    {"id":1924,"date":"2021-07-18T08:54:29","date_gmt":"2021-07-18T01:54:29","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/?p=1924"},"modified":"2021-07-18T08:54:29","modified_gmt":"2021-07-18T01:54:29","slug":"rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/","title":{"rendered":"Rumah Adat Mbaru Niang, Wae Rebo"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\">Oleh: <span style=\"font-weight: 400\">Nikita putri iskandar &#8211; 2301850891<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/aaa-2\/\" rel=\"attachment wp-att-1929\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1929\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/aaa.jpg\" alt=\"\" width=\"549\" height=\"362\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 1.<\/strong> Rumah Adat Mbaru Niang, Wae Rebo<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber: arsitur.com<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Desa adat Wae rebo merupakan kampung adat tradisional yang berlokasi di Kampung Wae rebo, Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi NTT. Dusun Wae rebo ini lebih dikenal sebagai salah satu destinasi wisata karena karakteristik local yang menarik dengan dikelilingi oleh pegunungan dan hutan hujan tropis . rumah adat Wae rebo ini juga disebut sebagai Rumah Mbaru Niang yang merupakan budaya asli warga Wae rebo yang sudah dibangun oeh para nenek moyang mereka Bernama Empo Maro yang berasal dari Minangkabau, Sumatera. Empo Maro mencerminkan Wae rebo oleh sebuah Bahasa local, \u201cNeka hemong kuni agu kalo\u201d yang berarti \u201cWae rebo adalah tanah kelahiran, warisan, dan tanah air yang tidak akan pernah terlupakan\u201d. Hal itu dapat ditunjukkan melalui warga desa wae rebo yang lebih memilih untuk tinggal di kampung mereka di pedalaman dantetap setia melestarikan kebudayaan mereka.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/s-4\/\" rel=\"attachment wp-att-1928\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1928\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/s.jpg\" alt=\"\" width=\"336\" height=\"254\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 2.<\/strong> Sketsa Rumah Adat Mbaru Niang<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber: arsitekturindonesia.org<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dalam konteks arsitektur , Rumah adat Mbaru Niang merupakan salah satu contoh karya arsitektur vernakuler. Nama Mbaru Niang diambil dari kata \u2018Mbaru \u2018 artinya rumah dan \u2018Niang\u2019 artinya tinggi dan bulat, kedua arti nama tersebut mereferensikan bentuk dari rumah ini dimana Mbaru Niang berbentuk kerucut, meruncing ke atas.\u00a0 Bentuk runcing pada rumah ini merupakan simbol perlindungan dan persatuan antar masyarakat Wae Rebo menurut Fransiskus Mudir. Tinggi dari rumah ini mencapai 15 m dengan atap yang ditutupi dengan daun lontar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada area Desa Wae Rebo terdapat 7 Rumah Mbaru Niang yang disusun melingkar dan melingkari batu melingkar (Compang)\u00a0 yang menjadi pusatnya.\u00a0 Compang juga merupakan sebuah altar bagi warga desa Wae rebo untuk memuji dan menyembah Tuhan serta roh roh nenek moyang. Jumlah 7 rumah sendiri memiliki arti penghormatan para nenek moyang mereka terhadap 7 arah mata angin dari puncak gunung yang berada di sekeliling kampung wae rebo, hal ini dipercaya sebagai cara untuk menyembah roh roh yang memberikan mereka kesejahteraan. Ketujuh rumah tersebut pun memiliki nama yang berbeda beda , diantaranya :<\/span><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gendang<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Mandok<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Jekong (dibangun kembali pada tahun 2010)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Ndorom (dibangun kembali pada tahun 2009)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Keto<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Jintam<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena Maro<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/ss-2\/\" rel=\"attachment wp-att-1927\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1927\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/ss.jpg\" alt=\"\" width=\"471\" height=\"472\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 3.<\/strong> Perspektif Rumah Adat Wae Rebo<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: genpi.id<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah ini terbagi menjadi beberapa lantai yang berbentuk melingkar dengan diameter 14 meter pada jenis rumah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gendang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (rumah utama) dan 11 meter pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Niang Gena<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> (rumah yang lainnya). dan merupakan lambang suatu keharmonisan dan keadilan antar warga dan keluarga dalam rumah Mbaru Niang tersebut. Rumah Mbaru niang sendiri ada yang ditinggali oleh 6 keluarga (Niang Gena) dan 8 keluarga (Niang Gendang).\u00a0 Lantai rumah terdiri dari 5 lantai dengan nama dan fungsinya masing masing yaitu:\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantai pertama dibagi dalam 2 bagian yaitu lutur dan Nolang.\u00a0 Nolang merupakan zona privat yang berfungsi untuk tempat tinggal dan berkumpul keluarga. Ruangannya dibagi menjadi tiga bagian, ruang terluar sebagai ruang keluarga, lalu ruang-ruang yang disekat dengan papan kayu sebagai kamar-kamar keluarga yang tinggal dan dapur yang terletak di tengah. Sedangkan Lutur merupakan zona public yang digunakan untuk aktivitas tamu dan masyarakat. <\/span>Sama seperti konsep penataan ketujuh rumah Mbaru dimana titik pusat menjadi tempat sacral, di dalam rumah Mbaru niang titik pusat yang berupa tiang <i style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">Bongkok <\/i><span style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">merupakan titik paling sacral dalam bangunan dimana biasanya ketua adat lah yang akan duduk pada posisi ini di setiap pertemuan antar masyarakat Wae Rebo.