    {"id":1889,"date":"2021-07-17T14:38:40","date_gmt":"2021-07-17T07:38:40","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/?p=1889"},"modified":"2021-07-18T08:24:53","modified_gmt":"2021-07-18T01:24:53","slug":"arsitektur-mandailing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/17\/arsitektur-mandailing\/","title":{"rendered":"Arsitektur Mandailing"},"content":{"rendered":"<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/17\/arsitektur-mandailing\/screenshot-2021-07-17-151242\/\" rel=\"attachment wp-att-1906\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1906\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/Screenshot-2021-07-17-151242.png\" alt=\"\" width=\"619\" height=\"380\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Indonesia memiliki beragam suku dan adat dari Sabang hingga Merauke, salah satunya ialah suku Mandailing. Kelompok etnik Mandailing mendiami wilayah pantai barat Sumatera yang berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan daerah dataran sebelah selatan provinsi Sumatera Utara berbatasan dengan wilayah provinsi Sumatera Barat. Sekarang ini wilayah Mandailing merupakan wilayah administrasi yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan kabupaten Mandailing Natal.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kelompok etnik ini memiliki kekayaan budaya tradisional berupa adat istiadat, arsitektur, musik, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">folklore<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, bahasa, sastra, aksara dan lain sebagainya. Sistem kekerabatan sosial yang khas dan unik yaitu berupa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Dalihan Natolu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang artinya tiga tumpuan. Sistem kekerabatan sosial tersebut dinamakan demikian karena terdiri dari kelompok kekerabatan yang terdiri atas tiga komponen yang masing-masing dinamakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Mora, Kahanggi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Anak Boru<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. Sistem inilah yang mempngaruhi dalam penataan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">lay-out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> kampung hingga arsitektur rumah adatnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Penataan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">lay-out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> kampung Mandailing mengaplikasikan konsep sentral, dimana bagian yang paling tengah merupakah area yang paling penting. Area tengah atau area pusat merupakan tempat kepala suku atau raja singgah. Area ini juga digunakan sebagai tempat berkumpulnya para warga untuk mengadakan acara adat istiadat dan juga pelaksanaannya kegiatan pemerintahan adat. Kemudian area pusat ini dikelilingi dengan perumahan para warga yang ditentukan sesuai dengan kasta yang berlaku.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/17\/arsitektur-mandailing\/screenshot-2021-07-17-151349\/\" rel=\"attachment wp-att-1908\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1908\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/Screenshot-2021-07-17-151349.png\" alt=\"\" width=\"538\" height=\"286\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Lay-out<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang berkonsep sentral juga diaplikasikan di dalam area pusat. Di dalam area pusat tersebut terdapat rumah adat suku Mandailing (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) yang merupakan tempat singgah kepala suku, balai adat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sopo Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">), dan lumbung (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Hopuk<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) untuk menyimpan hasil panen. Ketiga bangunan tersebut juga mengelilingi sebuah lapangan (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Alaman na bolak<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) yang cukup luas. Halaman ini biasa digunakan sebagai tempat berkumpul dan tempat pelaksanaan upacara adat.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah adat Mandailing yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">, yakni tempat singgah kepala suku. Bentuknya rumah panggung yang memanjang dari barat ke timur dengan pintu masuk utama yang menghadap ke selatan. Atapnya menghadap ke empat sisi (selatan, barat, timur, utara) yang dilengkapi dengan ornament-ornamen adat. Penataan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">lay-out <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">rumah adat ini juga berkonsep sentral, dimana ruang tengahnya merupakan ruang tamu sebagai tempat berkumpul dan dikelilingi dengan ruang-ruang lainnya seperti kamar tidur, dapur, dan teras.