Rumah Joglo

Oleh : Noviola Esther – 2440022454

Gambar 1. Rumah Joglo (Rumah.com, 2021)

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu daerah yang terletak di pulau Jawa dan memiliki luas wilayah sebesar 3,25 juta hektar yang juga meliputi kawasan Pulau Nusa Kambangan serta Kepulauan Karimun Jawa yang terletak di Laut Jawa, dan diperkirakan Jawa Tengah memiliki luas sekitar 25,04 dari luas wilayah pulau Jawa dan 1,7 persen dari luas wilayah Indonesia.

Provinsi ini memiliki rumah adat yang disebut dengan Joglo, yang berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia bermakna tempat tinggal khas Jawa yang memiliki atap yang menyerupai trapesium. Awalnya, rumah ini memiliki simbol untuk menunjukkan status sosial masyarakat Jawa, karena bahan yang digunakan untuk membangun rumah Joglo adalah kayu jati. Selain biaya pembangunannya yang tinggi, waktu yang dibutuhkan juga sangat lama, sehingga hanya raja, kaum bangsawan, dan orang yang berkecukupan saja yang mampu membangun rumah ini pada waktu itu.

Joglo berasal dari gabungan kata ‘tajug’ dan loro’ (Juglo) yang bermakna dua gunung. Berdasarkan filosofi Jawa, gunung merupakan tempat yang tinggi dan sakral; perwujudan dari filosofi ini tampak dari bentuk atap yang menyerupai gunung dengan puncak yang datar,  selain itu atap dari rumah Joglo ini disebut dengan ‘Tajug’.

Gambar 2. Bagian-Bagian Rumah Joglo (Halim, 2021)

Secara umum, rumah Joglo terbagi menjadi tiga bagian utama, yaitu Pendapa / Pendopo (bagian depan), Pringgitan (bagian tengah), dan Dalem (ruang utama). Bagian-bagian tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut:                                          

1. Pendapa / Pendopo:

Pendopo merupakan bangunan tambahan yang digunakan untuk menerima tamu, pertemuan formal, upacara adat, dan lain sebagainya. Bangunan ini terletak di bagian depan dari rumah Joglo. Bagian ini hanya beralaskan tikar yang bertujuan untuk menciptakan kesetaraan antara tamu dengan pemilik rumah, selain itu, bagian ini tidak memiliki dinding yang bermakna sifat orang Jawa yang ramah dan terbuka.

2. Pringgitan:

Pringgitan merupakan penghubung antara Pendopo dengan Omah, sehingga bagian ini memiliki fungsi sebagai lorong untuk memasuki rumah, selain itu, Pringgitan digunakan juga sebagai tempat bermain wayang. Atap dari bangunan ini memiliki bentuk Limasan atau Kampung.

3. Emperan:

Emperan memiliki makna bahwa dengan sesama kerabat harus memiliki rasa kekeluargaan; bagian ini digunakan sebagai teras depan; berfungsi untuk menerima tamu, namun hal yang membedakan Emperan dengan Pendopo yaitu, pada bagian ini terdapat meja dan kursi. Selain itu, Emperan juga digunakan sebagai tempat untuk bersantai dengan keluarga dan tetangga.

4. Omah:

Kata Omah berasal dari bahasa Austronesia yang berarti “rumah”. Omah merupakan bagian utama atau dalam dari rumah Joglo yang digunakan sebagai tempat tinggal. Bagian ini memiliki lantai persegi yang luas dan lebih tinggi dari bagian lainnya, dan memiliki bentuk atap Joglo atau Limasan.

5. Dalem:

Dalem merupakan ruang tertutup di dalam Omah, yang terbagi menjadi tiga bagian; depan digunakan untuk aktivitas keluarga dan terdapat tempat tidur yang terbuat dari bambu; bagian tengah, awalnya, digunakan sebagai tempat beribadah untuk menghormati Dewi Sri, namun saat ini bagian ini digunakan sebagai tempat duduk pengantin saat melangsungkan upacara pernikahan.

6. Senthong:

Senthong merupakan ruangan yang terdapat di bagian belakang Dalem yang terbagi menjadi tiga ruangan. Umumnya, ruangan yang terdapat di bagian samping kanan dan kiri digunakan sebagai kamar untuk anggota keluarga. Selain itu, juga digunakan untuk menyimpan hasil panen dan alat untuk pertanian. Sedangkan kamar yang berada di tengah digunakan untuk menyimpan harta dan pusaka keluarga, seperti keris. Selanjutnya, kamar ini memiliki tempat tidur yang umumnya ditempati oleh pasangan pengantin baru. Terakhir, kamar ini juga merupakan bagian yang dianggap paling suci karena memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan Dewi Sri.

