Ethics Has No Place in Business?

Apakah etika benar-benar tidak memiliki tempat dalam dunia bisnis? Sebelum mengetahuinya kita perlu memahami apa fokus utama sebuah bisnis bahkan kepada hal yang paling mendasar, apa tujuan melakukan kegiatan ekonomi. Menurut Riya B, dalam artikelnyatentang business objective, terdapat delapan hal penting dalam aktivitas bisnis, yaitu keuntungan, pertumbuhan, stabilitas, efisiensi, dan ketahanan. Dapat kita lihat, semuanya mengarah pada tujuan ekonomis yang terlihat hanya menguntungkan bisnis itu sendiri. Apakah hal itu salah? Tentu tidak. Kita semua yang menjalani bisnis pasti mengarapkan value yang sebesar-besarnya dan hal itu telah menjadi rahasia umum dalam dunia bisnis sejak dahulu. Namun, seiring dengan berkembangnya dunia bisnis di masa modern, muncul banyak pernyataan-pernyataan baru mengenai business objective. Perkembangan pemikiran ini didasari oleh dinamisnya kondisi masyarakat dunia mencangkup sosial, ekonomi, dan kondisi lingkungan hidup. Salah satunya adalah mengenai etika bisnis. Munculnya concern mengenai etika bisnis bukanlah tanpa sebab. Hal ini didasari oleh ditemukannya masalah-masalah kecil maupun besar, yang diakibatkan oleh aktivitas ekonomi masyarakat yang kurang memperhatikan sekitar. Mulai dari ketidak sejahteraan pekerja, eksploitasi sumber daya, hingga masalah lingkungan yang muncul akibat aktivitas produksi maupun distribusi. Kondisi ini mendorong masyarakat dan pemerintah untuk memaksa para para pelaku bisnis untuk mulai memperhatikan etika bisnis demi kestabilan dan kesejaheraan bersama. Lalu, apakah pernyataan “Ethics has No Place in Business” dapat dibenarkan?
James Kamwachale Khomba, and Frans N. S. Vermaak(2012), menyatakan bahwa moral dan etika yang tidak memihak sangat penting dan segala aktivitas kita haruslah mewakili nilai-nilai yang tertanam di masyarakat sehingga timbul kondisi yang positif antara lingkungan sosial dengan organisasi serta pemangku kepentingan.

Dari pertanyaan tersebut, kita dapat melihat bahwa bisnis perlu menyeimbangkan antara tujuan ekonomis dan tujuan sosial. Kita dapat mengharapkan revenue yang besar namun juga harus memperhatikan kualitas dari proses kita dalam mencapai target tersebut. Apakah kita sudah membayar karyawan dengan seharusnya? Apakah kita sudah memperhatikan legal aspect yang berlaku di negara kita? Apakah kita dapat
mengelola sisa-sisa aktivitas industri dengan baik tanpa menimbulkan masalah lingkungan? Itu adalah hal yang penting untuk dipertimbangkan oleh para pelaku bisnis. Selain itu, terdapat beberapa fakta yang membuktikan jika penerapan business ethics secara langusng maupun tidak dapat memberikan keuntungan bagi bisnis. Salah satunya adalah studi oleh David P. Baron, Maretno A. Harjoto, and Hoje Jo, yang dipublikasikan pada 21 april 2009 berjudul “The Economics and Politics of corporate social performance” menemukan sebuah kesimpulan bahwa ada hubungan positif antara penerapan CSR dengan performa finansial perusahaan-perusahaan.

DAFTAR PUSTAKA

Fooley, H, S., & Osula, B. 2012. Why Ethics Has No Place in 21st Century
Organizations: How Transparency and the Internet Have Sent Watchdogs to
the Pound. Journal of Strategic Leadership, Vol. 4 Iss.1, 2012, pp. 01-08
Riya, B. Objective of business: 8 Major of Objective in Business.
https://www.economicsdiscussion.net/business/objectives-o
Ahmed. M, & Manjunathaka, K. 2013. Pertinent Relationship of Unethical Practices
of Business on Company’s Credibility. Journal of Business and
Management. Volume 13, Issue 2. e-ISSN: 2278-487X.
Robin, R. 2015 Does Corporate Social Responsibility Increase Profits?. The
magazine of corporate responsibility. Does Corporate Social Responsibility
Increase Profits? | Business Ethics (business-ethics.com)
Baron, D., Agus Harjoto, M., & Jo, H. (2011). The Economics and Politics of
Corporate Social Performance. Business and Politics, 13(2), 1-46.
doi:10.2202/1469-3569.1374

Amalia Ibrahim
Divisi Public Relation Bekasi