    {"id":3726,"date":"2021-10-28T22:54:11","date_gmt":"2021-10-28T15:54:11","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/?p=3726"},"modified":"2021-10-28T22:54:11","modified_gmt":"2021-10-28T15:54:11","slug":"mengenal-lebih-dekat-kampung-ketandan-%e9%98%81%e4%b8%b9%e6%aa%80%e6%9d%91","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/2021\/10\/28\/mengenal-lebih-dekat-kampung-ketandan-%e9%98%81%e4%b8%b9%e6%aa%80%e6%9d%91\/","title":{"rendered":"Mengenal Lebih Dekat Kampung Ketandan (\u9601\u4e39\u6a80\u6751)"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kampung Ketandan mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Yogyakarta. Pecinan ini terletak di utara Pasar Beringharjo, Jalan Malioboro, Yogyakarta. Di kawasan ini, kita bisa menemukan ornamen-ornamen khas Tiongkok, berbagai kuliner non-halal, dan terdapat beberapa toko emas.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Jika dilihat dari bangunannya, Kampung Ketandan merupakan akulturasi antara budaya Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Oleh sebab itu lebih cocok jika dikatakan sebagai pecinan peranakan. Usia Kampung Ketandan sendiri diyakini sudah lebih dari 200 tahun dan memiliki sejarah yang panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3727\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-content\/uploads\/sites\/25\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-28-at-22.51.03.jpeg\" alt=\"\" width=\"370\" height=\"285\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Gapura Kampung Ketandan, Yogyakarta<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Kampung Ketandan sendiri berasal dari kata <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">tondo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> yang merupakan ungkapan bagi para penarik pajak atau pejabat tondo yang otoritasnya diberikan secara langsung oleh Sultan Hamengkubuwono III kepada etnis Tionghoa. Diketahui bahwa etnis Tionghoa memegang peranan yang cukup kuat pada berkembangnya sejarah dan kebudayaan Yogyakarta yang juga berakar dari tradisi budaya Jawa.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah Kampung Ketandan sendiri dimulai pada awal abad ke-19 oleh seorang kapitan bernama Tan Jin Sing yang merupakan putra seorang bangsawan Jawa. Tan Jin Sing adalah seseorang yang pandai dan mampu menguasai bahasa Hokkien, Mandarin, dan Inggris. Berkat kepandaiannya tersebut, ia mampu mengambil hati Thomas Raffles (gubernur Hindia-Belanda yang berkuasa di Pulau Jawa pada masa itu). Ia kemudian menjadi perantara antara Sultan Hamengkubuwono III dan Thomas Raffles.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pecinan ini berkembang ketika Kapitan Tan Jin Sing hijrah dari Kedu ke Yogyakarta sekitar tahun 1803. Tan Jin Sing kemudian diangkat menjadi bupati Nayoko oleh Sultan Hamengkubuwono III pada tahun 1813. Tan Jin Sing lalu menikahi anak seorang kapitan Tionghoa di Yogyakarta kala itu yang bernama U Li. Pada masa kepemimpinan Tan Jin Sing, keberadaan Kampung Ketandan menjadi semakin populer.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada tahun 1950-an, Kampung Ketandan dipenuhi dengan perdagangan bahan-bahan pokok dan jamu. Selain itu, karena perkembangan tren dan juga pasar, banyak pedagang di Kampung Ketandan berjualan emas. Hingga saat ini, kita masih dapat menemukan beberapa toko emas di kawasan pecinan ini.