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/sss\/\" rel=\"attachment wp-att-1926\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1926\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/sss.png\" alt=\"\" width=\"528\" height=\"354\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 4.<\/strong> Denah Rumah Adat Mbaru Niang<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber: dailyvoyagers.com<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantai dua disebut Lobo, berfungsi untuk menyimpan bahan makanan dan barang sehari-hari.<\/span><\/li>\n<li style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantai ketiga disebut Lentar, yang berguna untuk menyimpan benih tanaman untuk bercocok tanam.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantai empat disebut Lempa Rea berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makan untuk paceklik atau saat gagal panen.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Lantai kelima disebut Hekang Kode, berfungsi sebagai tempat sesajian untuk leluhur masyarakat desa.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiap rumah Mbaru niang memiliki 2 pintu yaitu depan dan belakang ,dimana pintu depan selalu dihadapkan ke compang. Selain itu juga terdapat 4 jendela kecil. Material utama yang digunakan dominan menggunakan kayu , dimana tiang utama terbuat dari kayu Worok, papan lantai dari kayu Ajang , dan balok struktur rumah menggunakan kayu Uwu. Selain itu juga terdapat penggunaan material bamboo yang dikombinasikan juga dengan kayu kentil berukuran 1 cm yang digunakan pada rangka atap. Konstruksi kayu tersebut dirangkainya membentuk ikatan Panjang dan diikat secara horizontal dan dibentuk melingkar pada setiap tingkatan rumah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada awal pembangunan , akan diletakkan tiang utama pada lantai dasar dengan kedalaman 1.5-2 meter ke dalam tanah dan sekaligus dilapisi dengan ijuk agar tidak cepat tejadinya pelapukan. Selain itu lantai dasar pada rumah ini dibuat dalam konstruksi panggung yang ditinggikan sekitar 1.20m dari permukaan tanah untuk menyesuaikannya dengan kondisi alam disekitar Wae Rebo. Selanjutnya merupakan peasangan balok lantai yang dilakukan berulang hingga lantai terakhir. Setelah pada setiap lantai telah terbentuk konstruki melingkar maka rangka atap segera dibentuk.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/18\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo\/ssss\/\" rel=\"attachment wp-att-1925\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1925\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/ssss.jpg\" alt=\"\" width=\"514\" height=\"342\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><strong>Gambar 5.<\/strong> Struktur Rumah Adat Wae Rebo<\/p>\n<p style=\"text-align: center\">Sumber: arsitur.com<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Desa Wae Rebo ini telah menerIma peNghargaan UNESCO Asia Pasific Award Heritage Conservation karena keunikan yang dimiliki oleh rumah adat Mbaru Niang ini. Ditambah, penghargaan tersebut merupakan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">penghargaan tertinggi dalam bidang konservasi warisan budaya pada tahun 2012. Rumah ini juga menjadi salah satu kandidat yang meraih Aga khan untuk arsitektur tahun 2013. Karena itu sebagai generasi penerus bangsa Indonesia kita patut bangga akan warisan Budaya Indonesia seperti Rumah adat Mbaru Niang yang sudah diakui seluruh dunia, kalian pun bisa mengunjungi desa ini yang sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang wajib jika berkunjung ke Flores, NTT untuk melihat melihat keunikan dari rumah Mbaru Niang tersebut sekaligus aktivitas warga desa Wae Rebo.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Referensi:<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Y. P., By, -, Yopie Pangkey. (2021, April 5). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">8 Keunikan Rumah Adat Mbaru Niang di Wae Rebo Manggarai<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Genpi. https:\/\/genpi.id\/rumah-adat-mbaru-niang-di-wae-rebo-manggarai\/.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Reinnamah, D. G. (2020, January 6). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mengenal (Sejarah) Rumah Adat Waerebo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. DAILY VOYAGERS. https:\/\/dailyvoyagers.com\/blog\/2016\/09\/14\/mengenal-sejarah-rumah-adat-waerebo\/.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Desa Adat Wae Rebo, Perkampungan Adat Lestari di Pegunungan Flores<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Caritra. (2020, July 13). https:\/\/www.caritra.org\/2020\/07\/13\/desa-adat-wae-rebo-perkampungan-adat-lestari-di-pegunungan-flores\/.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Parsika. (2019, March 13). <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Adat Mbaru Niang Wae Rebo Flores<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Arsitur Studio. https:\/\/www.arsitur.com\/2019\/03\/rumah-adat-mbaru-niang-wae-rebo-flores.html.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Gambar<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Gambar &#8211; Arsitektur Indonesia. (n.d.). http:\/\/www.arsitekturindonesia.org\/arsip\/media\/gambar?page=6. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Nikita putri iskandar &#8211; 2301850891 Gambar 1. Rumah Adat Mbaru Niang, Wae Rebo Sumber: arsitur.com Desa adat Wae rebo merupakan kampung adat tradisional yang berlokasi di Kampung Wae rebo, Gunung Pocoroko, Kabupaten Manggarai, Flores, Provinsi NTT. Dusun Wae rebo ini lebih dikenal sebagai salah satu destinasi wisata karena karakteristik local yang menarik dengan dikelilingi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1920,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[],"tags":[],"class_list":["post-1924","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1924"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1931,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1924\/revisions\/1931"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1924"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1924"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1924"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}