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/07\/17\/arsitektur-mandailing\/screenshot-2021-07-17-151501\/\" rel=\"attachment wp-att-1909\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-1909\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/07\/Screenshot-2021-07-17-151501.png\" alt=\"\" width=\"561\" height=\"289\" \/><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Untuk struktur, rumah adat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> memiliki beberapa ciri khas yang unik sehingga membedakan antara tempat singgah kepala suku dengan rakyatnya. Salah satunya yaitu bentuk kolom dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang bebrbentuk segi delapan yang melambangkan wilayah kekuasaan kepala suku di seluruh penjuru mata angin (yaitu delapan arah). Sedangkan pada rumah rakyat bentuknya adalah persegi empat. Sistem susunan tiang pada <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> mengikuti pola grid dan ditopang oleh tiang-tiang berjumlah ganjil membentuk pola 5-7 dan 5-9, yaitu terdapat lima tiang pada sisi <\/span><span style=\"font-weight: 400\">pendek bangunan dan tujuh atau sembilan tiang pada sisi panjang bangunan. Jumlah ganjil pada susunan tiang memberi makna magis dan sakral pada kehidupan masyarakat Mandailing. Misalnya jumlah lima berasal dari kiasan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">lima gonop opat ganjil <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">(lima genap empat ganjil) mengandung arti bahwa dalam adat harus terdapat lima unsur\/komponen adat yang terdiri dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">suhut, mora, kahanggi, anak boru<\/span><span style=\"font-weight: 400\">, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400\">pisang raut<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"><em>,<\/em> agar seluruh kegiatan adat dapat terlaksana. Sedangkan jumlah sembilan merupakan sembilan tokoh\/perangkat adat yang ada dalam kehidupan sebuah <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">huta<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> adat, <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">yaitu terdiri dari <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">raja, anggi ni raja,imbang ni raja, suhu ni raja, bayo-bayo nagodang, lelo ni raja, sibaso ni raja, gading ni raja dan goruk-goruk hapinis.<\/span><\/em><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ciri khas lainnya yang membedakan antara rumah kepala suku dengan rakyatnya yaitu jumlah anak tangga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang berjumlahkan sembilan yang mewakili sembilan tokoh adat yang berwenang dalam adat dan mewakili tiap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">huta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dari delapan arah mata angin, dimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> sebagai pusatnya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Arsitektur Tradisional Mandailing lahir dari pemahaman dan pemegangan konteks lingkungan alam dan budaya setempat. Peninggalan budaya Mandailing tidak seluruhnya dapat ditelurusi lagi (napak tilas) pada masa sekarang ini, hal itu disebabkan karena langkanya informan atau saksi sejarah yang bisa memberikan keterangan yang akurat dan punahnya beberapa bukti nyata seperti punahnya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sopo Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> di beberapa desa Mandailing. Yang masih mungkin ditemui adalah makam\/kuburan tua dan tapak lokasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Bagas Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sopo Godang<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang sudah rata dengan tanah, serta beberapa peninggalan sejarah berupa catatan dan karya seni lainnya, sehingga diperlukan usaha yang keras dan sungguh-sungguh untuk melestarikannya.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/jurnal.unimed.ac.id\/2012\/index.php\/lemlit\/article\/download\/12287\/10611\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/jurnal.unimed.ac.id\/2012\/index.php\/lemlit\/article\/download\/12287\/10611<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/317299787_INVENTORI_ARSITEKTUR_TRADISIONAL_MANDAILING_GODANG_The_inventory_of_Mandailing_Architecture\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.researchgate.net\/publication\/317299787_INVENTORI_ARSITEKTUR_TRADISIONAL_MANDAILING_GODANG_The_inventory_of_Mandailing_Architecture<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia memiliki beragam suku dan adat dari Sabang hingga Merauke, salah satunya ialah suku Mandailing. Kelompok etnik Mandailing mendiami wilayah pantai barat Sumatera yang berbatasan dengan Samudra Indonesia, dan daerah dataran sebelah selatan provinsi Sumatera Utara berbatasan dengan wilayah provinsi Sumatera Barat. Sekarang ini wilayah Mandailing merupakan wilayah administrasi yang berdiri sendiri yang dinamakan dengan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1890,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1889","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1889"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1914,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1889\/revisions\/1914"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1890"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1889"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1889"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1889"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}