    {"id":1994,"date":"2021-08-10T01:28:34","date_gmt":"2021-08-09T18:28:34","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/?p=1994"},"modified":"2021-08-10T01:28:34","modified_gmt":"2021-08-09T18:28:34","slug":"rumah-adat-krong-bade","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/08\/10\/rumah-adat-krong-bade\/","title":{"rendered":"Rumah Adat Krong Bade"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Oleh : Noviola Esther &#8211; 2440022454<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/08\/10\/rumah-adat-krong-bade\/screenshot-2021-08-10-012046\/\" rel=\"attachment wp-att-1995\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1995\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/08\/Screenshot-2021-08-10-012046.jpg\" alt=\"\" width=\"471\" height=\"357\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 1.<\/strong> Rumah Adat Krong Bade (Amelia,2021)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Provinsi Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatra. Provinsi ini juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah dikarenakan masyarakatnya menerapkan norma serta aturan hidup sesuai dengan syariat Islam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada awalnya, semua penduduk di Aceh memiliki bentuk rumah yang sama, yaitu berbentuk panggung, memiliki serambi depan, serambi tengah, dan serambi belakang. Sehingga, rumah adat Aceh merupakan rumah tradisional yang memiliki nama Rumoh Aceh atau dikenal juga dengan sebutan Rumah Krong Bade. Rumah tradisional ini merupakan berpaduan antara budaya Melayu dengan Islam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Krong Bade dibangun dengan bentuk panggung dan memiliki atap tinggi. Berdasarkan sejarahnya, rumah ini dibangun demikian untuk menghindari binatang buas. Selain itu, hal tersebut juga bertujuan untuk mengurangi kelembapan dan panas dari dalam rumah serta memperlambat pembusukan makanan yang berada di dalam rumah. Umumnya, tinggi tiang rumah ini mencapai tiga meter, hal tersebut bertujuan agar air tidak masuk ke dalam rumah jika terjadi banjir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Selain memiliki bentuk panggung, rumah ini memanjang dari timur ke barat sehingga memiliki bentuk persegi panjang dan dimaksudkan untuk memudahkan dalam menentukan arah kiblat sholat. Sebagai salah satu provinsi yang memegang nilai religius yang tinggi, selain letak rumah yang menghadap ke arah barat, setiap Rumah Krong Bade memiliki jumlah anak tangga yang ganjil, sesuai dengan kepercayaan umat Islam.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemudian, pintu rumah utama dibuat lebih rendah yaitu sekitar 120-150 cm, sehingga ketika memasuki rumah, setiap orang harus menunduk, hal ini sebagai simbol penghormatan tamu terhadap pemilik rumah. Umumnya, di bagian depan rumah Aceh ini memiliki gentong air yang digunakan untuk tempat membesihkan kaki sebelum masuk ke rumah yang menandakan bahwa setiap tamu yang berkunjung harus memiliki niat baik.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumoh Aceh dibangun dengan menggunakan bahan-bahan dari alam, yaitu berbahan dasar kayu dengan atap daun rumbia. Masyarakat Aceh tidak menggunakan paku untuk menghubungkan tiang yang satu dengan yang lainnya tetapi dengan cara mengikat kuat dengan rotan, tali ijuk, atau kulit pohon waru yang dikenal dengan nama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">taloe meu-ikat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Umumnya, Rumah Krong Bade dibagi menjadi 3 sampai dengan 5 ruangan, dan memiliki satu ruangan utama yang dikenal dengan sebutan rambat. Jumlah tiang penyangga pada rumah tradisional yang memiliki tiga ruangan berjumlah 16, sementara untuk rumah tradisional yang memiliki lima ruangan, memiliki 24 tiang penyangga. Tiang penyangga ini ditopang oleh pondasi batu besar. Dengan konstruksi tersebut, membuat rumah ini tahan gempa, selain itu, sifat ikatan pada sudut rumah ini membuat rumah ini menjadi lebih fleksibel. Sehingga, jika terjadi bencana gempa, ikatan tersebut dapat menyesuaikan dengan getaran dan bahkan merendamnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemudian, ukiran atau ornamen yang terdapat di rumah ini, menjadi simbol status sosial dari pemilik rumah. Semakin rumit dan banyak ukiran atau ornamen tersebut, menandakan bahwa pemilik rumah memiliki keadaan ekonomi yang cukup berada. Jika rumah tersebut dibangun tanpa ukiran atau ornamen menandakan bahwa pemilik rumah dari kalangan orang biasa atau kurang berada. Ukiran ini umumnya, terletak pada bagian pintu, pagar, lantai luar, pembatas atap, jendela, dan lain sebagainya, selain itu ukiran dicat dengan warna yang kontras, umumnya menggunakan warna kuning keemasan yang dipadukan dengan list tipis berwarna merah terang sebagai pembatasnya dan melambangkan kesejahteraan hidup serta martabat seseorang.