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Pada saat ini, diperkirakan terdapat dua atau tiga keluarga yang merupakan keturunan asli sejak berdirinya Kampung Ketandan. Namun, meskipun terdapat perbedaan budaya dan akulturasi di pecinan ini, masyarakat masih dapat hidup berdampingan dan harmonis.<\/span><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3728\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-content\/uploads\/sites\/25\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-28-at-22.51.09.jpeg\" alt=\"\" width=\"360\" height=\"270\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Kawasan Pertokoan dan Perumahan di Kampung Ketandan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiap tahunnya Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PTBY) digelar di kawasan Kampung Ketandan. Biasanya festival ini digelar untuk memperingati hari raya Imlek dan perayaan Cap Go Meh. Pada masa festival ini, area Kampung Ketandan akan dipenuhi dengan berbagai kegiatan, seperti: bazar makanan dan pernak-pernik, pertunjukkan budaya seperti Barongsai dan Wayang Potehi, serta lomba karaoke lagu mandarin.<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Setiap hari raya Imlek, di ujung sudut area PTBY biasanya terdapat pertunjukkan Wayang Potehi\/<\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">bu dai xi<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (\u5e03\u888b\u620f) yang semakin menambah nuansa hari raya Imlek dan tentu menambah wawasan kita mengenai kebudayaan Tiongkok. Cerita yang dibawakan pada petunjukkan Wayang Potehi sendiri sangat bervariasi, misalnya cerita yang melibatkan kera sakti seperti <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Sun Wu Kong<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> (\u5b59\u609f\u7a7a), cerita mengenai sejarah kerajaan Tiongkok, dan cerita-cerita novel yang cukup diminati oleh penonton. Terdapat pertunjukkan yang hanya dalam sekali pertunjukkan selesai dan ada juga yang dibuat bersambung.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-3729\" src=\"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-content\/uploads\/sites\/25\/2021\/10\/WhatsApp-Image-2021-10-28-at-22.51.16.jpeg\" alt=\"\" width=\"405\" height=\"270\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><span style=\"font-weight: 400\">Suasana Pertunjukan Wayang Potehi di Kampung Ketandan<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Selama enam tahun terakhir, pemerintah DI Yogyakarta telah menjalin kerjasama dengan pemerintah Shanghai untuk mengokohkan program <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Sister Province<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\"> yang bertujuan untuk membangun pusat kebudayaan Yogyakarta-Shanghai di kawasan Kampung Ketandan. Di dalam Gedung Pusat Kebudayaan Yogyakarta-Shanghai akan dipenuhi dengan kegiatan pendidikan, kebudayaan, perdagangan, dan berbagai kegiatan lain untuk menunjang program <\/span><em><span style=\"font-weight: 400\">Sister Province<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Referensi:<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Ludhy Cahyana. 2019. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Kampung Ketandan di Yogyakarta Disiapkan Jadi Area Pecinan<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/travel.tempo.co\/read\/1277043\/kampung-ketandan-yogyakarta-disiapkan-jadi-area-pecinan\/full&amp;view=ok\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/travel.tempo.co\/read\/1277043\/kampung-ketandan-yogyakarta-disiapkan-jadi-area-pecinan\/full&amp;view=ok<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> (diakses pada tanggal 4 April 2021).