    {"id":1128,"date":"2021-04-28T23:16:37","date_gmt":"2021-04-28T16:16:37","guid":{"rendered":"http:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/?p=1128"},"modified":"2021-11-23T11:06:01","modified_gmt":"2021-11-23T04:06:01","slug":"jenis-musik-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/2021\/04\/jenis-musik-nusantara\/","title":{"rendered":"Jenis Musik Nusantara"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center\"><strong>Jenis Musik Nusantara<\/strong><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Musik Nusantara adalah musik yang berkembang di seluruh wilayah kepulauan dan merupakan kebiasaan turun menurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Musik Nusantara tersebar hampir diseluruh pelosok negeri dan masing-masing daerah mempunyai ciri khas yang berbeda. Musik mempunyai fungsi yang sangat banyak, yaitu :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">1. Sebagai media pendidikan<br \/>\nDalam proses belajar, musik sangat berperan dalam pembentukan berfikir kreatif, sebagai media pendidikan lagu-lagu dan musik nusantara harus dapat menanamkan jiwa dan budi pekerti yang luhur, misalnya : keagungan Tuhan, cinta orang tua, cinta tanah air dan perilaku yang baik lainnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">2. Sebagai media Hiburan<br \/>\nDalam media hiburan, musik nusantar menempati ruang yang paling luas. Baik dari musikdaerah sampai musik modern, telah banyak digunakan manusia sebagai sarana rekreatif untuk melepas kecapekan atau kepenatan hidup sehari-hari.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">3. Sebagai media Apresiasi<br \/>\nMusik seni adalah musik yang dinikmati semata-mata karena unsur keindahannya. Musik yang digunakan sebagai media apresiasi di wilayah nusantara sebagian besar masih berkisar pada lagu-lagu seriosa. Dikarenakan masih kurangnya apresiasi masyarakat Indonesia terhadap musik seni barat.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Musik nusantara sendiri mempunyai 5 ragam, yang mempunyai pengertian dan ciri- ciri nya tersendiri. Ragam musik nusantara itu adalah :<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">1. Musik Daerah<br \/>\nMusik daerah biasanya dinyanyikan pada saat upacara adat.<br \/>\nCiri-ciri musik daerah adalah :<br \/>\na. Bahasa dan gaya sesuai dengan gaya daerah setempat.<br \/>\nb. Mengandung unsur kerakyatan dan kebersamaan<br \/>\nc. Bentuk dan pola serta susunan melodi masih sederhana dan mudah dikuasai oleh masyarakat daerah setempat.<br \/>\nContoh lagu daerah :<br \/>\nCublak-cublak suweng, Gubdul-gundul Pacul, Bubuy Bulan, Kicir-kicir, Buka Pintu, Goro-gorone, O Ni Keke, Si Patokaan, Butet.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">2. Musik Perjuangan<br \/>\nPada era ini musik Indonesia lebih banyak mengambil tema perjuangan, keberanian, semangat dan kebangsaan. Tema-tema heroik macam ini tentu saja berkaitan dengan kondisi Indonesia saat itu yang sedang melakukan perjuangan melawan Belanda dan Jepang.<br \/>\nCiri-ciri musik perjuangan adalah :<br \/>\na. Pada umumnya diciptakan pada masa perjuangan.<br \/>\nb. Isi syair lagu berisikan tentang semangat juang dalam membela kemerdekaan<br \/>\nc. Biasanya menggunakan irama yang penuh semangat, dan tidak jarang pada akhir lagu ditutup dengan semarak (masqulin ending)<br \/>\nContoh musik perjuangan :<br \/>\nHalo-halo Bandung, Maju Tak Gentar, Hari Merdeka, Bagimu Negeri, Bandung Lautan Api dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">3. Musik Anak-anak<br \/>\nCiri ciri musik anak-anak adalah :<br \/>\na. Memiliki bentuk yang sederhana<br \/>\nb. Tema lagu disesuaikan dengan jiwa anak yang masih polos<br \/>\nc. Bahasa yang digunakan sederhana sehingga mudah dipahami anak-anak<br \/>\nd. Lompatan nada tidak terlalu jauh<br \/>\ne. Isi lagu bersifat mendidik kearah positif, misalnya: cinta orang tua, mengagungkan nama Tuhan, cinta tanah air, lingkungan dan sebagainya.<br \/>\nContoh musik anak-anak:<br \/>\nBalonku Ada Lima, Pok Ame-Ame, Kasih Ibu, Pelangi, dan lain-lain.