Perempuan dalam Industri Akuntansi

       Hari Perempuan Sedunia diperingati setiap tanggal 8 Maret. Sebulan setelahnya, atau  tepatnya pada tanggal 21 April, Indonesia merayakan hari perempuan nasional atau dikenal sebagai  Hari Kartini. Peringatan hari perempuan tidak hanya sebagai epitome dari perjuangan perempuan  dalam hal kesetaraan gender dan pengakuan terhadap prestasi-prestasi yang telah ditorehkan oleh  perempuan di seluruh dunia, melainkan sebuah lanjutan dari perjuangan dan prestasi yang telah  ada.  

       Menurut data dari Catalyst (2019), eksistensi perempuan di Uni Eropa mencapai dua pertiga  dalam aktivitas akuntansi profesional dimana persentase Finlandia dan Jerman adalah yang  tertinggi hingga mencapai 66.8%. Dari seluruh firma akuntansi yang terbesar di Inggris (termasuk  Big Four), jumlah perempuan hanya sekitar 42% yang menjadi manajer dan 17% yang menjadi  rekan. Sedangkan di Amerika Serikat, jumlah perempuan yang menjadi akuntan dan auditor  mencapai 61.7% dimana sebanyak 50% merupakan karyawan tetap di Kantor Akuntan Publik  (KAP) dan sebanyak 27% merupakan rekan dan prinsipal.  

       Data yang telah dihimpun dapat disimpulkan bahwa meskipun dari segi jumlah perempuan  mendominasi, tetapi pada industri ini kekuasaan dan jabatan lebih didominasi oleh pria atau dengan  kata lain perempuan kurang terwakili pada tingkat manajemen atas. Hal ini tidak terlepas dari  stigma dan stereotip masyarakat mengenai laki-laki dan perempuan. Masyarakat memiliki tendensi  untuk berpikir bahwa kriteria kepemimpinan harus memiliki sisi maskulinitas yang mana selalu  dikaitkan dengan laki-laki.  

       Secara historis, peningkatan jumlah perempuan di dunia akuntansi mulai semakin  signifikan pada perang dunia II atau dari tahun 1939 hingga 1945. Pada zaman itu, perempuan  harus menggantikan posisi laki-laki yang bertugas di perang. Peneliti, Wanda G. Spruill dan  Charles W. Wootton, mengatakan bahwa jumlah Certified Public Accountants (CPA) perempuan  di Amerika Serikat sangat sedikit pada masa sebelum perang. Jumlah CPA Perempuan pada saat  itu hanya sekitar 40 orang dimana masing-masing negara bagian memiliki tidak lebih dari lima  CPA perempuan. Bahkan, hingga sekitar tahun 1950 profesi akuntan masih merupakan profesi  yang jarang digeluti oleh perempuan.  

       Sejak munculnya akuntan perempuan pertama, perempuan telah mengalami  pergumulanpergumulan diskriminasi dalam dunia akuntansi. Kita dapat melihat kisah akuntan perempuan pertama di dunia, yaitu Mary Harris Smith dengan kegigihannya dalam  memperjuangkan pengukuhan dirinya sebagai chartered accountant di Inggris selama 29 tahun.  Sebelum satu dekade lebih kematiannya, ia berhasil menjadi fellow ICAEW (setelah mengalami  beberapa kali penolakan dari dewan ICAEW) pada tahun 1920 yang membuka jalan bagi  perempuan lainnya untuk memulai keanggotaan di ICAEW. Dalam praktik profesionalismenya, ia  banyak melakukan audit dan menyediakan layanan akuntan profesional kepada sejumlah  organisasi perempuan yang mendukung hak pilih dan kesetaraan perempuan (ICAEW, 2020). Ia  memiliki tujuan yang mulia, yaitu untuk membuka jalan bagi perempuan agar mendapatkan profesi  akuntansi dengan pijakan yang sama dengan anggota laki-laki (termasuk diizinkan untuk  bergabung dengan badan akuntansi profesional seperti ICAEW).  

       Selain Mary Harris Smith, kisah lainnya yang dapat kita lihat adalah perjuangan Jennie M.  Palen. Jennie M. Palen merupakan salah satu wanita pertama yang meraih sertifikasi profesi  akuntan publik pada tahun 1923 di negara bagian New York, Amerika Serikat. Saat akuntan  perempuan pada saat itu hanya dipekerjakan menjadi sekretaris, Palen berhasil menjadi salah satu  wanita pertama yang menjadi prinsipal di salah satu KAP besar pada saat itu. Palen adalah seorang  pelopor dalam pengembangan profesi akuntansi di Amerika Serikat. Tidak hanya sebagai akuntan,  Palen juga merupakan seorang edukator, penulis, sejarawan, dan penyair yang sukses. Ia pernah  menjadi wakil presiden dan presiden di American Woman’s Society of Certified Public Accountants  (AWSCPA). AWSCPA merupakan kelompok pendukung para akuntan wanita di AS yang memiliki  tujuan untuk menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan di dalam ruang lingkup profesi  akuntansi dan juga untuk mengakui pencapaian-pencapaian perempuan yang memiliki profesi  sebagai akuntan. Melalui tulisannya di artikel, buku, dan puisi, ia tidak hanya mampu  merefleksikan pandangannya tentang kehidupan, melainkan juga perubahan peran akuntansi dan  masyarakatnya.  