<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Dany Garjito. 2020. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Tak Sekadar Pecinan, Ini Sejarah Kampung Ketandan di Yogyakarta<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/www.guideku.com\/travel\/2020\/01\/24\/180000\/tak-sekadar-pecinan-ini-sejarah-kampung-ketandan-di-yogyakarta\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.guideku.com\/travel\/2020\/01\/24\/180000\/tak-sekadar-pecinan-ini-sejarah-kampung-ketandan-di-yogyakarta<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> (diakses pada tanggal 4 April 2021)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Wijaya Kusuma. 2016. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Sejarah Kampung Ketandan Yogyakarta dan Kapitan Tan Jin Sing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">. <\/span><a href=\"https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2016\/02\/08\/09450901\/Sejarah.Kampung.Pecinan.Ketandan.Yogyakarta.dan.Kapitan.Tan.Jin.Sing?page=all\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/regional.kompas.com\/read\/2016\/02\/08\/09450901\/Sejarah.Kampung.Pecinan.Ketandan.Yogyakarta.dan.Kapitan.Tan.Jin.Sing?page=all<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> (diakses pada tanggal 4 April 2021)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Rahman. 2020. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">Wayang Potehi, Identitas Imlek Kampung Ketandan.<\/span><\/i> <a href=\"https:\/\/gudeg.net\/read\/14870\/wayang-potehi-identitas-imlek-kampung-ketandan.html\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/gudeg.net\/read\/14870\/wayang-potehi-identitas-imlek-kampung-ketandan.html<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> (diakses pada tanggal 5 April 2021)<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">Sumber gambar: <\/span><a href=\"https:\/\/merahputih.com\/post\/read\/lima-tempat-di-yogyakarta-yang-wajib-diunjungi-waktu-imlek\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/merahputih.com\/post\/read\/lima-tempat-di-yogyakarta-yang-wajib-diunjungi-waktu-imlek<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/www.starjogja.com\/2019\/02\/04\/kampung-ketandan-yogyakarta\/\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/www.starjogja.com\/2019\/02\/04\/kampung-ketandan-yogyakarta\/<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/gudeg.net\/read\/14870\/wayang-potehi-identitas-imlek-kampung-ketandan.html\"><span style=\"font-weight: 400\">https:\/\/gudeg.net\/read\/14870\/wayang-potehi-identitas-imlek-kampung-ketandan.html<\/span><\/a><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: center\"><b>\u6df1\u5165\u4e86\u89e3\u9601\u4e39\u6a80\u6751<\/b><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u5bf9\u4e8e\u65e5\u60f9\u4eba\u6765\u8bf4\u53ef\u80fd\u5df2\u7ecf\u5f88\u719f\u6089\u4e86\u3002 \u8fd9\u4e2a\u5510\u4eba\u8857\u4f4d\u4e8e\u65e5\u60f9 Jalan Malioboro \u7684 Beringharjo \u5e02\u573a\u5317\u8fb9\u3002 \u5728\u8fd9\u4e2a\u5730\u533a\uff0c\u6211\u4eec\u53ef\u4ee5\u627e\u5230\u5178\u578b\u7684\u4e2d\u56fd\u9970\u54c1\uff0c\u5404\u79cd\u975e\u6e05\u771f\u7f8e\u98df\uff0c\u8fd8\u6709\u51e0\u5bb6\u91d1\u5e97\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u4ece\u5efa\u7b51\u4e0a\u770b\uff0c\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u878d\u5408\u4e86\u4e2d\u56fd\u3001\u722a\u54c7\u548c\u6b27\u6d32\u6587\u5316\u3002 \u56e0\u6b64\uff0c\u8bf4\u5b83\u662f\u571f\u751f\u5510\u4eba\u8857\u66f4\u5408\u9002\u3002\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u672c\u8eab\u7684\u5e74\u9f84\u636e\u4fe1\u5df2\u6709 200 \u591a\u5e74\u7684\u5386\u53f2\uff0c\u800c\u4e14\u5386\u53f2\u60a0\u4e45\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u672c\u8eab\u6765\u81ea \u201ctondo\u201d \u8fd9\u4e2a\u8bcd\uff0c\u5b83\u662f\u7a0e\u6536\u5b98\u6216 tondo \u5b98\u5458\u7684\u8868\u8fbe\uff0c\u5176\u6743\u529b\u7531\u82cf\u4e39\u54c8\u8499\u5e93\u5e03\u6c83\u8bfa\u4e09\u4e16\u76f4\u63a5\u6388\u4e88\u534e\u88d4\u3002 \u4f17\u6240\u5468\u77e5\uff0c\u4e2d\u56fd\u4eba\u5728\u65e5\u60f9\u7684\u5386\u53f2\u548c\u6587\u5316\u53d1\u5c55\u4e2d\u53d1\u6325\u4e86\u91cd\u8981\u4f5c\u7528\uff0c\u8fd9\u4e5f\u690d\u6839\u4e8e\u722a\u54c7\u6587\u5316\u4f20\u7edf\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u672c\u8eab\u7684\u5386\u53f2\u59cb\u4e8e 19 \u4e16\u7eaa\u521d\uff0c\u7531\u4e00\u4f4d\u540d\u53eb Tan Jin Sing \u7684\u8239\u957f\u5f00\u59cb\uff0c\u4ed6\u662f\u722a\u54c7\u8d35\u65cf\u7684\u513f\u5b50\u3002 Tan Jin Sing \u662f\u4e00\u4e2a\u806a\u660e\u7684\u4eba\uff0c\u53ef\u4ee5\u638c\u63e1\u95fd\u5357\u8bed\u3001\u666e\u901a\u8bdd\u548c\u82f1\u8bed\u3002 \u591a\u4e8f\u4e86\u4ed6\u7684\u667a\u6167\uff0c\u4ed6\u624d\u80fd\u8d62\u5f97\u6258\u9a6c\u65af\u00b7\u83b1\u4f5b\u58eb\uff08\u5f53\u65f6\u7edf\u6cbb\u722a\u54c7\u7684\u8377\u5c5e\u4e1c\u5370\u5ea6\u7fa4\u5c9b\u603b\u7763\uff09\u7684\u5fc3\u3002 \u4ed6\u540e\u6765\u6210\u4e3a\u82cf\u4e39\u54c8\u8499\u5e93\u5e03\u6c83\u8bfa\u4e09\u4e16\u548c\u6258\u9a6c\u65af\u83b1\u4f5b\u58eb\u4e4b\u95f4\u7684\u4e2d\u95f4\u4eba\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u8fd9\u4e2a\u5510\u4eba\u8857\u662f\u5728 1803 \u5e74\u5de6\u53f3 Kapitan Tan Jin Sing \u4ece Kedu \u642c\u5230\u65e5\u60f9\u65f6\u200b\u200b\u53d1\u5c55\u8d77\u6765\u7684\u3002 Tan Jin Sing \u7136\u540e\u5728 1813 \u5e74\u88ab\u82cf\u4e39\u54c8\u8499\u5e93\u5e03\u6c83\u8bfa\u4e09\u4e16\u4efb\u547d\u4e3a Nayoko \u7684\u6444\u653f\u3002 Tan Jin Sing \u7136\u540e\u5728\u65e5\u60f9\u4e0e\u5f53\u65f6\u540d\u4e3a U Li \u7684\u4e2d\u56fd\u8239\u957f\u4e4b\u5b50\u7ed3\u5a5a\u3002 \u5728Tan Jin Sing\u7684\u9886\u5bfc\u4e0b\uff0c\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u7684\u5b58\u5728\u8d8a\u6765\u8d8a\u53d7\u6b22\u8fce\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u5728 1950 \u5e74\u4ee3\uff0c\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u5145\u6ee1\u4e86\u539f\u6750\u6599\u548c\u8349\u836f\u7684\u8d38\u6613\u3002 \u6b64\u5916\uff0c\u7531\u4e8e\u8d8b\u52bf\u548c\u5e02\u573a\u7684\u53d1\u5c55\uff0c\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u7684\u8bb8\u591a\u5546\u4eba\u51fa\u552e\u9ec4\u91d1\u3002 \u76f4\u5230\u73b0\u5728\uff0c\u6211\u4eec\u4ecd\u7136\u53ef\u4ee5\u5728\u8fd9\u4e2a\u5510\u4eba\u8857\u5730\u533a\u627e\u5230\u4e00\u4e9b\u91d1\u5e97\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u6b64\u65f6\uff0c\u81ea\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u6210\u7acb\u4ee5\u6765\uff0c\u6709\u4e24\u4e09\u4e2a\u5bb6\u65cf\u662f\u539f\u59cb\u7684\u540e\u88d4\u3002 \u7136\u800c\uff0c\u5c3d\u7ba1\u8fd9\u4e2a\u5510\u4eba\u8857\u7684\u6587\u5316\u548c\u4e60\u4fd7\u5dee\u5f02\u5f88\u5927\uff0c\u4eba\u4eec\u4ecd\u7136\u53ef\u4ee5\u548c\u7766\u76f8\u5904\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u6bcf\u5e74\u65e5\u60f9\u4e2d\u56fd\u6587\u5316\u5468\uff08PTBY\uff09\u90fd\u4f1a\u5728\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u5730\u533a\u4e3e\u884c\u3002 \u901a\u5e38\u8fd9\u4e2a\u8282\u65e5\u662f\u4e3a\u4e86\u7eaa\u5ff5\u519c\u5386\u65b0\u5e74\u548c\u5927\u5e74\u5341\u4e94\u5e86\u795d\u6d3b\u52a8\u800c\u4e3e\u884c\u7684\u3002 \u5728\u8fd9\u4e2a\u8282\u65e5\u671f\u95f4\uff0c\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u5730\u533a\u5c06\u4e3e\u529e\u5404\u79cd\u6d3b\u52a8\uff0c\u4f8b\u5982\uff1a\u7f8e\u98df\u548c\u5c0f\u73a9\u610f\u96c6\u5e02\u3001\u821e\u72ee \u548c \u5e03\u888b\u620f\u7b49\u6587\u5316\u8868\u6f14\uff0c\u4ee5\u53ca\u56fd\u8bed\u6b4c\u66f2\u5361\u62c9 OK \u6bd4\u8d5b\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u6bcf\u5e74\u519c\u5386\u65b0\u5e74\uff0c\u5728 PTBY \u533a\u57df\u7684\u62d0\u89d2\u5904\uff0c\u901a\u5e38\u90fd\u4f1a\u6709\u5e03\u888b\u620f\u8868\u6f14\uff0c\u8fd9\u589e\u52a0\u4e86\u519c\u5386\u65b0\u5e74\u7684\u7ec6\u5fae\u5dee\u522b\uff0c\u5f53\u7136\u4e5f\u589e\u52a0\u4e86\u6211\u4eec\u5bf9\u4e2d\u56fd\u6587\u5316\u7684\u6d1e\u5bdf\u529b\u3002 \u5e03\u888b\u620f\u4e2d\u8bb2\u8ff0\u7684\u6545\u4e8b\u5343\u5dee\u4e07\u522b\uff0c\u6bd4\u5982\u9f50\u5929\u5927\u5723\u5b59\u609f\u7a7a\u7684\u6545\u4e8b\uff0c\u4e2d\u534e\u5e1d\u56fd\u5386\u53f2\u7684\u6545\u4e8b\uff0c\u4ee5\u53ca\u9887\u53d7\u89c2\u4f17\u6b22\u8fce\u7684\u5c0f\u8bf4\u6545\u4e8b\u3002 \u6709\u4e9b\u8282\u76ee\u662f\u4e00\u6b21\u6027\u5b8c\u7ed3\uff0c\u6709\u4e9b\u8282\u76ee\u5c06\u4f1a\u6709\u7eed\u96c6\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\"><span style=\"font-weight: 400\">\u5728\u8fc7\u53bb\u7684\u516d\u5e74\u91cc\uff0c\u65e5\u60f9\u7279\u533a\u653f\u5e9c\u4e0e\u4e0a\u6d77\u5e02\u653f\u5e9c\u5408\u4f5c\u52a0\u5f3a\u4e86\u65e8\u5728\u5728\u9601\u4e39\u6a80\u6751\u5730\u533a\u5efa\u8bbe\u65e5\u60f9-\u4e0a\u6d77\u6587\u5316\u4e2d\u5fc3\u7684\u59d0\u59b9\u7701\u8ba1\u5212\u3002 \u65e5\u60f9-\u4e0a\u6d77\u6587\u5316\u4e2d\u5fc3\u5927\u697c\u5185\u5c06\u4e3e\u529e\u6559\u80b2\u3001\u6587\u5316\u3001\u8d38\u6613\u548c\u5404\u79cd\u5176\u4ed6\u6d3b\u52a8\uff0c\u4ee5\u652f\u6301\u59d0\u59b9\u7701\u8ba1\u5212\u3002<\/span><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penerjemah: Nelviana<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kampung Ketandan mungkin sudah tidak asing bagi masyarakat Yogyakarta. Pecinan ini terletak di utara Pasar Beringharjo, Jalan Malioboro, Yogyakarta. Di kawasan ini, kita bisa menemukan ornamen-ornamen khas Tiongkok, berbagai kuliner non-halal, dan terdapat beberapa toko emas. Jika dilihat dari bangunannya, Kampung Ketandan merupakan akulturasi antara budaya Tiongkok, Jawa, dan Eropa. Oleh sebab itu lebih cocok [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":26,"featured_media":3727,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-3726","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3726","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/users\/26"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3726"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3726\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3730,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3726\/revisions\/3730"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3727"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3726"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3726"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bnmc\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3726"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}