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/08\/10\/rumah-adat-krong-bade\/screenshot-2021-08-10-012203\/\" rel=\"attachment wp-att-1997\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1997\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/08\/Screenshot-2021-08-10-012203.jpg\" alt=\"\" width=\"526\" height=\"351\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 2.<\/strong> Ukiran Rumah Krong Bade (Prasetyo, 2021)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Komponen utama dari Rumah Krong Bade:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">1. Seuramo\u00eb Keu\u00eb (Serambi Depan)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ruangan ini memiliki fungsi sebagai ruang untuk bersantai dan beristirahat untuk anggota keluarga. Selain itu, sebagai tempat untuk menerima tamu. Bagian ini, umumnya hanya menggunakan karpet memanjang yang besar sebagai alasanya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">2. Seuramoe-likoot (Serambi Belakang)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ruang serambi belakang berfungsi untuk sebagai dapur, tempat makan dan tempat untuk keluarga untuk berkumpul bersama. Umumnya, ruangan rumah ini lebih rendah dan tidak terdapat ruangan lainnya di sisi kanan kirinya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">3. Rumoh-Inong atau Seuramo\u00eb Teungoh (Rumah Induk)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ruangan ini merupakan sebuah ruang inti dari rumah ini. Umumnya, ruangan ini memiliki lantai yang lebih tinggi karena sifatnya yang lebih privasi. Ruangan ini terdiri dari kamar tidur keluarga yang terletak di sisi kanan dan kirinya, selain itu, digunakan sebagai kamar pengantin dan jika terdapat anggota keluarga yang meninggal dunia, ruangan ini juga dapat berfungsi sebagai ruang pemandian mayat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">4. Rumoh-dapu (Dapur)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika, pemilik rumah mempunyai tingkat ekonomi yang lebih tinggi maka, di dalam rumahnya terdapat\u00a0 bagian Rumoh-dapu terpisah dari ruangan lainnya. Hal tersebut bertujuan untuk membedakan fungsi dengan ruangan yang lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">5. Seulasa (Teras)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Berbeda dengan serambi depan, ruangan ini memiliki fungsi untuk menerima tamu tanpa harus masuk ke dalam. Teras bisa juga menjadi tempat untuk berkumpul di depan rumah dan juga untuk menikmati suasana bersama keluarga.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">6. Kroong-padee (Lumbung Padi)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk rumah yang berukuran lebih besar umumnya memiliki ruangan lumbung padi yang terpisah. Tempat ini digunakan untuk menyimpan persediaan padi untuk dijual atau dimasak. Selain itu ruangan ini juga digunakan untuk menyimpan alat penumbuk padi.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">7. Keupaleh (Gerbang)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Umumnya, untuk Rumah Krong Bade yang lebih besar, memiliki sebuah Keupaleh atau gerbang yang berfungsi sebagai pembatas atau akses dari rumah menuju jalan utama.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">8. Tamee (Tiang)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Krong Bade terdapat sebuah kayu pertama yang ditancapkan pada tanah yang dianggap sebagai tiang utama dari rumah adat tersebut.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">9. Bagian Ruang Bawah<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Bagian ruang bawah digunakan untuk menyimpan barang-barang pemilik rumah, seperti alat penumbuk padi atau hasil panennya. Selain itu, bagian rumah ini juga merupakan ruang bagi penghuni perempuan masyarakat Aceh untuk membuat kain tradisional khas Aceh yang kemudian akan dijual.