7. Gandhok

Pada bagian sebelah kiri dan kanan merupakan bagian Gandhok yang dimana bangunan ini merupakan bangunan tambahan yang umumnya digunakan sebagai tempat tidur keluarga; dan tamu yang berkunjung dapat menginap di ruangan ini.

8. Bagian Belakang Rumah:

Bagian terletak paling belakang dan luar dari rumah Joglo; pada bagian ini terdapat ruang dapur, kamar mandi, dan sumur yang terletak di sebelah timur.

Kemudian, setiap rumah tradisional di Indonesia memiliki keunikan dan mengandung filosofi, maka dari itu, rumah Joglo juga memiliki keunikan dan mengandung filosofi, antara lain:

  • Atap rumah Joglo dan saka guru

Atap rumah Joglo memiliki bentuk trapesium yang menjulang tinggi yang dimana melambangkan wibawa dan sifat karismatik; atap ini disangga oleh empat tiang yang merupakan saka guru. Saka guru merupakan pondasi utama yang menyangga keseluruhan bangunan serta melambangkan kekuatan, kekokohan, dan kekuasaan.

  • Pintu utama

Rumah Joglo memiliki tiga pintu, yaitu tengah dan terdapat di kedua sisi kanan dan kiri bawah. Peletakan pintu ini menggambarkan kupu-kupu yang tetap berusaha, berkembang, dan berjuang untuk keluarga. Selain itu, filosofi pintu yang diletakkan di tengah ini menggambarkan keterbukaan dan kedekatan antar pemilik rumah dengan tamu.

  • Teras

Rumah Joglo memiliki teras yang sangat luas yang umumnya berfungsi sebagai tempat untuk berinteraksi sosial antara pemilik rumah dengan sekitarnya. 

  • Struktur rumah Joglo

Bangunan ini didominasi dengan kayu yang dimana mampu meredam getaran yang disebabkan oleh gempa. Pondasi rumah Joglo terbuat dari tanah yang dipadatkan atau ditinggikan yang disebut juga dengan dibrug. Kemudian, tiang yang didirikan di atas umpak dibuat dari batu alam yang dibentuk menjadi persegi empat, bulat, atau segi delapan. Kemudian, terdapat empat tiang saka guru yang umumnya berjumlah 16 buah dengan keberadaannnya memiliki fungsi yang berbeda-beda. Tiang penyangga utama berfungsi sebagai penyangga blandar tumpangsari. Selanjutnya, tiang penyangga berikutnya disebut dengan saka rowo dan tiang terluar disebut saka emper. Keempat tiang ini juga merefleksikan arah mata angin.

  • Ruang Gedongan

Secara umum, pada rumah Joglo terdapat ruangan yang dikhususkan untuk tempat perlindungan, tempat kepala keluarga mencari ketenangan batin, atau tempat untuk melaksanakan kegiatan sakral lainnya. Selain itu, ruangan ini juga digunakan untuk beristirahat.

  • Pagar Mangkok

Berbeda dari rumah tradisional lainnya, rumah Joglo memiliki pagar yang disebut dengan pagar mangkok yang berasal dari tanaman perdu yang memiliki ketinggian kurang dari satu meter. Penggunaan pagar ini bermakna agar interaksi dengan sesama dapat terjalin dengan lebih mudah dan baik.

  • Jendela 

Pada rumah Joglo dapat ditemukan banyak jendela dengan ukuran besar. Bentuk jendela tersebut merupakan perpaduan antara salah satu warisan dari kolonial Belanda dengan arsitektur khas Jawa. Jendela pada rumah Joglo dapat berjumlah puluhan, yang dapat membuat rumah ini menjadi semakin unik dan berbeda.

Gambar 3. Ragam Hias Rumah Joglo (Iswanto, 2008)

Rumah ini memiliki lima bentuk ragam hias yaitu flora, fauna, alam, agama, dan anyaman;