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">4. Musik Populer<br \/>\nPopuler dari kata Pop ( Popular), di gemari, disenangi masyarakat, musik pop berarti musik yang lagi digemari dimasyarakat dalam kurun waktu tertentu. Jenis musik ini tidak tahan lama, mudah hilang dan berganti lagi dengan lagu lagu lain yang baru.<br \/>\nCiri-ciri musik pop adalah :<br \/>\na. Mengutamakan teknik penyajian dan kebebasan dalam menggunakan ritme dan jenis instrument<br \/>\nb. Mudah diterima masyarakat<br \/>\nc. Bentuk lagu bebas.<br \/>\nd. Disenangi masyarakat pada kurun waktu terntu<br \/>\nContoh musik pop :<br \/>\nTak Ingin Sendiri, Berita Kepada Kawan, Arjuna mencari Cinta dan sebagainya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">5. Musik Seriosa<br \/>\nCiri-ciri musik seriosa :<br \/>\na. Banyak menggunakan nada-nada sisipan<br \/>\nb. Banyak menggunakan perubahan tempo dan dinamik<br \/>\nc. Dinyanyikan dengan serius dan perasaan yang mendalam<br \/>\nd. Terkadang ada pergantian nada dasar (modulasi)<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">6. Musik Stambul<br \/>\nCiri-ciri musik stambul adalah :<br \/>\na. Birama 4\/4<br \/>\nb. Terdiri dari 16 bar<br \/>\nc. Merupakan variasi dari keroncong<br \/>\nd. Muncul pada sekitar permulaan abad ke 20<br \/>\nContoh musik stambul :<br \/>\nStb Baju Biru, Stb. Merana<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">7. Musik Keroncong<br \/>\nCiri-ciri musik keroncong adalah :<br \/>\na. Birama 4\/4<br \/>\nb. Menggunakan alat musik ukulele<br \/>\nc. Terdiri dari 28 bar<br \/>\nd. Muncul pada abad ke 16<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">8. Musik Dangdut<br \/>\nDangdut merupakan salah satu dari genre seni musik yang berkembang di Indonesia. Bentuk musik ini berakar dari musik Melayu pada tahun 1940-an. Dalam evolusi menuju bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop, bahkan house music.Penyebutan nama \u201cdangdut\u201d merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia dangdut disebut gendang saja) yang khas dan didominasi oleh bunyi dang dan ndut. Nama ini sebetulnya adalah sebutan sinis dalam sebuah artikel majalah awal 1970-an bagi bentuk musik melayu yang sangat populer di kalangan masyarakat kelas pekerja saat itu.<br \/>\nDibalik semua itu, ada tokoh-tokoh musik Indonesia. Berikut adalah tokoh-tokoh musik Indonesia beserta karya-karyanya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">1. Komponis lagu-lagu perjuangan<br \/>\na. WR. Supratman : Indonesia Raya, Ibu Kartini, Di Timur Matahari,<br \/>\nb. Cornel Simanjuntak : Indonesia Tetap Merdeka, Maju Tak Gentar<br \/>\nc. H. Mutahar : Hari Merdeka, Syukur, Hymne Pramuka<br \/>\nd. Ismail Marzuki : Indonesia Pusaka, Sepasang Mata Bola<br \/>\ne. Liberty Manik : Satu Nusa Satu Bangsa, Desaku yang Kucinta,<br \/>\nf. Ibu Sud : Hymne Kemerdekaan, Berkibarlah Benderaku<br \/>\ng. Daljono : Bendera Kita, Bambu Runcing<br \/>\nh. T. Prawit : Mengheningkan Cipta, Bersatulah<br \/>\ni. Kusbini : Bagimu Negeri, Merdeka<br \/>\nj. A. Simanjuntak : Bangun Pemudi Pemuda, Indonesia Bersatulah<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">2. Komponis lagu-lagu Keroncong<br \/>\na. Gesang : Lgm. Bengawan Solo, Lgm. Ali-Ali<br \/>\nb. Mardjo Kahar : Kr. Meratap hati, Stb. Merana<br \/>\nc. Budiman BJ : Kr. Jayalah Indonesia, Lgm. Tanah Kerinduan<br \/>\nd. S. Padimin : Kr. Sekuntum Bunga, Kr. Pujaan Tanah Air<br \/>\ne. Maladi : Lgm. Tidurlah Intan,<br \/>\nf. Ismail Marzuki : Lgm. Sampul Surat, Lgm. Bandung Selatan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">3. Komponis lagu-lagu Populer<br \/>\na. Riyanto : Kemuning, Mimpi Sedih, Angin Malam,<br \/>\nb. Koes Plus : Kisah Sedih Di Hari Minggu, Cinta, Andaikan Kau<br \/>\nDatang<br \/>\nc. Ebiet G. Ade : Berita Kepada Kawan, Lagu untuk Sebuah Nama,<br \/>\nCamelia<br \/>\nd. Iwan Fals : Bento, Galang Rambu Anarki, Mata Indah Bola<br \/>\npingpong<br \/>\ne. Titiek Puspa : Bing, Cinta, Satu Dia, Tangis dan