       Meskipun sukses menjalani karirnya selama lebih dari empat puluh tahun, ia tidak luput  dari bias gender. Ia merupakan saksi dan juga memainkan peranan penting dalam perjuangan para  perempuan untuk mendapatkan penerimaan di sektor akuntansi public dan perjuangan untuk  diterima dalam KAP yang besar (Spruill dan Wootton, 1995). Kegagalan Palen untuk menjadi  rekan di KAP terhambat oleh pengalaman yang tidak pernah ia miliki sebagai auditor. Kolega Palen  sekaligus mantan rekan Haskin & Sells (perusahaan dimana Jannie M. Palen pernah bekerja dan  kini dikenal sebagai Deloitte), Gordon Hill, mengatakan bahwa Palen tidak dapat menjadi rekan karena pada saat itu perusahaan tidak mengirimkan perempuan untuk bekerja pada bidang audit.  Saat itu, klien lebih memiliki preferensi terhadap pria untuk menjadi auditor perusahaannya  dibandingkan wanita. Itulah satu-satunya alasan Palen tidak dapat menjadi rekan di KAP tersebut.  Di Indonesia, tidak ada catatan mengenai akuntan perempuan pertama. Namun, saat ini Narsa  (2007) mengakui bahwa komposisi perempuan pada jurusan akuntasi lebih banyak dibandingkan  laki-laki. Meskipun semakin banyak akuntan perempuan Indonesia yang memegang jabatan  penting di KAP, tetapi jumlahnya masih kalah jauh dibandingkan laki-laki. Kita dapat melihat  bahwa KAP besar di Indonesia mayoritas diisi oleh rekan laki-laki.  

       Dewasa ini, kesetaraan gender masih menjadi isu yang sering digaungkan. Kesenjangan  gaji, kesetaraan kesempatan terhadap pemberdayaan, dan akses menuju pendidikan merupakan  beberapa permasahalan yang sering dibahas. Kesetaraan gender merupakan salah satu tujuan yang  ingin dicapai dalam Sustainable Development Goals (SDG) oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa  (PBB). Pentingnya peran untuk memperjuangkan kesetaraan gender tidak hanya mengacu pada  perempuan, tetapi juga perjuangan bersama yang menginginkan organisasinya memiliki corporate  culture yang sehat. Untuk itu, sebagai akuntan penting untuk menjunjung tinggi nilai-nilai  emansipasi.  

       Sandy Shecter (2019) memberikan pesan bagi seluruh akuntan perempuan mengenai  masalah kesenjangan gender ini. Pertama, meluangkan waktu saat dibutuhkan, tetap aktif dalam  profesi yang diemban, dan mengembangkan jaringan profesionalisme yang kuat. Kedua,  menemukan sosok perempuan yang menjadi panutan di tempat kerja. Ketiga, menemukan  perusahaan yang memiliki komitmen untuk mendorong akuntan perempuan terus maju dimulai  dengan kepemimpinan yang memiliki kemauan untuk merintis dan menavigasi seluruh perubahan  yang terjadi di perusahaan. Perempuan harus terus bergerak maju di bidang akuntansi karena  menjadi akuntan merupakan tanggung jawab bersama untuk memberikan kemajuan yang sama  bagi semua.  

       Perempuan dalam dunia akuntansi tidak terlepas dari peran perusahaan yang dapat  menyediakan kesempatan yang setara dan tidak terbatas pada gender. Contohnya, program  kepemimpinan masa depan yang bertujuan untuk menyediakan keterampilan yang dibutuhkan  dalam membantu mereka dalam memajukan karir sebagai akuntan. Hal yang utama adalah semua  pemangku kepentingan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan ruang aman dan nyaman bagi  perempuan untuk bekerja.

 

 

Referensi:

Celebrating 100 Years of Women in Chartered Accountancy. ICAEW. (n.d.). Dikutip 8 Maret,  2022, dari https://www.icaew.com/about-icaew/campaigns/celebrating-100-years-of-women-in-chartered-accountancy

Keiran, S. E. (n.d.). Gender roles in public accounting and the absence of women in Upper-Level Management. University of New Hampshire Scholars’ Repository. Dikutip 8 Maret, 2022,  dari https://scholars.unh.edu/honors/358/  

Narsa, I. M. (2006, November 1). Sex-role stereotype Dalam Rekrutmen Pegawai Akuntansi Dan  Keuangan: Observasi Terhadap Pola Rekruitmen terbuka di media Masa. Jurnal Akuntansi  dan Keuangan Universitas Kristen Petra. Dikutip 9 Maret, 2022, dari  https://www.neliti.com/publications/75393/sex-role-stereotype-dalam-rekrutmen-pegawai-akuntansi-dan-keuangan-observasi-ter  

Shecter, S. (2019, December 2). The nature of women in accounting. Accounting Today. Dikutip  9 Maret, dari https://www.accountingtoday.com/opinion/the-nature-of-womeninaccounting  

Spruill, W. G., & Wootton, C. W. (1995). The struggle of women in Accounting: The case of  Jennie Palen, Pioneer Accountant, historian and poet. Critical Perspectives on  Accounting, 6(4), 371–389. https://doi.org/10.1006/cpac.1995.1033  

Women in Accounting (Quick Take). Catalyst. (2021, December 8). Dikutip 9 Maret, 2022, dari https://www.catalyst.org/research/women-in-accounting/  

Women in accounting. Eide Bailly LLP. (n.d.). Dikutip 8 Maret, 2022, dari  https://www.eidebailly.com/insights/firm-news/2018/women-in-accounting