandar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Padma, berasal dari bentuk singgasana Buddha yang memiliki bentuk bunga Padma dan ditemukan pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Upak.<\/span><\/i><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Fauna yang terdiri dari Kemamang, Peksi Garuda, Ular Naga, Jago, dan Mirong.<\/span>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemamang, memiliki makna menelan segala sesuatu yang bersifat jahat saat hendak masuk.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Peksi Garuda, memiliki makna sebagai pemberantas kejahatan.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Ular Naga, merupakan ragam hias yang dipengaruhi oleh budaya India dan terletak pada Bubungan Rumah.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Jago, melambangkan keberanian.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mirong, melambangkan putri mungkur.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Alam yang terdiri dari Gunungan, Makutha, Praba, Kepetan, Panah, Mega Mendhung, dan Banyu Tetes.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Anyaman, umumnya tidak memiliki makna tertentu dan berfungsi untuk memperindah rumah Joglo, memiliki warna polos, dan ditemukan pada dinding atau sekat serta daun pintu.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Agama yang terdiri dari Mustaka dan Kaligrafi.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Referensi\u00a0:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Central Java Investment. (2021). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Profil Jawa Tengah. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">Diakses dari https:\/\/cjip.jatengprov.go.id\/profil-jawa-tengah<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Vannisa. (2021, September 23). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kebudayaan Jawa Tengah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses dari https:\/\/perpustakaan.id\/budaya-jawa-tengah\/<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Subroto, L. H. (2022, Januari 17). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Kompas.com. Diakses dari https:\/\/www.kompas.com\/stori\/read\/2022\/01\/17\/130000279\/sejarah-dan-filosofi-rumah-joglo?page=all<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Halim, B. (2021, September 2). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">9 Bagian-Bagian dalam Rumah Joglo yang Kaya Makna.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> Diakses dari https:\/\/www.finansialku.com\/bagian-bagian-dalam-rumah-joglo\/<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nancy, Y. (2021, Desember 10). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Keunikan Rumah Joglo Jawa Tengah\u00a0: Bagian, Filosofu, dan Jenisnya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Tirto.id. Diakses dari https:\/\/tirto.id\/keunikan-rumah-joglo-jawa-tengah-bagian-filosofi-dan-jenisnya-gmbv<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Fiona, D. (2022, Maret 1). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Indahnya Arsitektur dan Filosofi Rumah Adat Joglo, Tengok Maknanya, Yuk!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses dari https:\/\/www.orami.co.id\/magazine\/rumah-adat-joglo<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Aninsi, N. (2021, September 29). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mengenal Jenis Rumah Joglo, Bangunan Adat Suku Jawa Penuh Filosofi. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0Katadata.co.id. Diakses dari https:\/\/katadata.co.id\/intan\/berita\/615425c636ea7\/mengenal-jenis-rumah-joglo-bangunan-adat-suku-jawa-penuh-filosofi<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah.com. (2021, Mei 5). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Joglo Keunikan, Adat, dan Filosofinya.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> Diakses dari https:\/\/www.rumah.com\/panduan-properti\/rumah-joglo-48100<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Zulfikar. F. (2021, Juni 4). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Adat Joglo Berasal dari Mana? Makna dan Filosofinya. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">DetikEdu. Diakses dari https:\/\/www.detik.com\/edu\/detikpedia\/d-5592183\/rumah-adat-joglo-berasal-dari-mana-ini-makna-dan-filosofinya<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Iswanto, D. (2008). Aplikasi Ragam Hias Jawa Tradisional Pada Rumah Tinggal Baru. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Enclosure: Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> 7(2), p. 90-97. https:\/\/core.ac.uk\/download\/pdf\/11719372.pdf\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh :\u00a0Noviola Esther \u2013 2440022454 Gambar 1. Rumah Joglo (Rumah.com, 2021) Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang terletak di pulau Jawa dan memiliki luas wilayah sebesar 3,25 juta hektar yang juga meliputi kawasan Pulau Nusa Kambangan serta Kepulauan Karimun Jawa yang terletak di Laut Jawa, dan diperkirakan Jawa Tengah memiliki luas sekitar 25,04 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":2655,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-2645","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2645","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2645"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2645\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2654,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2645\/revisions\/2654"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2655"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2645"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2645"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2645"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}