    {"id":8010,"date":"2022-12-13T00:30:40","date_gmt":"2022-12-12T17:30:40","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/?p=8010"},"modified":"2022-12-13T00:32:34","modified_gmt":"2022-12-12T17:32:34","slug":"wayang-sebagai-warisan-budaya-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/2022\/12\/wayang-sebagai-warisan-budaya-indonesia\/","title":{"rendered":"Wayang Sebagai Warisan Budaya Indonesia"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><b>Sumber Gambar: freepik<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Wayang merupakan boneka tiruan orang yang terbuat dari kayu atau kulit yang\u00a0 digunakan untuk memerankan peran tokoh dalam pertunjukan. Wayang juga termasuk\u00a0 salah satu aset dari budaya Indonesia. Kata wayang berasal dari kata ma Hyang yang\u00a0 artinya menuju spiritualitas pada Sang Kuasa. Wayang dikenal sekitar dan\u00a0 berkembang sekitar pada 1500 SM dan terus berkembang di kerajaan Jawa dan Bali\u00a0 yang kemudian menyebar ke pulau lainnya. Fungsi wayang pada awalnya yaitu untuk\u00a0 menghormati arwah nenek moyang. Namun, seiring bertambahnya waktu wayang\u00a0 dijadikan sebagai bentuk cerita untuk keagamaan dakwah, propaganda politik,\u00a0 pendidikan dan hiburan. Ada juga yang mempercayai bahwa wayang merupakan\u00a0 benda keramat atau totemisme.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Istilah pewayangan, diambil dari kata \u201cbayangan\u201d yang figurnya terbuat dari\u00a0 kulit kerbau. Setiap daerah seperti Jawa dan Bali memiliki persepsi yang berbeda-beda mengenai sejarah asal mula wayang. Masyarakat Bali mempercayai bahwa asal mula wayang berasal dari pengungsi dari kerajaan Majapahit pada tahun 1520 SM. Masyarakat Jawa juga memiliki persepsi yang berbeda dengan masyarakat Bali, mereka\u00a0 mempercayai bahwa kesenian wayang diperkenalkan dan ditemukan oleh wali songo yang menyebarkan agama Islam di tanah Jawa\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Wayang juga termasuk dalam seni edipeni adiluhung yang maksudnya wayang\u00a0 bukan hanya sebagai seni yang indah tetapi mengandung makna nilai-nilai kehidupan.\u00a0 Pertunjukan wayang biasanya dimainkan oleh Ki Dalang dan diiringi oleh penyanyi\u00a0 sinden dan alat musik tradisional gamelan dengan mengambil cerita dari rangkaian\u00a0 kisah Mahabarata dan Ramayana. Jenis wayang yang paling terkenal di Indonesia\u00a0 adalah wayang kulit. Wayang kulit dibuat dari kulit kerbau yang dikeringkan dan\u00a0 tambahan tanduk kerbau juga sekrup untuk bagian siku dan gagang wayang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pada tanggal 7 November 2003, UNESCO mengakui bahwa wayang sebagai\u00a0 pertunjukan bayangan boneka dari Indonesia menjadi warisan budaya Indonesia\u00a0 sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity (Mahakarya yang\u00a0 tidak ternilai dan dalam seni bertutur). Hal Ini berarti wayang sebagai kebudayaan\u00a0 Indonesia telah tersohor oleh dunia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sumber:\u00a0<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Ulfa, Maria. 2022. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah Wayang di Indonesia: Jenis-jenis serta Fungsinya<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/tirto.id\/sejarah-wayang-di-indonesia-jenis-jenis-serta-fungsinya-go6j\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/tirto.id\/sejarah-wayang-di-indonesia-jenis-jenis-serta-fungsinya-go6j<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses 16 November 2022.\u00a0<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Kemendikbud. 2022. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Wayang: Aset Budaya Nasional sebagai Refleksi Kehidupan dengan Kandungan Nilai-nilai Falsasah Timur. <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/jendela.kemdikbud.go.id\/v2\/kebudayaan\/detail\/wayang-aset-budaya-nasional-sebagai-refleksi-kehidupan-dengan-kandungan-nilai-nilai-falsafah-timur\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/jendela.kemdikbud.go.id\/v2\/kebudayaan\/detail\/wayang-aset-budaya-nasional-sebagai-refleksi-kehidupan-dengan-kandungan-nilai-nilai-falsafah-timur<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses 16 November 2022.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tempo. 2021. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kisah UNESCO Mengakui Wayang Kulit sebagai Warisan Budaya Dunia Asal Indonesia. <\/span><\/i><a href=\"https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1530239\/kisah-unesco-mengakui-wayang-kulit-sebagai-warisan-dunia-asal-indonesia\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/nasional.tempo.co\/read\/1530239\/kisah-unesco-mengakui-wayang-kulit-sebagai-warisan-dunia-asal-indonesia<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\">. Diakses 16 November 2022.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sumber Gambar: freepik Wayang merupakan boneka tiruan orang yang terbuat dari kayu atau kulit yang\u00a0 digunakan untuk memerankan peran tokoh dalam pertunjukan. Wayang juga termasuk\u00a0 salah satu aset dari budaya Indonesia. Kata wayang berasal dari kata ma Hyang yang\u00a0 artinya menuju spiritualitas pada Sang Kuasa. Wayang dikenal sekitar dan\u00a0 berkembang sekitar pada 1500 SM dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":54,"featured_media":8011,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[58],"tags":[],"class_list":["post-8010","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/54"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8010"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8017,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8010\/revisions\/8017"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8011"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8010"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8010"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bslc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8010"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}