    {"id":1685,"date":"2021-06-01T07:04:39","date_gmt":"2021-06-01T00:04:39","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/?p=1685"},"modified":"2021-06-01T07:04:39","modified_gmt":"2021-06-01T00:04:39","slug":"arsitektur-vernakuler-di-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/06\/01\/arsitektur-vernakuler-di-indonesia\/","title":{"rendered":"Arsitektur Vernakuler di Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Contoh Arsitektur Vernakuler di Indonesia<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">1. Rumah Belah Bubung<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah Belah Bubung adalah salah satu rumah tradisional asal Kepulauan Riau. Rumah Belah Bubung dikenal juga sebagai Rumah Rabung atau Rumah Bumbung Melayu. Rancangan arsitektur dari rumah ini dipengaruhi oleh keadaan sekitar dan juga kepercayaan masyarakat, mulai dari bentuk rumah ini yang menyerupai rumah panggung, berbahan dasar kayu, serta dari ornament dan warna yang digunakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rumah ini dibagi menjadi empat bagian utama, selasar, ruang induk, ruang penghubung dapur, dan dapur. Rumah ini terletak dua meter dari tanahh dan ditopang oleh beberapa tiang peyangga. Berdasarkan dari bentuk atap yang digunakan, rumah ini memiliki beberapa nama yaitu:\u00a0<\/span><\/p>\n<ol style=\"text-align: justify\">\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Atap curam: Rumah Lipat Pandan.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Atap mendatar: Rumah Lipat Kajang.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Atap dibagian bawah ditambah dengan atap lainnya: Rumah Atap Layar \/ Rumah Ampar Labu.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Perabung atap sejajar dengan jalan raya: Rumah Perabung Panjang.<\/span><\/li>\n<li><span style=\"font-weight: 400\">Perabung atap tidak sejajar dengan jalan raya: Rumah Perabung Melintang.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1688\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/06\/Screenshot-2021-06-01-070635.jpg\" alt=\"\" width=\"361\" height=\"249\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-size: 14px;font-weight: 400\">2. Nuwo Sesat<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Nuwo Sesat merupakan rumah adat yang berasal dari daerah Lampung. Nama rumah ini terdiri dari dua kata yaitu, \u201cnuwou\u201d yang berarti rumah dan \u201csesat\u201d yang berarti adat. Sehingga Nuwo Sesat juga dapat diartikan sebagai rumah adat. Rumah ini memiliki fungsi sebagai tempat pertemuan bagi para penyeimbang untuk melakukan musyawarah. Rumah ini dapat dideskripsikan sebagai rumah panggung bertiang. Berdasarkan ukuran dan fungsinya, rumah Nuwo Sesat dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu, Nuwo Sesat Balai Agung, Nuwo Balak, dan Nuwo Lunik. Setiap rumah Nuwo Sesat memiliki bagian<\/span> <span style=\"font-weight: 400\">Pusiban, Anjungan, Tetabuhan, Ruang Gajah Merem, Ijan Geladak, dan Kabik Tengah.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada awalnya, Nuwo Sesat dibangun dari bahan-bahan alami, seperti kayu untuk dinding dan penyangganya, batu sebagai pondasi, dan anyaman ilalang sebagai atap. Seiring dengan perkembangan zaman, meski memiliki bentuk yang sama, beberapa material yang digunakan diganti, contohnya, atap anyaman ilalang diganti dengan genting tanah. Terdapat satu hal yang menjadi pedoman dari masyarakat Lampung dalam membangun Nuwo Sesat yaitu Pondasi yang selalu berbentuk persegi yang disebut sebagai umpak batu, yang selalu terbuat dari 35 tiang penyangga dan 20 tiang induk.<\/span><\/p>\n<p><a href=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/2021\/06\/01\/arsitektur-vernakuler-di-indonesia\/screenshot-2021-06-01-070653\/\" rel=\"attachment wp-att-1687\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter  wp-image-1687\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-content\/uploads\/sites\/3\/2021\/06\/Screenshot-2021-06-01-070653.jpg\" alt=\"\" width=\"535\" height=\"360\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Contoh Arsitektur Vernakuler di Indonesia 1. Rumah Belah Bubung Rumah Belah Bubung adalah salah satu rumah tradisional asal Kepulauan Riau. Rumah Belah Bubung dikenal juga sebagai Rumah Rabung atau Rumah Bumbung Melayu. Rancangan arsitektur dari rumah ini dipengaruhi oleh keadaan sekitar dan juga kepercayaan masyarakat, mulai dari bentuk rumah ini yang menyerupai rumah panggung, berbahan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":1686,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-1685","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1685"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1690,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1685\/revisions\/1690"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1686"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1685"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1685"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/himars\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1685"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}