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/08\/10\/rumah-adat-krong-bade\/screenshot-2021-08-10-012611\/\" rel=\"attachment wp-att-1998\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1998\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/08\/Screenshot-2021-08-10-012611.jpg\" alt=\"\" width=\"456\" height=\"314\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 3.1.<\/strong> Serambi Depan, <strong>Gambar 3.2.<\/strong> Serambi Belakang, <strong>Gambar 3.3.<\/strong> Serambi Tengah (Dekoruma, 2018)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi :<\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/Amelia, R. (2020, Juni 10). Fakta Unik Rumah Adat Aceh Krong Bade, Wajib Tahu!. https:\/\/www.ruparupa.com\/blog\/fakta-unik-rumah-adat-aceh\/\"><span style=\"font-weight: 400\">Amelia, R. (2020, Juni 10). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Fakta Unik Rumah Adat Aceh Krong Bade, Wajib Tahu!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. https:\/\/www.ruparupa.com\/blog\/fakta-unik-rumah-adat-aceh\/<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/GLN. (n.d.). Arsitektur Rumah Tradisional Aceh. https:\/\/gln.kemdikbud.go.id\/glnsite\/arsitektur-rumah-tradisional-aceh\/\"><span style=\"font-weight: 400\">GLN. (n.d.). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Arsitektur Rumah Tradisional Aceh<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. https:\/\/gln.kemdikbud.go.id\/glnsite\/arsitektur-rumah-tradisional-aceh\/<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/Dekoruma, K. (2018, Mei 7). 6 Fakta Unik Rumah Adat Aceh \u201cKrong Bade\u201d yang Kamu Wajib Tahu!. https:\/\/www.dekoruma.com\/artikel\/66154\/apa-itu-rumah-adat-aceh\"><span style=\"font-weight: 400\">Dekoruma, K. (2018, Mei 7).<\/span> <i><span style=\"font-weight: 400\">6 Fakta Unik Rumah Adat Aceh \u201cKrong Bade\u201d yang Kamu Wajib Tahu!<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. https:\/\/www.dekoruma.com\/artikel\/66154\/apa-itu-rumah-adat-aceh<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/Prasetyo, B. K. (2021, Maret 17). Rumah Krong\u00a0 Adat Bade. https:\/\/ruangarsitek.id\/rumah-adat-krong-bade\/\"><span style=\"font-weight: 400\">Prasetyo, B. K. (2021, Maret 17). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Krong\u00a0 Adat Bade<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. https:\/\/ruangarsitek.id\/rumah-adat-krong-bade\/\u00a0<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/Hanna, Y. (2017, Maret 16).\u00a0 Rumah Krong Bade Aceh. https:\/\/bobo.grid.id\/read\/08673751\/rumah-krong-bade-aceh?page=all\"><span style=\"font-weight: 400\">Hanna, Y. (2017, Maret 16).\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Krong Bade Aceh. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/bobo.grid.id\/read\/08673751\/rumah-krong-bade-aceh?page=all<\/span><\/a><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/Rumah.com. (2020, Juni 17). Mengenal Rumah Adat Krong Bade Aceh Lengkap. https:\/\/www.rumah.com\/panduan-properti\/mengenal-rumah-adat-krong-bade-aceh-lengkap-28720\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah.com. (2020, Juni 17). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mengenal Rumah Adat Krong Bade Aceh Lengkap.<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> https:\/\/www.rumah.com\/panduan-properti\/mengenal-rumah-adat-krong-bade-aceh-lengkap-28720<\/span><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh : Noviola Esther &#8211; 2440022454 Gambar 1. Rumah Adat Krong Bade (Amelia,2021) Provinsi Nangroe Aceh Darussalam merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang terletak di pulau Sumatra. Provinsi ini juga dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah dikarenakan masyarakatnya menerapkan norma serta aturan hidup sesuai dengan syariat Islam.\u00a0 Pada awalnya, semua penduduk di Aceh memiliki bentuk [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1996,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1994","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1994"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2000,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1994\/revisions\/2000"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1996"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1994"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1994"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1994"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}