Cinta<br \/>\nf. Is Haryanto : Sepanjang Jalan Kenangan, Hilang Permataku<br \/>\ng. Melly Goeslow : Bunda, Jika, Ada Apa Dengan Cinta<br \/>\nh. Zainal Arifin : Teluk Bayur, Sebiduk Sungai Musi<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">4. Komponis lagu-lagu Klasik dan Seriosa<br \/>\na. Syaiful Bahri : Malam Kenangan, Lagu Untuk Anakku<br \/>\nb. C. Simanjuntak : Citra, Mekar Melati, Taufan<br \/>\nc. Iskandar : Dahag, Kasih di Ambang Pintu<br \/>\nd. Ismail Marzuki : Wanita, Fajar Harapan, Bintang Sejuta<br \/>\ne. Sancaya HR : Rindangnya Cinta, Kembang dan Kumbang<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Indonesia juga memilih seni tradisi. Dimana seni tradisi ini memiliki fungsi sebagai identitas, jati diri, serta media ekspresi dari masyarakat pendukungnya. Karena begitu banyaknya seni tradisi yang dimiliki bangsa Indonesia, maka untuk lebih mudah mengenalinya dapat di golongkan menjadi beberapa kelompok berdasarkan asal daerah, sumber bunyi dan cara memainkannya.<br \/>\nBerikut ini disajikan seni tradisi sesuai dengan sumber bunyi dan asal daerah.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">1. Sumber bunyi Aerofon<br \/>\nAlat Musik<br \/>\nAsal Daerah<br \/>\nSerune Kalee<br \/>\nAceh<br \/>\nSaluang<br \/>\nSumatera Barat<br \/>\nAccordeon<br \/>\nSumatera Selatan<br \/>\nSerunai<br \/>\nNusa Tenggara Barat<br \/>\nFu<br \/>\nMaluku Utara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">2. Sumber bunyi Ideofon<br \/>\nAlat Musik<br \/>\nAsal Daerah<br \/>\nAramba<br \/>\nSumatera Utara<br \/>\nBende<br \/>\nLampung<br \/>\nAngklung<br \/>\nJawa Barat<br \/>\nGamelan<br \/>\nJawa Tengah<br \/>\nGendang<br \/>\nDaerah Istimewa Yogyakarta<br \/>\nBonang<br \/>\nJawa Timur<br \/>\nCengceng<br \/>\nBali<br \/>\nKolintang<br \/>\nSulawesi Utara<br \/>\nLado-lado<br \/>\nSulawesi Tenggara<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">3. Sumber bunyi Kordofon<br \/>\nAlat Musik<br \/>\nAsal Daerah<br \/>\nGambus<br \/>\nRiau<br \/>\nGambus<br \/>\nJambi<br \/>\nTehyan<br \/>\nJakarta<br \/>\nSasando<br \/>\nNusa Tenggara Timur<br \/>\nSampek<br \/>\nKalimantan Timur<br \/>\nJapen<br \/>\nKalimantan Tengah<br \/>\nPanting<br \/>\nKalimantan Selatan<br \/>\nKeso-keso<br \/>\nSulawesi Selatan<br \/>\nKecapi<br \/>\nSulawesi Barat<br \/>\nGuoto<br \/>\nPapua Barat<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">4. Sumber bunyi Membranofon<br \/>\nAlat Musik<br \/>\nAsal Daerah<br \/>\nDoll<br \/>\nBengkulu<br \/>\nGendang Melayu<br \/>\nKepulauan Bangka Belitung<br \/>\nGendang Panjang<br \/>\nRiau<br \/>\nGendang<br \/>\nBanten<br \/>\nTuma<br \/>\nKalimantan Barat<br \/>\nGanda<br \/>\nSulawesi Tengah<br \/>\nGanda<br \/>\nGorontalo<br \/>\nNafiri<br \/>\nMaluku<br \/>\nTifa<br \/>\nPapua<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jenis Musik Nusantara Musik Nusantara adalah musik yang berkembang di seluruh wilayah kepulauan dan merupakan kebiasaan turun menurun yang masih dijalankan dalam masyarakat. Musik Nusantara tersebar hampir diseluruh pelosok negeri dan masing-masing daerah mempunyai ciri khas yang berbeda. Musik mempunyai fungsi yang sangat banyak, yaitu : 1. Sebagai media pendidikan Dalam proses belajar, musik sangat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":78,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-1128","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1128","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/78"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1128"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1128\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1453,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1128\/revisions\/1453"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1128"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1128"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/student-activity.binus.ac.id\/bdm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1128"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}