  • Flora yang terdiri dari Lung-Lungan, Saton, Wajikan, Nanasan, Tlancapan, Kebenan, Patron, dan Padma;
    • Lung-Lungan, berasal dari kata ‘Lung’ yang berarti batang tumbuhan melata muda, memiliki bentuk melengkung dan memiliki warna kuning emas; ragam hias ini dapat ditemukan di balok rumah, jendela, daun pintu, dan beberapa tempat lainnya.
    • Saton, bersal dari kata ‘Satu’ yang merupakan nama jenis makanan berbentuk kotak yang memiliki hiasan daun atau bunga. Memiliki warna dasar, merah atau hijau tua. Ragam hias ini dapat dtemukan pada berbagai tempat rumah Joglo, salah satunya pada ander.
    • Wajikan, memiliki bentuk belah ketupat dengan motif daun atau bunga dan memiliki warna dasar merah tua, ragam hias ini dapat ditemukan pada tiang tengah.
    • Nanasan, memiliki bentuk menyerupai nanas dan dikenal juga dengan omah tawon atau tawonan; ragam hias ini ditemukan pada kunci blandar.
    • Tlacapan, berasal dari kata ‘Tlacap’ yang merupakan deretan segi tiga dan memiliki warna dasar merah atau hijau tua dan terletak pada pangkal dan ujung balok kerangka bangunan.
    • Kebenan, berasal dari kata ‘keben’ yang bermakna tuah. Berbentuk menyerupai mahkota, ditemukan pada kancing blandar.
    • Patron, berasal dari kata ‘patra’ yang bermakna daun, ditemukan pada balok-balok kerangka bangunan dan blandar.
    • Padma, berasal dari bentuk singgasana Buddha yang memiliki bentuk bunga Padma dan ditemukan pada Upak.
  • Fauna yang terdiri dari Kemamang, Peksi Garuda, Ular Naga, Jago, dan Mirong.
    • Kemamang, memiliki makna menelan segala sesuatu yang bersifat jahat saat hendak masuk.
    • Peksi Garuda, memiliki makna sebagai pemberantas kejahatan.
    • Ular Naga, merupakan ragam hias yang dipengaruhi oleh budaya India dan terletak pada Bubungan Rumah.
    • Jago, melambangkan keberanian.
    • Mirong, melambangkan putri mungkur.
  • Alam yang terdiri dari Gunungan, Makutha, Praba, Kepetan, Panah, Mega Mendhung, dan Banyu Tetes.
  • Anyaman, umumnya tidak memiliki makna tertentu dan berfungsi untuk memperindah rumah Joglo, memiliki warna polos, dan ditemukan pada dinding atau sekat serta daun pintu.
  • Agama yang terdiri dari Mustaka dan Kaligrafi.

 

Referensi :

Central Java Investment. (2021). Profil Jawa Tengah. Diakses dari https://cjip.jatengprov.go.id/profil-jawa-tengah

Vannisa. (2021, September 23). Kebudayaan Jawa Tengah. Diakses dari https://perpustakaan.id/budaya-jawa-tengah/

Subroto, L. H. (2022, Januari 17). Sejarah dan Filosofi Rumah Joglo. Kompas.com. Diakses dari https://www.kompas.com/stori/read/2022/01/17/130000279/sejarah-dan-filosofi-rumah-joglo?page=all

Halim, B. (2021, September 2). 9 Bagian-Bagian dalam Rumah Joglo yang Kaya Makna. Diakses dari https://www.finansialku.com/bagian-bagian-dalam-rumah-joglo/

Nancy, Y. (2021, Desember 10). Keunikan Rumah Joglo Jawa Tengah : Bagian, Filosofu, dan Jenisnya. Tirto.id. Diakses dari https://tirto.id/keunikan-rumah-joglo-jawa-tengah-bagian-filosofi-dan-jenisnya-gmbv

Fiona, D. (2022, Maret 1). Indahnya Arsitektur dan Filosofi Rumah Adat Joglo, Tengok Maknanya, Yuk!. Diakses dari https://www.orami.co.id/magazine/rumah-adat-joglo

Aninsi, N. (2021, September 29). Mengenal Jenis Rumah Joglo, Bangunan Adat Suku Jawa Penuh Filosofi.  Katadata.co.id. Diakses dari https://katadata.co.id/intan/berita/615425c636ea7/mengenal-jenis-rumah-joglo-bangunan-adat-suku-jawa-penuh-filosofi

Rumah.com. (2021, Mei 5). Rumah Joglo Keunikan, Adat, dan Filosofinya. Diakses dari https://www.rumah.com/panduan-properti/rumah-joglo-48100

Zulfikar. F. (2021, Juni 4). Rumah Adat Joglo Berasal dari Mana? Makna dan Filosofinya. DetikEdu. Diakses dari https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5592183/rumah-adat-joglo-berasal-dari-mana-ini-makna-dan-filosofinya

Iswanto, D. (2008). Aplikasi Ragam Hias Jawa Tradisional Pada Rumah Tinggal Baru. Enclosure: Jurnal Ilmiah Perancangan Kota dan Permukiman, 7(2), p. 90-97. https://core.ac.uk/download/pdf/11719372.pdf